Kebebasan Milik Penguasa
Saat itu Agustus. Agustus yang meriah. Orang-orang bersukacita. Puncaknya pada tanggal tujuh belas. Dua hari sebelum itu, aku ingat di hari Minggu. Beregu-regu dan berbaris-baris rapi dengan pakaian sedemikian rupa orang-orang lewat depan rumah. Kebetulan di depan rumah jalan raya yang aspalnya di sana-sini bolong. Kalau musim penghujan datang, beceknya tidak karuan. Sepatunya dihentak-hentakkan. Rambutnya diikat pita merah putih. Satu orang di sebelah kanan berbaris sendirian sambil memainkan peluit. Sesekali mengomandoi teman-temannya yang berbaris rapi yang terdiri dari dua barisan.
Kemudian tanggal tujuh belas. Pagi-pagi buta terdengar suara pengeras dari kantor kecamatan. Lokasinya tidak jauh dari rumah. Aku bisa melihat orang-orang berjalan kaki ke sumber suara. Ada juga yang pakai motor. Dari anak-anak dengan rok atau celana merah sampai ke Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak berpakaian dinas.
Hari itu harinya Indonesia. Bapak Presiden akan sibuk dari jauh-jauh hari mempersiapkan peringatan Kemerdekaan Indonesia. Begitu tujuh belas Agustus tiba, terpampang kemeriahan peringatannya ditayangkan di televisi-televisi. Ya, harinya Indonesia bukan hari biasa. Hari Kemerdekaan. Hari bebasnya Indonesia dari belenggu penjajah.
“Tapi apakah betul Indonesia sudah terbebas dari belenggu itu?” Kadang-kadang pertanyaan itu suka muncul di kepalaku.
Terkadang ketika aku tanpa sengaja melihat berita di televisi atau melalui media massa seperti berita tentang seorang Nenek yang hanya memetik tiga buah kakao di perkebunan milik salah satu perusahaan swasta, Nenek itu malah dipidanakan. Sedihnya lagi sampai diketuk palu hukuman. Atau berita yang lalu-lalu? Ada banyak berita yang bikin geleng-geleng kepala karena tidak ada keadilan di dalamnya.
Lalu, ada yang duduk di bangku ketika sebagian lainnya duduk di lantai beralaskan tikar. Ada yang duduk di lantai beralaskan tikar ketika sebagian kecil lainnya duduk di lantai tanpa alas. Ada yang duduk di lantai tanpa alas ketika sebagian besar lainnya duduk di tanah.
Mereka yang duduk di bangku bilang kalau mereka adalah wakil rakyat. Setiap lima tahun sekali bangku itu diperebutkan. Saat itu, siapkan camilanmu dan lihatlah mereka bisa menjadi apa saja. Tapi kita punya tugas memilih. Kita harus betul-betul jeli.
Saat aku menulis tulisan ini, sudah tahun dua ribu dua tiga di bulan Januari. Tahun dua ribu dua empat pemilihan umum akan dilaksanakan lagi. Baru-baru ini ada banyak hal terjadi. Topeng-topeng banyak terbuka tapi tak sedikit juga yang dipasang.
Kata orang kebebasan itu milik penguasa. Beberapa tahun ini aku bisa melihat itu.
Dan kembali ke pertanyaanku, “Apakah kita sudah benar-benar bebas dari belenggu itu? Apa kita sudah benar-benar menikmati kebebasan itu?”