Lompat ke isi

Kompas Pohon Karet

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Premis

[sunting]

Suatu pagi, Bayu ikut Kakek ke kebun karet. Di sana dia melihat seekor tupai dan mengejarnya.Tak terasa Bayu masuk terlalu jauh ke dalam perkebunan karet. Ia tersesat dan tidak tahu jalan untuk kembali. Dia mengamati pohon-pohon karet, lalu teringat buku yang pernah dibacanya. Berkat isi buku tersebut, Bayu dapat menemukan jalan pulang.

Lakon

[sunting]
  1. Bayu
  2. Kakek

Lokasi

[sunting]

Desa Buak Limbang, Kalimantan Barat.

Ceria Pendek

[sunting]

"Yang ini tentu saja tidak boleh ketinggalan,” ucap Bayu, anak laki-laki berusia 10 tahun yang tengah sibuk memasukkan mobil mainannya ke dalam sebuah koper.

Bayu menutup koper merah tersebut. Bocah itu telah selesai mengepak barang-barangnya sekarang. Liburan akhir semester telah tiba. Saatnya bagi orang-orang untuk beristirahat dari lelahnya rutinitas. Keluarga Bayu memilih untuk berkunjung  ke Desa Buak Limbang, Kalimantan Barat, tempat kakek dan neneknya tinggal.

“Kok, kopernya ditutup? Aku, kan, belum mengepak apa-apa,” protes Kak Aul, kakak Bayu.

Bayu memutar bola matanya. "Dari tadi aku sudah menyuruh Kakak untuk segera mengepak barang-barang. Kakak tidak menghiraukanku dan tetap fokus membaca benda kotak itu,” ucap Bayu kesal.

"He he. Maaf, deh. Habisnya buku itu seru sekali! Aku tidak bisa berhenti membacanya,” ucap Kak Aul.

Kak Aul adalah seorang kutu buku. Ia menghabiskan banyak waktunya dengan duduk di sofa sembari membaca buku-buku tebal. Membaca buku adalah hal yang seru bagi Kak Aul. Bayu tidak mengerti di mana serunya membaca buku. Baginya, bermain mobil-mobilan adalah hal terseru.

“Aku akan mengepak barang-barangku sekarang. Jangan cemberut begitu,” kata Kak Aul.

“Iya. Oh iya, Kak. Aku pinjam ponselmu, ya,” pinta Bayu.

“Hmm ...,” jawab Kak Aul.

Bayu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia meraih ponsel milik Kak Aul yang berada di sisi kanan kasur. Bayu memutuskan untuk menonton film kartun kesukaannya menggunakan ponsel Kak Aul. Anak itu diam, fokus menyaksikan film kartun kesukaannya.

“Bayu! Apakah kamu bisa membantuku?” tanya Kak Aul.

Bayu mengalihkan pandangannya dari ponsel.

“Membantu apa?” tanya Bayu  sembari menaikkan sebelah alisnya.

“Tolong ambilkan buku ensiklopediaku, dong. Aku meninggalkannya di sofa tadi,” terang Kak Aul.

“Kakak akan membawa buku itu ke rumah Kakek dan Nenek?” tanya Bayu heran.

Kak Aul mengangguk mantap. "Iya, dong. Kalau tidak, aku akan sangat bosan nanti.”

“Huft. Baiklah,” balas Bayu.

Anak laki-laki itu turun dari kasur, bergegas menuju ruang tamu. Dilihatnya sebuah buku yang masih terbuka di atas sofa.

“Kak Aul pasti lupa menutup buku ini,” ucap Bayu.

Anak laki-laki itu melihat buku di depannya dengan tatapan malas.

Buku membosankan kesukaan Kak Aul

Ia membaca buku tersebut sekilas. Halaman buku yang terbuka itu menjelaskan sesuatu mengenai tanaman karet.

“Huft! Tidak seru!”

Ia menyerah. Buku tidaklah seru. Bayu menutup buku tersebut. Setelah itu, ia bergegas kembali ke kamar untuk menyerahkan buku itu kepada Kak Aul, lalu kembali bermain ponsel.

