Kilau di Mesjid 99 Kubah/Langkah Terakhir Sang Musafir
Langit Makassar petang itu menguning keemasan, seolah bumi sedang dilukis ulang oleh tangan Tuhan yang lembut. Dari kejauhan, seorang lelaki berjalan perlahan di sepanjang tepian Pantai Losari. Ia bukan siapa-siapa—tak memiliki rumah tetap, tak memiliki harta yang bisa diandalkan, dan tak membawa apa pun selain tas gendong tua, sepasang sendal jepit, dan buku catatan kecil yang telah usang. Orang-orang menyebutnya Musafir, sebab tak ada yang tahu siapa namanya, dari mana asalnya, atau ke mana ia akan pergi.
Ia berjalan bukan untuk mencari tempat tinggal, tapi ketenangan. Ia bukan pelancong biasa, melainkan seorang pencari. Mencari makna, mencari petunjuk, mencari titik temu antara dirinya dan Sang Pemilik Semesta.
Sore itu, langkahnya membawanya pada sebuah bangunan yang membuatnya terhenti. Tepat di hadapannya berdiri megah sebuah masjid—bukan sembarang masjid. Kubah-kubahnya berderet bagai puncak-puncak doa yang menjulang ke langit. Masjid 99 Kubah, begitu orang menyebutnya. Warnanya oranye kemerahan, dihiasi motif Islamik dan simetris yang menggambarkan keagungan Tuhan melalui arsitektur. Tak satu pun bagian dari bangunan itu biasa. Semua terasa seperti kisah yang dijahit dari mimpi dan iman.
Musafir mengangkat kedua tangannya ke langit, menatap kubah-kubah itu dan bergumam lirih, “Apakah ini tempatku berlabuh malam ini, ya Rabb?”
Angin senja mengayunkan jubahnya. Ia melangkah masuk ke pelataran masjid. Azan magrib baru saja berkumandang, menggema dari pengeras suara dengan lantunan yang begitu syahdu, seolah menjawab keraguan hatinya. Seorang marbot tua yang sedang menyapu lantai masjid menyapanya ramah.
“Baru sampai, Nak?”
Musafir hanya tersenyum. “Ya, dan saya rasa saya belum tahu apakah saya sudah sampai… atau masih mencari.”
Marbot mengangguk paham, lalu menunjuk tempat wudu. “Bersihkan dulu dirimu. Kemudian masuklah, salat. Malam ini engkau boleh beristirahat di dalam. Masjid ini besar, hatinya pun luas.”
Setelah mengambil wudu, Musafir masuk ke dalam dan ikut berjamaah. Suara imam yang melantunkan surah Ar-Rahman terdengar bagai dentingan air di tengah dahaga. Ayat demi ayat menghunjam ke dalam dada, terutama ketika sang imam berulang-ulang melantunkan: “Fa bi ayyi aalaaa’i rabbikumaa tukazzibaan?”—Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Air mata Musafir mengalir perlahan. Ia menunduk khusyuk, bukan karena paksaan, tetapi karena sebuah rasa yang mengalahkan letihnya perjalanan. Malam itu, ia tak segera tidur. Ia duduk bersila di saf belakang, membuka buku catatannya dan mulai menulis:
“Di masjid ini, setiap kubah seakan menyebut nama-nama Allah. Tidak dengan suara, tetapi dengan keindahannya. Aku merasa seperti sedang dipeluk oleh langit. Mungkin inilah tempatku bermalam. Atau... mungkin tempatku menetap?”
Ia menutup catatan, lalu berbaring bersandar di dinding masjid. Cahaya lampu menggantung lembut dari langit-langit, menciptakan suasana yang sunyi dan damai. Ia memejamkan mata dan mendengar suara angin yang berhembus dari arah laut. Bukan hanya tubuhnya yang beristirahat malam itu—jiwanya juga.