Kilau di Mesjid 99 Kubah/Embun Tertinggal
Semilir angin berembus membuatku teringat akan sosok perempuan. Benar dia perempuan jika dilihat dari ciri fisiknya, berambut panjang hitam legam nan aroma yang tak mampu kudeskripsikan dalam kata-kata. Jika memang harus dikatakan manusia, ia tak memiliki satu ciri khas istimewa sosok makhluk ciptaan Tuhan yaitu emosi. Akan kukisahkan dalam beberapa kata demi kalimat menyambung baris demi baris hingga beberapa paragraf tercipta sebagai media menyimpan, mengenang sosok perempuan ini.
Lima belas menit usai salat subuh di masjid 99 kubah Makassar, aku lengkap dengan tas yang memuat perlengkapan untuk menangkap sebuah gambar atau setidaknya inspirasi bekal lomba komunitas fotografer yang diikuti oleh seluruh insan yang memiliki bakat membidik objek. Baru saja aku melangkah tak jauh dari masjid, tiba-tiba saja angin begitu kuat menampar wajah sehingga mata pun sulit untuk terbuka. Setelah angin yang entah berantah darimana itu usai, satu objek menjadi pusat perhatian. Ada apa dengannya? pikirku pertama kali menatapnya dengan tatapan heran. Siapa saja yang melihatnya pasti berpikiran sama, hanya saja orang-orang pun sepertinya tak berpusat padanya. Saat itu aku tak tau mengapa seolah terhipnotis, menghampirinya yang sedang duduk menghadap ke arah laut. Apa yang aneh darinya? Baju yang ia gunakan hanya kaus dan celana pendek sehingga memperlihatkan kaki jenjangnya. Aku dengan tenang berdekatan dengannya, kehadiran diri ini pun tak tergubris olehnya. "Suka liat laut?" tanyaku asal sekalian membuka percakapan yang tak kusangka akan kudengar. Perempuan itu tidak menoleh, fokusnya tetap pada laut. "Laut ini tak akan seluas dan seindah ini." ia menjawab dengan suara bergetar seolah ada gambaran ketakutan di raut wajahnya. Kupikir orang di sampingku ini sepertinya buka perempuan biasa, atau kusebut saja dia gila dengan lanjutan ucapannya. "Makassar tidak akan seperti ini lagi. Tak akan ada keindahan seperti ini lagi." Sungguh aku tak paham alur percakapan ini, "Apa kau dari masa depan?" tanyaku asal tanpa berpikir jawaban serius itu menguap begitu saja.
"Cukup perhatikan tanah ini akan hancur oleh pribumi. Tidak sekarang, bertahap tapi pasti kehancuran manusia terjadi."
Setelah itu tanpa ada angin badai yang membuka pertemuan antara aku dan sosok perempuan itu selesai dengan munculnya kabut. Aku tak sempat bertanya, siapa namanya, namun kusebut saja ia embun tertinggal. Apa yang tertinggal adalah alasan-alasan aneh jika sosok itu benar dari masa depan.