Kilau di Mesjid 99 Kubah/Kesejukan Di Pintu Kubah
Suara tangis anak kecil membangunkan seorang lelaki yang tertidur lelap di sampingnya. Namanya Suparman. Lelaki yang berumur awal tiga puluhan. Lelaki itu tinggal bersama putra semata wayangnya yang berumur 2 tahun. Sehari-hari, lelaki itu berprofesi sebagai tukang ojek online. Istrinya bernama Rani telah meninggalkannya untuk selamanya saat melahirkan anaknya. Suparman tinggal di pinggiran ibukota bersama ibunya yang sudah sepuh.
Di rumah itu, juga tinggal 3 orang keponakan yang ditinggalkan oleh kakak perempuannya yang bekerja di luar negeri sebagai TKW. Kakak perempuannya adalah seorang janda yang ditinggal menikah oleh suaminya. Pekerjaan sebagai tukang ojek online adalah pekerjaan utama Suparman untuk menghidupi anak, ibu dan 3 keponakannya. Kakak perempuannya, kadang mengirimkan uang, kadang juga tidak ada kabar selama berbulan-bulan.
Suparman dulunya bekerja di sebuah perusahaan swasta, sebagai buruh pabrik perusahaan air minum. Namun, 6 bulan lalu mengalami dampak PHK. Dengan modal ijazah Sekolah Menengah Atas pekerjaan sebagai tukang ojek online lah yang menjadi pilihannya.
Suara Azan menyadarkan Suparman dari lamunannya. Siang itu, Suparman terlihat sangat kelelahan. Padahal, belum ada juga penumpang yang menggunakan jasanya. Selain kebutuhan putra dan keponakannya, penyakit gula ibunya juga bertambah parah. Suara Azan juga menyejukkan perasaan Suparman. Dia membelokkan motornya menuju masjid 99 kubah yang berada tidak jauh dari masjid tersebut.