***

“Wush!”

“Tadi pesawatnya terbang seperti itu, Nek,” terang Bayu dengan semangat.

Bayu menceritakan pengalamannya naik pesawat kepada neneknya. Keluarga Bayu telah tiba di Desa Buak Limbang. Kini, mereka tengah asyik makan malam bersama sembari bercerita. Bayu memakan sop bayam buatan neneknya, dengan lauk ikan bandeng. Tak lupa, ia juga menyantap bakwan jagung kesukaannya.

“Bagaimana makanannya? Enak?” tanya Nenek sembari tersenyum.

Bayu mengangguk.

“Sangat enak. Apalagi bakwan jagungnya,” ucapnya sambil mengacungkan jempol tangannya.

“Syukurlah. Makan yang banyak. Kalau habis, nanti Nenek buatkan lagi,” ucap Nenek.

“Jangan, Bu. Nanti Bayu jadi gendut. Ha ha ha,” kata ayah Bayu.

Bayu menunjukkan ekspresi kesalnya.

“Bayu tidak akan gendut, kok. Kan, habis makan bisa olahraga,” elak Bayu.

“Pintar sekali kamu,” timpal Kakek.

“He he he.” Bayu tertawa mendengar pujian Kakek.

“Besok mau ikut Kakek tidak?” tanya Kakek.

Bayu mengerenyitkan keningnya, bingung.

“Kemana, Kek?” tanyanya.

“Ayo, ikut Kakek kerja di kebun karet! Sudah waktunya panen,” terang Kakek.

“Mau! Aku mau ikut, Kek!” ucap Bayu antusias.

“Yakin? Tetapi, di sana membosankan, lo. Tidak ada sinyal untuk bermain ponsel,” kata Kakek.

Bayu mengangguk yakin. Ia berkata, "Tidak apa-apa, Kek. Aku yakin memanen karet tidak akan membosankan. Membaca buku lebih membosankan.”

Kak Aul menaikkan sebelah alisnya sembari tersenyum menyeringai.

“Kau mengejekku, ya?” katanya.

“Iya, weee,” balas Bayu sembari menjulurkan lidah.

“Sudah, sudah,” lerai Nenek.

“Sekarang sudah malam. segera habiskan makanan kalian! Bayu ingin pergi menemani Kakek ke kebun karet, kan? Sana cepat tidur! Jangan sampai besok kamu membuat Kakek terlambat!” kata Ibu.

“Baik, Bu,” ucap Bayu sembari memberi hormat.

Bayu segera menghabiskan makanan yang tersisa dalam piringnya. Setelah itu, ia bersama kakaknya membatu Nenek mencuci piring. Saat semuanya sudah selesai, ia bergegas menuju kamar. Membayangkan kegiatan yang akan dilakukan esok hari dengan Kakek membuatnya bersemangat.

"Aku harus segera tidur. Aku tidak boleh terlambat bangun,” ucapnya pada dirinya sendiri. Dengan semangat yang belum hilang, Bayu menutup matanya, mencoba untuk tidur.

***

Pagi yang cerah. Matahari menampakkan dirinya dengan berani. Angin bertiup perlahan, menggerakkan benda putih mirip kapas di atas sana. Bayu menikmati suasana di perkebunan karet, tempatnya berada sekarang. Pepohonan karet yang tinggi terlihat di segala penjuru. Mereka tumbuh berderet rapi, bak prajurit yang sedang berbaris. Sebuah pemandangan yang memukau bagi Bayu, yang biasanya hanya melihat gedung-gedung tinggi di kota.

Banyak pekerja yang sedang bekerja di perkebunan karet. Ada yang sedang mengumpulkan getah, menyayat pohon kulit karet, hingga yang berlalu-lalang mengangkut karung-karung berisikan getah karet. Mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

“Kakek! Karung-karung itu akan dibawa ke mana?” tanya Bayu kepada kakeknya yang tengah sibuk mengumpulkan getah karet.

