Kumpulan Cerita Rakyat/Bujang Katak dan Putri Bungsu
Di sebuah kerajaan makmur di Sumatra, hiduplah seorang raja yang memiliki tujuh orang putri. Keenam putri pertamanya dikenal anggun, pandai berhias, dan gemar mengenakan pakaian indah. Namun putri bungsu berbeda. Ia lembut, rendah hati, dan lebih suka membantu rakyat dibanding duduk berlama-lama di balairung istana.
Karena sifatnya itu, rakyat sangat mencintainya.
Tak jauh dari istana, di tepi hutan dan rawa yang sunyi, hiduplah seorang pemuda bernama Bujang Katak. Ia bukan benar-benar katak, melainkan anak manusia. Namun sejak kecil ia sering diejek karena wajahnya dianggap kurang tampan dan kulitnya gelap karena terbakar matahari. Ia hidup sederhana bersama ibunya yang sudah tua.
Bujang Katak dikenal rajin bekerja dan tidak pernah membalas hinaan orang-orang. Meski sering ditertawakan, hatinya tetap bersih.
Suatu hari, sang raja mengumumkan bahwa keenam putrinya akan dipersunting bangsawan dari negeri tetangga. Pesta besar digelar. Namun Putri Bungsu justru tampak murung.
“Anakku,” tanya sang raja, “mengapa engkau tidak bersuka cita?”
Putri Bungsu menjawab pelan, “Ayahanda, hamba ingin menikah dengan lelaki yang berhati baik, bukan hanya yang berharta dan berkedudukan tinggi.”
Jawaban itu membuat raja terdiam.
Beberapa hari kemudian, Putri Bungsu pergi ke tepi hutan untuk menenangkan hati. Di sanalah ia bertemu Bujang Katak yang sedang membantu ibunya memikul kayu bakar. Ia melihat bagaimana Bujang Katak dengan sabar merawat ibunya, memperbaiki atap rumah yang bocor, dan berbicara dengan sopan meski berpakaian sederhana.
Pertemuan itu sederhana, tetapi membekas.
Takdir mempertemukan mereka beberapa kali. Putri Bungsu mulai menyadari bahwa di balik penampilan Bujang Katak, ada hati yang jauh lebih mulia daripada para bangsawan yang pernah ia temui.
Kabar kedekatan itu sampai ke istana.
Raja murka.
“Mustahil putriku menikah dengan pemuda miskin dari rawa!” katanya tegas.
Namun Putri Bungsu tetap pada pendiriannya. Ia bersedia menjalani ujian apa pun demi membuktikan pilihan hatinya tidak keliru.
Akhirnya raja memberikan syarat yang nyaris mustahil kepada Bujang Katak.
Jika ingin mempersunting Putri Bungsu, ia harus:
Membuat istana baru dalam satu malam.
Membuat taman dengan kolam berisi air sebening kaca.
Menyediakan pakaian dan perhiasan indah untuk Putri Bungsu.
Bujang Katak pulang dengan hati berat. Ia tahu dirinya tak punya apa-apa. Namun ibunya berkata, “Anakku, jika hatimu tulus, Tuhan akan menolongmu.”
Malam itu, ketika bulan purnama bersinar terang, Bujang Katak pergi ke rawa tempat ia sering duduk sendiri. Ia berdoa dengan sungguh-sungguh.
Konon, karena ketulusan dan kesabarannya selama ini, makhluk penjaga hutan dan rawa tergerak hatinya. Dalam sekejap, pasukan gaib membantu membangun istana megah, taman indah, dan kolam sebening kristal sebelum fajar menyingsing.
Keesokan paginya, rakyat gempar.
Di samping istana lama, berdiri bangunan megah yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Raja terkejut, tetapi masih ragu. Ia meminta ujian terakhir.
“Jika engkau benar-benar pantas,” ujar raja, “datanglah besok dengan pakaian paling indah dan wajah yang menunjukkan kemuliaan.”
Malam itu kembali Bujang Katak berdoa. Ketika matahari terbit, ia muncul bukan sebagai pemuda yang diejek dahulu, melainkan sebagai pria tampan dan gagah. Kutukan yang selama ini menyelimutinya sirna karena ketulusan dan keteguhan hatinya.
Rakyat terpukau. Raja akhirnya sadar bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari asal-usulnya, melainkan dari hati dan perbuatannya.
Pernikahan Bujang Katak dan Putri Bungsu dirayakan besar-besaran. Keenam kakaknya yang dahulu sombong belajar bahwa kebaikan lebih berharga daripada kemewahan.
Sejak saat itu, Bujang Katak memimpin kerajaan dengan bijaksana bersama Putri Bungsu. Mereka tidak melupakan rakyat kecil, karena mereka tahu bagaimana rasanya diremehkan.