Lompat ke isi

Kata Ibu, Jadi Penulis itu Lelucon

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Seruni gundah dalam tidurnya, menggesekkan tubuh berulang kali ke tembok kusam  yang tidak akan pernah menawarkan kehangatan untuknya. Kaos sepaha biru laut  yang dia kenakan telah tersingkap, menampakkan sepasang buah dada dengan  puting yang mencuat seolah menantang udara yang mendesak dalam kamarnya.  Konon, seorang pria mengatakan bahwa putingnya adalah masalah tanpa solusi yang  akan menggeretnya ke api neraka penuh rasa bangga. Tapi, tunggu dulu, ini bukan  kisah pornografik ataupun permainan erotis-emosional.

Seruni tidak pernah menjadi penggemar setia namun dia akan mengakui terang terangan kepada Tuhan bahwa dia sangat menyukai erotisme. Dia akan menyerahkan  kembali semua bagian tubuhnya kepada Tuhan ketika dia mati, kecuali satu. Hanya  satu dan dia bersedia menjadi budak di bawah kaki Tuhan, menurut bak anjing di  bawah sayap malaikat, dan menyebarkan kebenaran di bawah sabda Rasul. Namun,  dia tidak akan menyerahkan tangannya yang menjadi saksi kisah-kisah yang  ditulisnya. Baginya, apa itu penulis tanpa sepasang tangan?

Seekor kucing mengeong tanpa rasa bersalah dan mengusik pelarian akan realitas.  Tenang saja, Seruni bukan seorang idealis yang bermimpi untuk menjadi politikus  meskipun teman-teman SMA nya menyebutnya begitu. 17 Tahun Seruni adalah  seorang remaja dengan gurunya yang berlabel ustadz dan ustadzah menjadikannya  sebagai pajangan. Keluarganya memedulikan angka berapa yang tertulis di rapor  ketimbang angka berapa yang menunjukkan berapa kali hatinya tergores.

Hanya karena bukan seorang idealis, bukan berarti dia adalah gadis yang realistis.  Dia sangat jauh dari label realistis, yang saat ini dipamerkan oleh orang-orang sebagai  pembelaan akan habisnya daya imajinasi. Bagi Seruni, dilabeli realistis sama tidak  bergunanya dengan dilabeli idealis, hanya membawa penderitaan yang bertubi-tubi.

Menit-menit dalam kehidupannya diwarnai dengan keyakinan bahwa semakin banyak  hal yang ia kerjakan, maka semakin berharganya dia dalam kehidupan. Tapi  berengsek, sejak kapan kurang tidur jadi hal yang bisa menyelamatkan dia dari  ketidakberdayaan. Sebab mereka yang memamerkan betapa lelahnya mata dan  pikiran untuk begadang hanya orang-orang yang butuh pengakuan dan kebenaran.  Sayang sekali, bagaimana mereka bisa menikmati pengakuan orang lain ketika tubuh  mereka sendiri tidak memberikan pengakuan?

Andai jika dia masih berkutat dengan tumpukan buku berjudul kebijaksanaan, maka  dia akan menuliskan “BERHENTI BEGADANG” sebagai moto di tugas akhirnya.  Hanya saja, apa gunanya berandai-andai? Dia bukan lagi seorang mahasiswa di  univesitas yang konon jadi antek pemerintah. Seruni, kini, hanya satu dari sekian  bunga seruni yang dipasarkan di toko-toko terdekat. Benar sekali, kini dia hanya  produk yang dijual untuk mengisi perut.

Seruni masih menutup matanya dengan pembelaan bahwa dia berhak mendapatkan  beberapa jam lagi untuk tidur. Sejak RumahWeb mengalami kebakaran, Seruni

menjadi setengah pengangguran. Atau sebenarnya dia hanya menganggurkan diri  saja? Konon, kata orang di ujung sana, pengangguran itu tanda kemalasan.

Ngomong-ngomong tentang malas, suatu hari ketika dia sedang menatap hamparan  sawah di samping rumahnya, ibunya datang mendekat dan duduk di sampingnya.  Setelah sekian lama berdiam diri, Seruni pun membuka pembicaraan.

“Seruni sudah sidang. Artinya, Seruni sudah selesai skripsi. Tinggal wisuda,” ucap  Seruni dengan jelas kepada ibunya.

Ibunya masih tidak bersuara seolah berusaha untuk melakukan apa yang selalu  dilakukannya selama ini. Memahami, itulah yang selalu dilakukan oleh ibunya.  

Banyak orang tidak tahu, bahwa pemahaman hanya menjadi pemahaman ketika  mereka yang dipahami bisa merasakan pemahaman tersebut. Sejak kecil, Seruni  sudah tahu bahwa ibunya tidak akan pernah memahaminya. Namun layaknya  seorang anak, dia selalu mendamba akan pemahaman yang mungkin suatu hari nanti  akan diberikan oleh ibunya.  

“Cari kerja di sana saja. Jangan balik ke rumah, nanti malah malas-malasan dan tidak  bekerja seperti sepupumu”, jawab ibunya setelah sekian lama.

Kalimat tersebut selalu dia ingat hingga ketika hari Kamis kelam di bulan Desember,  ibunya kembali bersuara.  

“Cari pekerjaan yang lain,” ucap ibunya melalui teknologi vidcall Whatsapp yang  membosankan.

Akhirnya setelah berulang kali menanyakan tentang apa pekerjaan Seruni selama ini, ibunya mengucapkan sebuah titah layaknya seorang ratu. Namun ibunya bukanlah  seorang ratu, dialah yang seorang ratu. Seruni akan menjadi seorang ratu dan  memiliki singgasananya sendiri.

Meskipun begitu, kalimat itu sudah bersemayam dalam pikirannya layaknya seorang  mayat. Menghantui dan menelusup seenaknya saja dalam tidurnya. Kali ini, dia  bertemu dengan editor di penerbit kecil tempat dia magang dan dia mendapatkan  pemahaman yang menggelisahkan. Sulit untuk menjadi orang kaya jika menjadi  seorang penulis. Menjadi seorang penulis tidak akan memberikan jaminan seperti  yang diberikan kepada para antek negara. Bahkan bisa saja dia terjebak jeruji atas  apa yang dia tulis.

Seruni tersadarkan dari tidurnya, membenahi kaosnya, dan merapikan kamarnya  seperti biasa. Tidak ada pekerjaan yang menantinya pagi ini. Semua sudah ditelan  habis selama demi mengelak dari betapa perkataan ibunya mengusik pikiran. Dia  menyeduh teh rasa vanila dan memasangkannya dengan roti lapis berisi daun selada  dan saos salad untuk sarapan. Tangan kanannya membuka sebuah lembaran baru di  buku berjuduk The Red-Haired Woman karya Orhan Pamuk. Hingga beberapa frasa  kata menusuk matanya,

Ibu dan aku menjadi dekat meskipun tetap saja Ibu menganggap keputusanku untuk  menjadi penulis sebagai lelucon.

Pecahan kaca seolah kembali utuh dalam memori Seruni dan perkataan ibunya  kembali terngiang, kali ini dengan lidah yang lebih tajam.

Cari pekerjaan yang lain. Jadi penulis itu lelucon.