Jenguk
Oleh Wine Ashfyasari
[sunting]Yogyakarta
Cerita pendek anak (Fiksi)
[sunting]Seperti biasanya, kegiatan rutin SDN 1 Garuda Bangsa mengadakan upacara pagi setiap hari Senin. Tentunya, pagi itu para guru dan juga murid yang bertugas pada pukul 07.15 mendatang menjadi lebih sibuk dari biasanya.
Dani, seorang murid yang pagi itu menjadi peserta upacara dengan jarak rumahnya yang hanya 200 meter dari sekolah tampak bersiap pergi ke sekolah dengan tergesa-gesa. “Dani, sarapan dulu nak” ujar ibunya sembari memasukkan bekal ke tas Dani.
“Ibu, dimana dasi dan topi upacaraku?” tanya Dani sembari mengobrak-abrik lemari pakaiannya
“Ada di balik pintu sayang. Sudah ibu bilang berkali-kali, jika Senin upacara, maka pada hari minggu malam persiapkan apa yang diperlukan. Kalau sudah begini, kamu yang repot sendiri” ujar ibu yang juga ikut tergesa-gesa membantu Dani.
Dani mengiyakan sambil mengunyah 3 potong roti cokelat dari meja makan, sudah tidak sempat lagi memakan nasi dengan lauk-pauk yang telah dimasak oleh ibu karena jam sudah menunjukkan pukul 06.55. Setidaknya membutuhkan waktu 10 menit dari rumahnya ke sekolah
“Ibu, Ayah, Devin, aku berangkat ke sekolah dulu” ujarnya sembari mencium tangan kedua orangtuanya dan berlari kecil karena takut terlambat.
Sesampainya Dani disekolah, ia lekas menuju barisan peserta upacara dan mengikutinya dengan tertib. Cuaca cerah saat itu, membuat para murid tentu ada yang kepanasan dan beberapa mundur karena merasa sakit. Upacara selesai dengan khidmat tanpa hambatan, pembubaran pun dilaksanakan dan para murid serta guru pun berhamburan keluar barisan menuju kelas masing-masing termasuk Dani yang kelasnya berada tepat dibelakang tiang bendera. Bruk... Terdengar suara benda jatuh diantara kerumunan siswa. “Dani…astaga! Dani pingsan Bu! Tolong!” teriak Lia, teman sekelas Dani sembari memegang tubuhnya memastikan bahwa Dani tidak terluka akibat benturan yang cukup keras. 30 menit kemudian, Dani tersadar dari pingsannya. Sudah ada P3K sekolah serta guru-guru yang turut membantu Dani siuman.
“Dani, kamu sudah sadar nak? Kamu kenapa?” tanya Bu Astuti selaku wali kelas Dani yang turut menunggunya hingga tersadar. “Dani, ini diminum dulu teh hangatnya Nak. Astaga, haduh kamu membuat kami khawatir” tambah Bu Ica, guru muda mata pelajaran kesenian yang hari itu bertugas sebagai P3K.
“Dani tadi sudah sarapan? Dani sarapan apa tadi pagi nak?” tanya Bu Astuti
“Saya sarapan 3 lembar roti coklat Bu, Dani terburu-buru tadi pagi sampai tidak sarapan nasi. Padahal ibu tadi sudah memasak” jelas Dani dengan suara lirih karena masih lemas.
“Coba ceritakan apa yang kamu rasa tadi sebelum pingsan Nak. Soalnya tadi Ibu lihat kamu baik-baik saja. Malah Ibu lihat kamu bermain kecil sewaktu upacara dengan Sean” tanya Bu Ica.
“Tadi Dani tiba-tiba merasa merinding sekujur tubuh Bu, Dani tidak bisa menggerakkan tangan dan kaki dan seketika pandangan menjadi gelap lalu bruk deh” jelas Dani sembari mengingat-ingat terakhir kali apa yang dia rasa sebelum jatuh pingsan.
