Lompat ke isi

Kilau di Mesjid 99 Kubah/Lebih Dari Sekedar Transaksi

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar terbit, aku sudah mendorong gerobak kecilku dari rumah kontrakan yang hanya berjarak 1,5 kilometer dari  Masjid 99 Kubah di kawasan Center Point of Indonesia, Makassar. Gerobak itu bukan sembarang gerobak, ia adalah saksi bisu dari perjalanan hidupku selama hampir 7 tahun terakhir. Di sanalah aku berjualan es kelapa muda, pisang epe, dan jagung bakar untuk wisatawan yang datang.

Pagi ini, angin laut bertiup agak kencang. Langit cerah, tapi udara terasa lebih dingin dari biasanya. Aku sampai di pinggir pelataran masjid sekitar pukul 7 pagi. Suara azan Subuh masih terngiang dari masjid, seolah menjadi salam pembuka untukku memulai hari.

Kursi plastik kulipat, meja lipat kubuka, lalu kuatur botol sirup gula merah dan kelapa muda di atas meja. Aku tahu, pagi-pagi begini hampir tak ada wisatawan. Kebanyakan baru datang menjelang siang atau sore. Tapi aku sengaja datang lebih awal, karena aku ingin menikmati waktu tenang di antara deru ombak dan kemegahan kubah-kubah masjid.

“Sepi lagi…” gumamku pelan, sambil memandang pelataran yang masih lengang.

Pagi seperti ini biasanya hanya ditemani beberapa warga lokal yang jogging. Mereka jarang mampir untuk membeli. Sesekali ada yang menyapa, “Pagi, Pak Andi.” Aku balas dengan senyum, meskipun dalam hati, aku sedang menghitung berapa rupiah yang akan kudapat hari ini. Sepi bukan hal baru bagiku. Musim liburan belum tiba, dan itu berarti aku harus lebih sabar. Di saat seperti ini, aku hanya bisa mengandalkan doa dan semangat untuk terus bertahan.

Menjelang siang, matahari mulai naik dan suasana sedikit lebih ramai. Beberapa rombongan wisatawan datang. Ada yang sibuk berfoto dengan latar masjid megah itu, ada yang duduk di tangga sambil menikmati angin laut. Siang itu, sepasang wisatawan muda dari luar kota menghampiri lapakku. Mereka terlihat antusias, mungkin baru pertama kali ke sini.

“Pak, kelapanya berapa?” tanya si lelaki, sambil memandang deretan kelapa muda di gerobak.

“Sepuluh ribu, Nak. Mau yang dingin atau biasa?” jawabku sambil tersenyum.

“Mau yang dingin, dua ya, Pak. Sama jagung bakarnya satu,” jawab si perempuan.

Aku mulai memotong kelapa, mengucurkan airnya ke gelas plastik besar, lalu memberinya sedikit sirup gula merah. Sambil bekerja, aku mendengar mereka bercerita bahwa mereka datang dari Jawa, khusus untuk berlibur ke Makassar. Mereka memuji indahnya masjid dan ramahnya orang-orang di sini. Ketika mereka hendak membayar, lelaki itu menyerahkan uang seratus ribu. “Ambil saja kembaliannya, Pak. Buat tambahan,” katanya tulus.

Aku tertegun sejenak. “Terima kasih banyak, Nak. Semoga rezeki kalian lancar,” ucapku. Hatiku hangat. Bukan soal uangnya saja, tapi rasa dihargai dan didukung oleh orang yang bahkan baru saja kutemui.

Siang itu, aku merasa beruntung. Kadang, kebahagiaan datang dari tempat yang tak disangka-sangka. Satu senyum tulus atau satu kalimat baik hati dari orang asing bisa menghapus rasa lelah berhari-hari.

Hari Minggu selalu menjadi hari yang kutunggu-tunggu. Kawasan Masjid 99 Kubah berubah menjadi lautan manusia. Wisatawan lokal dan luar kota berbondong-bondong datang. Ada yang membawa keluarga besar, ada yang datang rombongan bus wisata, bahkan kadang ada rombongan anak sekolah yang sedang study tour.

