Lompat ke isi

Kumpulan Dongeng-Dongeng Unik/Hibah

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Kitab Dongéng-Dongéng nu Aranéh
oleh Pengarang: Muhammad Musa
Alih aksara: Kepadalisna
Alih bahasa: Hayati Mayang Arum
10. Hibah

Pada tahun 1850 di Kabupaten Limbangan ada seorang laki-laki tua berusia 62 tahun. Memiliki 2 anak, 1 laki-laki, 1 perempuan. Suatu ketika berbicara pada ayahnya, ucapnya:

“Ayah, karena ayah sudah tua, aku rasa sudah cukup jika ayah bersantai-santai saja, jangan melakukan pekerjaan berat, sekarang mah cukup bersenang-senang saja, soal rezeki biar kami yang cari, ayah tinggal tahu-tahu pakai dan makan saja. Berat lelah­nya biarlah aku bersama adik. Aku yang menyediakan sandangnya, adik yang menyediakan makanannya. Oleh karena itu, aku rasa lebih baik segera diwariskan saja harta milik ayah. Menurut aturannya, aku yang laki-laki mendapat 2 bagian, dan adik perempuan mendapat 1 ba­gian. Ini supaya aku dan adik bisa semangat me­rawat diri bapak sambil turut mengurus harta.”

Lalu dipikir oleh ayahnya, bahwa benar ucapan anaknya itu, lalu dikumpulkanlah semua hartanya, yang jauh didekatkan. Kuda dan kerbau dari sawah diarak. Setelah seluruh hartanya terkumpul, dan penghulu sudah diundang, untuk menyaksikan hibah tersebut. Lalu sang ayah ber­bicara, menyatakan hibahnya, beginilah ucapnya:

“Kepada penghulu aku minta menjadi saksi. Ini aku hibahkan 6 ekor kerbau kepada anakku yang laki-laki, dan 3 ekor kuda beserta segala hasil dari penghasilan raja kaya, sawah, kebun, dan juga 3 ekor ke­rbau, 2 ekor kuda, serta rumah beserta isinya, dihibahkan kepada anakku yang perempuan.”

Kemudian oleh anak-anaknya diterima, dan penghulu membubuhkan tanda tangan, menerima menjadi saksi.

Sejak saat itu hingga genap satu tahun lamanya, si anak laki-laki tetap merawat ayahnya. Masuk tahun kedua sudah mulai lalai merawat, tahun ketiga benar-benar berhenti, tidak mengurusinya, ayahnya sudah compang-camping pakaiannya. Ayahnya lalu berkata kepada anaknya untuk menjual kuda supaya bisa membeli ikat kepala. Ucapnya:

Sekarang ayah ­minta si Tembung dijual, untuk membeli ikat kepala.

Jawab anaknya:

Soal bapak minta anak si Bopong, tidak akan aku kasih, karena itu satu-satunya yang ter­baik untuk bibit.

Ayahnya berkata lagi:

Kalau tidak diberi si Bopong, ya sudah bapak minta ikat kepala saja sebagai pakaian, karena bapak tidak punya sama sekali ikat kepala.

Jawab anaknya:

Ikat kepala aku pun tidak punya, dan lagi orang tua, tidak usah ingin pa­kai yang bagus-bagus, cukup kalau melilit saja di kepala.

Dari situ ayahnya berkaca-kaca, dan berbicara dalam hatinya:

Ternyata benar kata pepatah, kalau orang jangan terlalu mudah memberi tanpa ukuran, ya inilah rasanya, seperti aku se­karang ini, harta habis dihibahkan pada anak, sementara aku sendiri kehabisan, sampai-sampai tidak bisa mengganti ikat kepala se­helai pun, kalau mau minta keadilan hukum malu, sebab aku sendiri yang lengah, terbuai oleh anak.

Setelah itu, sang ayah meninggalkan anak laki-lakinya, pergi ke anak perempuannya. Kalau anak perempuannya masih suka merawatnya, rajin, telaten, setiap kali makanan selalu diutamakan untuk ayahnya. Adapun ayahnya itu memang orang rajin, banyak keahliannya dan kemampuannya, pagi-pagi mencangkul di kebun, lalu siang hari menganyam ayakan, said, nyiru. Karena dari kerajinannya dan kemampuannya, cukup juga bisa membantu sedikit untuk anak perempuannya, dan sang ayah masih punya tabungan. Dua keton dan pasmat, ada 30 keton dan 80 pasmat, niatnya karena diri merasa sudah tua, tinggal menunggu ajal, tidak ingin menyusahkan anak dengan meminta-minta.

Dikisahkan sang anak laki-laki mengalami banyak halangan setelah durhaka pada ayahnya. Hartanya semakin berkurang, para tetangganya pun menggunjingnya, dicap orang yang denial. Kadang bahkan, terbawa sedemikian rupa sama seperti merampas harta ayah sendiri, padahal sebenarnya terhadap bapak itu, janganlah jika diwariskan kekayaan segitu banyaknya. Meski begitu, wajib membalas budi kepada orang tua, karena sejak lahir sampai akil balig sering menyusahkan orang tua. Oleh sebab itu, orang itu dipanggil Ki Mahiwal, artinya adat istiadatnya tidak sama dengan orang lain.

Pada akhirnya Ki Mahiwal menjadi orang melarat, kuda dan kerbaunya habis. Karena sudah malu hidup, langsung saja pergi ke Karawang. Diceritakan ia menjadi penggembala kuda milik seorang Cina, sampai kematiannya tidak bisa pulang lagi ke kampungnya.

Syair

[sunting]
  1. Inilah demikian sikapnya,
    orang yang kurang tahu menerima,
    tidak ada sedikit pun untungnya,
    meski tulus jadi kayanya.

  2. Datang jadi kuli pada Cina,
    jadi penggembala bebeknya,
    padahal dulu banyak kerbaunya,
    bahkan juga kuda sapinya

  3. Awas anak-anak supaya mengerti,
    kepada orang tua hendaknya baik hati,
    pepatahnya indahkan,
    perhatikan sampai paham.

  4. Jangan seperti Ki Mahiwal,
    kepada ayah berkhianat,
    akhirnya tak punya kapal,
    barang-barangnya habis dijual.