Kilau di Mesjid 99 Kubah/Perulangan Dalam Pulang
Kedua tali sepatu telah terpasang dengan sempurna. Hela napas yang cukup berat terdengar sebelum akhirnya berdiri dengan berat. Kembali, hari-hari telah terulang di akhiri dalam pulang yang disandarkan dibawah kubah. Langkah demi langkah dalam jalur yang sama seperti kemarin. Pemandangan yang sama, suara yang sama, hembusan angin yang sama, warna langit yang juga tak berubah, dan tentunya perasaan yang sama. Riuh tengah kota tak ada bedanya dengan riuh dalam kepala. Uniknya riuh itu terus berputar dalam ruang hampa yang lagi dan lagi terulang. Hari demi hari berlalu sama saja, dalam rutinitas yang sama, hanya bebannya saja yang berbeda. Setelah pulang, waktunya ia beristirahat dirumah.
Setelah tengah hari, Rami usai bersiap di kos-kosannya yang berjarak dua puluh lima menit dari tempat magangnya saat ini. Sebagai mahasiswa semester akhir, mengisi sisa sks dengan magang menjadi pilihan Rami saat ini. Mengendarai motor pribadi yang baru ia kuasai baru-baru ini dengan modal nekat menjadi rutinitas dalam kesehariannya. Tiap perjalanan menuju kantor, perasaan acak terus menghantui.
“Apakah hari ini akan berlalu baik-baik saja?”
Selama magang banyak hal baru yang terjadi hampir terjadi setiap harinya. Hal-hal yang tidak terduga, diluar rencana, dan cukup mengejutkan perasaan. Namun semua tetap harus dijalani dengan baik-baik saja dan berusaha dengan apa yang dimampukan. Butuh menghabiskan waktu hingga malam hari baru ia pamit dari rutinitasnya dan kembali pulang meski terus berulang. Bersinggah pada tempat bersandar yang sudah seharusnya.
Masjid 99 Kubah, siapa saja termsuk dirinya, mampu menundukkan kepala dan meluruhkan luka dunia di dalamnya. Tempat pulang yang menitik di tengah kota. menjadi magnet untuk meredamkan keriuhan dalam kepala. Sejuk yang menguar di setiap sudut masjid ikut merasuk dalam dada. Setelah pulang, membasuh wajah dengan doa yang telah dilangitkan, berbagai ritual penenang jiwa, jeda sejenak dalam pulang, saatnya beralih pada dunia fana yang terus berotasi pada waktunya.
Setelahnya hela napas kembali terdengar, pada naungan senja di beranda masjid. Hidup memanglah berjalan seperti itu, berulang lalu pada akhirnya pulang. Berat ringannyaa hari bukanlah alasan kapan harus pulang. Semua akan berlalu dengan baik-baik saja.