“Getah karet itu akan ditimbang, lalu dijual ke pabrik,” jawab Kakek.

“Oooh,” balas Bayu.

“Bagaimana rasanya di perkebunan karet?” tanya Kakek penasaran.

“Seru, Kek. Walaupun banyak nyamuk. He he he,” jawab Bayu sembari melihat nyamuk-nyamuk yang beterbangan di hadapannya.

“Benar, banyak sekali nyamuk di sini. Kamu sudah pakai losion antinyamuk, kan?” tanya Kakek memastikan.

“Sudah. Nenek menyuruhku tadi. Aku juga disuruh memakai pakaian panjang dan sepatu bot. Katanya, agar tidak digigit nyamuk,” balas Bayu.

“Baguslah,” ucap Kakek.

Kakek kembali pada pekerjaannya, memanen getah karet. Kakek berjalan menuju pohon karet lain. Bayu mengikuti kakeknya itu.

“Kebun karet ini luas sekali, Kek. Apa Kakek pernah tersesat?” tanya Bayu tiba-tiba.

“Wah, pernah. Kakek selalu tersesat di perkebunan ini saat Kakek masih kecil,” jawab Kakek.

“Lalu, apa yang Kakek lakukan?” tanya Bayu penasaran.

“Kakek hanya perlu berjalan ke arah barat. Ada pondok yang biasa digunakan para pekerja untuk beristirahat di sana. Kakek akan pergi ke sana, lalu meminta bantuan salah satu orang untuk mengantarkan Kakek pulang,” terang Kakek.

“Jadi begitu?” timpal Bayu.

“Kakek! Itu hewan apa?” tanya Bayu terkejut.

Ia menujuk ke arah hewan berbulu coklat yang sedang memakan sesuatu.

“Tupai. Itu adalah tupai,” jawab Kakek.

“Wah,” kagum Bayu.

“Ini pertama kalinya aku melihat tupai. Boleh aku kejar tidak, Kek?” ucap Bayu dengan mata berbinar.

“Boleh, tetapi jangan jauh-jauh, ya,” pesan Kakek.

“Baik!” jawab Bayu.

Bayu bergegas menghampiri tupai tadi. Tinggal beberapa langkah lagi, dirinya dapat meraih binatang itu. Namun, tupai tersebut terkejut dengan kehadiran Bayu. Ia pun berlari dengan sangat gesit.

"Tunggu!" ucap Bayu.

Bayu mengejar tupai tersebut. Tanpa sadar, ia melanggar pesan kakeknya. Bayu berlari makin jauh masuk ke dalam perkebunan karet. Si tupai berlari dengan sangat cepat. Berbelok di antara satu pohon dan pohon lainnya. Bayu berusaha untuk mengejar, tetapi percuma. Jarak antara dirinya dan tupai itu sudah terlalu jauh

Seperti bosan berlari, tupai itu naik ke atas pohon karet. Pada akhirnya, Bayu gagal meraih tupai itu. Ia berhenti, kemudian membungkukkan badannya. Bayu berusaha untuk mengatur napasnya. Bayu menatap tupai  di atas pohon. Tupai itu menatapnya yang sedang terengah-engah.

“Larimu cepat sekali,” ucap Bayu pada si tupai.

Suasana sepi. Bayu mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Tidak ada seorang pun di sana, selain dirinya, pohon-pohon karet, dan tupai di atas sana. Kini dirinya sadar, ia masuk terlalu dalam ke perkebunan karet. Bayu mencoba tetap tenang. Ia berjalan. Ia berharap jalur yang ditempuhnya sekarang akan membawanya ke tempat kakeknya berada.

“Rasanya tadi aku lewat sini, deh. Tetapi, kenapa aku tidak menemukan siapa pun?” tanya Bayu bingung.

Oh tidak! Sepertinya aku benar-benar tersesat.

Anak laki-laki itu mulai merasa panik. Ia sama sekali tidak mengenali tempatnya berada itu.  