“Yasudah, hari ini kamu tidak usah ikut belajar dulu ya. Ibu antarkan kamu pulang.” Ujar Bu Astuti yang kebetulan bertetangga dengan Dani
“Ayah sudah pasti berangkat kerja saat ini, Ibu jelas mengantar Devin ke Paud. Kalau Tante Anggi sudah tiba di rumah dari Banjarmasin, ya mungkin Tante Anggi yang berada di rumah” jelas Dani.
“Baiklah, ayo kita pulang naik motor Ibu” ajak Bu Astuti.
Sesampainya di rumah Dani, Bu Astuti disambut hangat oleh Tante Anggi yang dulu juga adalah muridnya yang beberapa saat lalu baru tiba di rumah Dani dari Banjarmasin. Tante Anggi panik melihat wajah pucat Dani yang sempoyongan berusaha turun dari motor. Tante Anggi lalu membawa Dani menuju ruang tamu sembari menidurkannya, sedangkan Bu Astuti menjelaskan kronologi yang terjadi pada Dani di sekolah. Setelah itu, Bu Astuti pamit pulang ke sekolah lagi karena masih harus mengajar. Tante Anggi pun mengantarkannya hingga ke gerbang rumah dan kembali masuk untuk menelpon Ibu Dani.
Tak lama kemudian, Ibu Dani beserta adiknya, Devin sampai dirumah dengan tergopoh-gopoh. “Dani, astaga anakku! Kenapa nak?!” tanya Ibu Dani panik sembari membuatkan bubur untuk Dani. Setelah mendengar kronologi kejadiannya dari Tante Anggi, Ibu Dani pun menyuruh Dani untuk ganti baju dan beristirahat saja di kamar.
“Dani…. Dani…. Permisi!” terdengar beberapa orang berteriak memanggil Dani dari arah luar gerbang rumahnya. “Silakan masuk!” jawab Ibu Dani dari arah ruang tamu yang sedang bermain dengan Devin.
“Oalah teman-teman Dani! Mari masuk Nak… Dani ada di kamarnya sedang beristirahat. Mari mari!” ucap Ibu Dani mempersilakan teman-teman Dani untuk masuk.
“Terima kasih Bu… Ohiya, ini tas Dani yang belum sempat di bawa Bu Astuti tadi ya Bu. Dan ini beberapa buah-buahan untuk Dani dari kami. Hehe” jelas Sean, teman sebangku Dani.
“Ya Tuhan, terima kasih anak-anak. Yuk sini masuk saja”
***
“Dani, bagaimana keadaanmu? Kami sudah dengar dari Bu Ica tadi, apakah sekarang sudah lebih baik?” Tanya Sean.
“Syukurlah, sekarang sudah lebih baik. Terima kasih Sean, terima kasih teman-teman sudah mengunjungiku di jam istirahat ini. Maaf aku membuat kalian khawatir” ucap Dani merasa sedikit menyesal dan malu karena merasa merepotkan teman-temannya.
“Sudahlah, yang penting sekarang kamu sudah baik-baik saja. Kami pamit dulu ya, sudah mau masuk pelajaran selanjutnya. Semoga lekas sembuh Dani” ucap Lucas, ketua kelas Dani.
Semuanya pun pergi, tak lupa teman-teman Dani berpamitan pada Ibu Dani seraya mengucapkan terima kasih karena telah diperbolehkan berkunjung. “Hati-hati dijalan Nak… terima kasih ya” ucap Ibu Dani sembari melambaikan tangan kepada mereka.
Tiga hari pun berlalu, Dani akhirnya sudah sehat total dan bisa pergi ke sekolah seperti biasa.
***
Selesai
Notes
[sunting]1. Cerita ini berdasarkan kisah nyata dari penulis, sedikit dipoles sehingga sedikit rapi tanpa mengurangi keaslian ceritanya. Dimana pada zaman sekarang sudah jarang sekali anak-anak menjenguk teman sekolahnya yang sedang sakit secara bersama-sama tanpa mempostingnya di sosial media. Meski dijenguk, pada era 4.0 ini segala hal diposting di berbagai media platform sehingga esensi dari “menjenguk” sendiri pun tidak lebih dari kebutuhan instastory.
2. Apabila ada kesamaan nama, tempat, lokasi serta kejadian, penulis memohon maaf sebesar-besarnya.