Kelemahan Manusia

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Kelemahan manusia

Manusia itu begitu lemah ya? Begitu mudah diombang-ambingkan takdir. Yang tadinya sehat, bisa saja mendadak sakit, bahkan meninggal. Yang tadinya berkuasa, tiba-tiba terguling dan terhinakan. Yang tadinya kaya, bisa saja mendadak bangkrut dan jatuh miskin. Yang tadinya berilmu, mendadak lupa dan kehilangan ilmunya. Yang tadinya beriman, bisa kemudian jadi kufur dan ingkar. Semuanya mungkin saja terjadi, tidak ada jaminan, bahwa yang kita lihat baik-baik saja, segala sesuatu akan berubah, begitu saja.

Makanya kita senantiasa dianjurkan untuk berdoa. Ya muqollibal qulub, tsabit qolbi 'ala diinik. Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku dalam agama-Mu.

Tidak ada yang bisa terlepas dari takdir-Nya. Bahkan nabi sekalipun. Orang yang terlihat paling beriman dan bertakwa sekalipun.

Makanya jangan main-main dengan urusan kehidupan ini. Jangan menyombongkan diri seolah bisa menyelesaikan segala masalah. Butuh kerendahan hati dan kejernihan dalam berpikir dan bertindak.

Ada paradoks, semakin kita berusaha untuk urusan dunia, semakin terjebak kita di dalamnya. Semakin kita pasrah, maka urusan dunia yang akan menghambakan diri kepada kita. Jangan ambil dunia berlebih-lebihan dan melebihi takaran. Secukupnya saja, dan lebih berpikir tentang apa yang bisa kita sumbangkan atau sedekahkan.

Hidup ini singkat. Buat yang terbaik yang bisa kita lakukan. Kurangi mengeluh, perbanyak bersabar. Lebih bisa menerima, ketimbang banyak protes dan mempertanyakan, kenapa hidupku seperti ini, kenapa nasibku seperti ini. Berhenti berpikir negatif, sambut hari baru dengan penuh semangat. Meski tidak segala sesuatu hal sesuai dengan kehendak kita, tapi yakinilah bahwa kehendak Allah adalah yang terbaik.