Lompat ke isi

Jelajah Langkah/Pelajaran dari Taman Sekolah

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Pelajaran dari Taman Sekolah

[sunting]

Hari itu, aku mengajar kelas 3B pelajaran IPA dan materinya mengenai siklus kehidupan tumbuhan. Jujur, dari semua topik IPA, ini adalah salah satu yang paling sering membuat siswa menguap karena merasa bosan atau tidak tertarik. Hal ini membuatku merasa gagak sebagai guru, tapi jujur aku tidak ingin melihat mereka duduk diam hanya mendengarkan penjelasan.

Akhirnya aku memutuskan untuk pindak tempat dari kelas ke taman sekolah agar mereka dapat lkangsung melihat tumbuhan dan menghirup udara taman.

Serempak, anak-anak bersorak seperti baru menang undian. Mereka membawa buku catatan, pensil warna, dan semangat yang luar biasa besar.

Kami duduk melingkar di bawah pohon. Aku mulai menjelaskan sambil menunjuk langsung ke bunga, daun, dan semut-semut yang lewat. Lalu aku minta mereka mencari satu tanaman, mengamati, dan menggambar sambil menulis siklus hidupnya.

Di sanalah kejadian lucu sekaligus menyentuh terjadi.

Seorang siswa bernama Rian, anak yang biasanya agak cuek dan sering iseng, tiba-tiba datang sambil membawa tanaman liar kecil yang tumbuh di dekat selokan.

"Bu, ini tumbuhan liar, tapi dia kuat banget ya. Tumbuh walau dekat got. Berarti semua makhluk hidup itu bisa tumbuh walau tempatnya jelek, ya?" katanya sambil menatap serius.

Aku terdiam sejenak. Itu bukan kalimat dari buku pelajaran. Itu adalah hasil pemikiran anak 8 tahun yang baru saja belajar langsung dari alam. Aku tersenyum dan berkata, "Betul sekali, Rian. Sama seperti kamu. Kamu pun bisa tumbuh jadi anak hebat, walaupun kadang tempatmu belajar tidak selalu sempurna."

Hari itu, bukan hanya mereka yang belajar tentang kehidupan tumbuhan dan aku juga belajar tentang makna ketekunan, dari cara anak-anak melihat dunia dengan cara mereka sendiri.

Ketika bel pulang berbunyi, banyak dari mereka berkata,

"Bu, kapan kita belajar di taman lagi? Belajarnya enak banget, nggak kerasa kayak pelajaran!"

Dan aku pun tertawa kecil. Karena itu memang tujuanku untuk membuat mereka belajar tanpa merasa terpaksa.