“Apa yang harus aku lakukan?” gumamnya kebingungan.

Tiba-tiba, Bayu teringat cerita kakeknya saat tersesat.

Kakek berkata, ia hanya perlu berjalan ke arah barat, lalu akan ada pondok di sana.

“Apa aku harus melakukan hal yang sama?” ucap Bayu pelan.

“Tetapi barat itu ke mana, ya? Aku tidak tahu,” kata Bayu yang makin gelisah.

Anak laki-laki itu mengacak rambutnya kesal.

“Andaikan aku punya kompas,” katanya.

Lelah, bayu memutuskan untuk duduk, bersandar pada salah satu pohon karet. Ia memandang pohon karet yang berjejer rapi di hadapannya.

"Kalian berbaris rapi sekali, bahkan batang kalian sama-sama condong ke satu arah,” ucap Bayu.

Benar yang dikatakan Bayu. Pepohonan karet di sana condong ke satu arah. Hal tersebut membuatnya tersadar. Bayu kembali teringat tentang buku ensiklopedia Kak Aul yang pernah ia baca sekilas. Buku tersebut menerangkan fakta-fakta menarik mengenai tumbuhan, termasuk pohon karet. Bayu mencoba mengingat kembali halaman buku yang ia baca.

“Aku ingat!” teriak Bayu girang.

“Kalau  tidak salah pohon karet tumbuh condong mengikuti arah matahari,”  katanya.

Bayu mengamati pohon-pohon karet di sekelilingnya.

“Ini belum terlalu siang. Itu artinya, mereka condong ke arah timur. Tempat matahari terbit. Kalau aku ingin ke barat, aku hanya perlu berjalan ke arah sebaliknya,” kata Bayu.

Bayu berdiri. Ia mulai melangkahkan kakinya, berjalan berlawanan arah dengan arah condongnya batang pepohonan karet. Ia mempercepat langkahnya hingga berlari. Di sepanjang perjalanan, Bayu tak henti-hentinya berdoa. Ia ingin pulang. Pasti keluarganya akan sangat cemas jika ia menghilang. Setelah beberapa saat, ia akhirnya sampai di pondok yang dimaksud kakeknya. Ia mendapati keranjang berisi karet di depan pondok. Ia beralih memandang seseorang yang tengah makan di pondok. Tanpa pikir panjang, Bayu langsung berlari menghampiri orang tersebut.

“Per-misi, Pak. Sa-ya tersesat. Bo-lehkah Ba-pak mengantar-kan sa-ya pulang?” tanya Bayu terbata-bata, kehabisan napas akibat berlari.

Bapak tersebut menoleh ke arah Bayu. Ia tampak terkejut. Itu wajar. Siapa yang tidak terkejut menemukan anak laki-laki tersesat di dalam kebun pohon karet?

“Nak, kemarilah! Minum dulu! Kau tampak sangat lelah,” ucapnya.

Bayu meneguk segelas air yang disodorkan oleh Bapak itu. Ia mulai menceritakan bagaimana ia bisa tersesat.

“Jadi, kamu tersesat karena mengejar seekor tupai?” tanya Pak Sapto, laki-laki yang berada di hadapan Bayu itu.

Bayu mengangguk.

“Lain kali jangan seperti itu, ya. Kakekmu pasti sangat khawatir sekarang,” ucap Pak Sapto.

“Tolong antarkan saya pulang ya, Pak Sapto,” pinta Bayu.

“Iya, Nak. Tetapi, bagaimana bisa kamu menemukan pondok ini?” tanya Pak Sapto penasaran.

Bayu tersenyum.

“Itu semua berkat kompas pohon karet, Pak,” jawabnya.

“Kompas pohon karet?” tanya Pak Sapto sembari menaikkan sebelah alisnya, bingung.

Bayu mengangguk sembari tersenyum.

Untung saja aku mengingat isi buku itu walaupun sedikit. Terima kasih ya, buku yang membosankan. Berkatmu, aku selamat kali ini. He he he.

***