Lompat ke isi

Kumpulan Dongeng-Dongeng Unik/Kakek-Kakek Sengsara

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Kitab Dongéng-Dongéng nu Aranéh
oleh Pengarang: Muhammad Musa
Alih aksara: Kepadalisna
Alih bahasa: Hayati Mayang Arum
Edisi teks: Nugi30
4. Kakek-kakek Sengsara

Pada zaman dahulu, ada seorang kakek-kakek yang telah membagikan hartanya (uang beserta emas, perak dalam jumlah banyak) kepada anak-anaknya. Setelah anak-anaknya menerima warisan tersebut, mereka menjadi berperilaku baik kepada ayahnya, selayaknya anak berbakti kepada orang tua, namun itu hanya bertahan 1 tahun saja. Lebih dari itu, mereka menjadi tidak peduli lagi, memperlakukan ayahnya seperti ke pembantu saja. Setelah itu, ayahnya pergi, berniat menemui raja, mengadu akan perilaku anaknya yang tidak peduli terhadap dirinya.

Saat sampai di depan gerbang, ia bertemu dengan sekretaris istana yang hendak menyampaikan laporannya kepada raja, menanyai asal rumah dan maksud kedatangannya. Dijawab oleh sang kakek:

"Hamba hendak mengadu kepada raja, memberitahukan perilaku anak yang sangat keterlaluan terhadap hamba, karena seluruh harta hamba sudah dibagikan kepada mereka, tetapi mereka sama sekali tidak merawat hamba dengan baik, memperlakukan hamba seperti budak suruhan. Sudah 3 tahun lamanya tidak pernah menyantuni hamba, sekarang hamba mohon agar anak-anak hamba dihukum dan diberi sanksi, karena benar-benar tidak tahu berterima kasih."

Sekretaris istana bertanya lagi:

"Kakek berapa umurnya? Tampaknya sudah sangat tua, kulitnya pun sudah keriput."

Dijawab oleh kakek:

"Betul, saya memang sudah tua, sekarang umur saya sudah 73 tahun."

Lalu sekretaris istana bergurau:

"Kalau begitu tidak akan lama lagi kakek akan meninggal, sudah setua ini. Lebih baik pulang saja, jangan mengadu ke sini."


Sang kakek termenung, memang benar umur tidak akan lama lagi, sekarang memang lebih baik pulang saja. Lalu ia pun pulang.

Sampai keluar dari wilayah kota, sang kakek menemukan batu besar di pinggir jalan, di situ ia tidak kuat menahan lelah, lalu berhenti dan duduk di atas batu tersebut. Tidak lama kemudian sampailah ajalnya, meninggal di atas batu tersebut. Setelah ayahnya meninggal, anaknya yang sulung dan kaya raya menjadi sangat miskin hingga kesusahan mencari makan.

Sejak saat itu, setiap hari ia duduk di batu bekas ayahnya meninggal. Tujuannya duduk di sana, agar ada yang memberi sedekah.

Syair

[sunting]

Hormatilah ibu dan ayah,
Agar hidup tidak tertimpa celaka,
Bersikap kasar pada orang tua pasti dibalas,
Takkan dapat berkah dari ibu dan ayah.