Hari itu, sejak pukul 10 pagi, pembeli tak henti-hentinya datang. Aku kewalahan melayani, sampai keringat mengalir di pelipis meski angin laut berhembus kencang.

“Pak, jagungnya tiga ya!” teriak seorang bapak.

“Kelapa mudanya satu, Pak!” sambung ibu-ibu di belakangnya.

Tanganku bekerja cepat. Memotong kelapa, membakar jagung, menabur bumbu, menyerahkan pesanan. Di antara keramaian itu, aku merasa hidup kembali. Lelah? Tentu saja. Tapi aku tahu, inilah momen yang menghidupkan harapan.

Anak-anak berlari-lari sambil memegang jagung bakar, orang tua duduk sambil menyeruput air kelapa, dan suasana pelataran masjid penuh tawa dan obrolan riang. Hari seperti ini bisa menghasilkan uang cukup banyak untuk menutup kebutuhan selama beberapa hari ke depan. Namun aku tahu, keramaian seperti ini tidak setiap hari datang. Ia seperti tamu istimewa yang hanya mampir sesekali.

Tak semua hari indah. Ada kalanya langit kelabu, angin membawa aroma hujan, dan gerimis mulai menitik di pelataran masjid. Hari itu, aku sudah merasa firasat buruk sejak pagi. Langit dari arah laut terlihat berat dan gelap. Benar saja, sekitar pukul 2 siang, hujan deras mengguyur. Wisatawan yang tadinya duduk santai langsung bubar mencari tempat berteduh. Beberapa berlari ke mobil, yang lain berdesakan di teras masjid.

Aku mencoba menyelamatkan barang daganganku. Menutup kelapa muda dengan terpal, memindahkan jagung bakar ke tempat yang agak kering. Tapi angin begitu kencang, membuat air hujan tetap masuk. Basah kuyup, aku berdiri di samping gerobak sambil menunggu hujan reda.

Pembeli? Hampir tidak ada. Orang lebih memilih berteduh dan menunggu hujan berhenti. Hari itu, aku hanya menjual 3 kelapa muda dan 2 jagung bakar. Sisanya kubawa pulang, sebagian kubagi ke tetangga, sisanya kuberi ke anak-anak di sekitar rumah.

Meski kecewa, aku mencoba menghibur diri. “Rezeki sudah diatur. Besok mungkin lebih baik,” pikirku. Di tengah hujan, aku menatap 99 kubah masjid yang kokoh berdiri, seolah memberi pesan bahwa keteguhan hati adalah kunci bertahan.

Malamnya, setelah semua pekerjaan selesai, aku duduk di teras rumah kontrakan sambil menyeruput teh panas. Aku memikirkan perjalanan hidupku sebagai penjual di kawasan wisata ini. Ada hari-hari ketika aku pulang dengan kantong tebal, ada pula hari-hari ketika aku harus menghitung uang receh untuk membeli beras.

Namun, di balik semua itu, aku merasa beruntung. Aku punya tempat yang indah untuk mencari nafkah. Aku bertemu banyak orang dari berbagai daerah, bahkan mancanegara. Aku mendapat cerita, senyum, dan kadang, secuil kebaikan yang menguatkan semangatku. Aku sadar, hidup memang seperti roda. Ada saatnya di atas, ada saatnya di bawah. Tapi selama aku masih bisa mendorong gerobak ini ke pelataran Masjid 99 Kubah setiap pagi, aku tahu aku belum kalah.

Besok, aku akan kembali lagi. Menata meja, mengupas kelapa, membakar jagung, dan menunggu siapa pun yang Tuhan kirimkan kepadaku. Entah itu pembeli biasa, wisatawan ramah, atau mungkin seseorang yang hanya ingin berbagi cerita sambil menyeruput air kelapa muda. Selama 99 kubah itu masih berdiri, selama ombak laut masih berdebur di tepi pelataran, aku akan tetap di sini menjajakan bukan hanya makanan dan minuman, tapi juga senyum dan harapan.