Lompat ke isi

Kimia dalam Upacara Adat : Mengenal Senyawa dalam Sesajen

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Banyuwangi dan Adat

[sunting]

Banyuwangi dengan masyarakatnya yang bernama Suku Osing, tidak hanya terkenal dengan julukannya sebagai The Sunrise of Java melainkan juga terkenal sebagai daerah yang kental akan budaya dan upacara adat. Ada begitu banyak budaya dan upacara adat yang masih dilakukan setiap tahunnya hingga hari ini, tak heran jika hal ini juga mengundang perhatian banyak orang untuk berkunjung ke Banyuwangi. Beberapa budaya dan upacara adat yang terkenal diantaranya  adalah Seblang, Gandrung, Kebo-keboan, Barong Ider Bumi dan Petik Laut.

Bagi sebagian orang pelaksanaan upacara adat ataupun budaya sering dianggap sebagai bagian dari dunia spiritual dan tak jarang juga dianggap mistis atau menakutkan. Hal ini dikarenakan dalam pelaksanaanya banyak sekali menggunakan sesajen, mulai dari bunga, dupa, makanan, minuman atau persembahan lainnya. Bahan-bahan ini digunakan secara turun menurun, berdasarkan hasil pengamatan alam dan pengalaman meramu masyarakat zaman itu. Fenomena yang dianggap mistis ini dikarenakan keterbatasan ilmu pada masa itu. Hari ini, dengan kemajuan ilmu pengetahuan penggunaan bahan-bahan tersebut bisa dijelaskan melalui sains dengan pendekatan kimia

Kimia dan Senyawa

[sunting]

Kimia merupakan ilmu yang mempelajari mengenai materi (komposisi, sifat, struktur, interaksi dan perubahannya). Ilmu kimia banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari meliputi fenomena alam, bahan pangan, organik, anorganik, lingkungan, medis dan industri. Pembahasan ilmu kimia dalam kehidupan, seringkali dimulai dengan mengenal nama senyawa yang terkandung dalam bahan tersebut. Senyawa dapat diartikan sebagai zat yang tersusun dari dua atau lebih unsur yang bergabung secara kimia. Ikatan kimia ini yang menjadikan setiap senyawa memiliki sifat yang berbeda dengan unsurnya dan memilki fungsi atau kegunaan berbeda. Pemahaman mengenai kimia dan senyawa yang baik dapat memberikan penjelasan kepada masyarakat mengenai alasan penggunaan sesajen dalam upacara adat dan budaya di Banyuwangi.

Kimia dalam Sesajen

[sunting]

Sesajen atau sesaji merupakan bahan pelengkap yang digunakan dalam upacara adat atau budaya. Masyarakat meyakini bahwa sesaji berfungsi sebagai media penghubung antara manusia dengan leluhur atau roh. Ada banyak macam sesaji yang biasanya digunakan oleh masyarakat Osing dalam upacara adat, diantaranya adalah sesaji buangan, sesaji cawisan, sesaji peras dan parabungkil. Dalam praktiknya, ada beberapa bahan yang sering ditemukan seperti dupa, bunga tiga warna dan campuran pinang, gambir dan kapur sirih. Bahan-bahan ini tidak hanya memiliki makna simbolik yang sangat kuat, tetapi dari segi kimia, setiap komposisi senyawa yang ada di dalam bahan tersebut berperan dalam mendukung suasana atau kenyamanan pelaksanaan upacara adat.

Bunga tiga warna, sesajen bunga yang selalu digunakan. Bunga ini terdiri atas bunga melati, bunga mawar dan bunga kenanga. Ketiga bunga memiliki senyawa kimia yang sifatnya volatif. Bunga melati memiliki komponen lynalol dan benzyl alkohol (alkohol (-OH)), benzyl asetat (-COOH), metil salisilat (-COOH dan –OH) dan cis-jasmine. Senyawa ini dapat memberikan efek menenangkan, menyegarkan dan merelaksasi. Farnesol yang termasuk dalam gugus fungsi alkohol pada bunga kenanga akan memberikan efek positif pada suasana hati dan relaksasi. Tak heran, jika sajen Bungan selalu digunakan dalam setiap upacara adat.

Jenis sajen terakhir yaitu kinangan, biasanya terdiri dari daun sirih, pinang, kapur dan gambir. Berdasarkan kepercayaan setempat, makna dari sajen ini adalah sebagai persembahan kepada leluhur yang dipercaya menjaga desa. Tetapi, jika dilihat berdasarkan ilmu kimia, sajen kinangan memiliki kegunaan yang lain. Senyawa kimia yang terkandung dalam sajen kinangan diantaranya yaitu fenol (-OH), flavonoid (-OH), alkaloid, saponin dan tanin. Gugus fungsi alkohol memiliki sifat antibakteri dan insektisida alami, bisa saja kegunaan sajen tersebut untuk mengusir insketa atau bakteri disekitar area yang dilakukan upacara adat.

Profil Penulis

[sunting]

Ika Herta Suryaningsih adalah Lulusan Kimia dari salah satu Universitas di Jawa Timur. Baru memulai menulis setelah melewati bertahun-tahun hanya dengan membaca. Melalui kontribusi kecil di Wikibuku, saya berharap dapat berbagi pengetahuan, menambah wawasan dan melatih kemampuan menulis. Semoga tulisan ini memberikan manfaat bagi pembaca.

Referensi

[sunting]

Febriyanto, Hendra dan Ruston Kumaini. 2018. Ensiklopedia Keanekaragaman Tanaman Bahan Upacara Adat Masyarakat Kabupaten Banyuwangi (Kajian Etnobotani dan Filosofis). Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Masyarakat.

Ferwirani, Ananda Putrid dan Noordiana. 2023. Kajian Nilai Budaya dalam Ritual Adat Seblang Olehsari di Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi. APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan. 11(1).

Harwanto, Dwi, Sherwin, R. U. A. Sompie, Virginia Tulenan. 2019. Aplikasi Game Eduasi Pengenalan Unsur dan Senyawa Kimia. Jurnal Teknik Informatika. Vol 14 (1).

Yuliana, Besse, Andi Makkulawi dan Annisa Ramadhani Amal. 2023. Formulasi dan Uji Kestabilan Fisik Lilin Aromaterapi Minyak Atsiri Bunga Melati (Jasminum sambac L). Journal Syifa Sciences and Clinical Research (JSSCR).