Lompat ke isi

Kumpulan Dongeng-Dongeng Unik/Adat Bangsawan di Negara Istanbul, Cara Menerapkan Hukuman

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Kitab Dongéng-Dongéng nu Aranéh
oleh Pengarang: Muhammad Musa
Alih aksara: Kepadalisna
Alih bahasa: Hayati Mayang Arum
8. Adat bangsawan di negara Istanbul, Cara menerapkan hukuman

Ada seorang saudagar di tanah Istambul, yang hendak ber­angkat berdagang ke sebuah negara, di pedalaman negeri itu ju­ga, setelah memuat barang-barangnya ke atas kudanya, lalu berangkat dengan senang hatinya. Ketika sudah sore, sampai di sebuah desa penginapan, lalu berhenti di sana, bermaksud menginap. Kudanya diikatkan pada pohon, ti­dak terlalu jauh dari rumah tentara yang berjaga di sana. Setelah itu saudagar berbaring di bawah pohon, dekat kuda yang lalu menjadi tempat tidurnya. Ketika bangun pagi-pagi, kudanya dan barang-barangnya sudah tidak ada, dicuri. Kagetlah si saudagar dan sangat kece­wa karena kecelakaan sebesar itu. Lalu ia mengadu kepada bangsawan di sana, memberitahukan keja­dian yang dialaminya. Setelah mendengar laporan si saudagar, bangsawan itu berkata:

“Pantas saja kamu tidak menginap di rumah tentara. Kalau menginap di sana, barang-barang­mu tidak akan hilang.”

Menjawab si saudagar itu:

“Justru aku datang agar tidak takut menginap di sagala macam kamar dalam aturan pemerintahan lama, ka­rena pada zaman dahulu di tempat itu tak ada yang berani mencuri, merampas, karena kerasnya perintah pemerintahan.”

Ucapan itu demikian, masuk akal menurut bangsawan itu, lalu memanggil si saudagar dan berkata:

“Baik, tapi malam ini kamu harus menginap lagi di tempat itu saja.”

Si saudagar melaksanakan perintah itu. Ketika pagi-pagi bangun, di dekat pohon kudanya sudah diikat kembali pada batang pohon yang sama, dan pencurinya sudah digantung di dahan pohon kayu.

Tembang Asmarandana

[sunting]

kalau semua orang mencuri, digantung saja hukuman­nya, seluruh dahan pohon akan jadi tempat menggantung, seperti nyantolkan tali jemuran, tapi kalau seperti itu, bukanlah hukuman yang adil.