Kumpulan Dongeng-Dongeng Unik/Padagang yang Jujur
| Kitab Dongéng-Dongéng nu Aranéh oleh Pengarang: Muhammad Musa |
| Alih aksara: Kepadalisna Alih bahasa & edisi teks: Hayati Mayang Arum |
Zaman dahulu, lebih dari 200 tahun yang lalu, ada seorang jenderal laut, di Belanda, bernama Tuan De Ruijter, ayahnya sangat miskin sekali.
Sementara itu, Tuan De Ruijter itu gemar berlayar, mulanya hanya jadi jongos kapal. Dari ketekunannya, naik jadi mualim, naik lagi jadi nahkoda. Dari situ ia berlayar ke Moroko, tanah Afrika, sebelah utara. Saudagar dari kapal itu sudah membawa barang-barang sutra dan kain tenun.
Waktu sampai di Maroko, barang-barangnya diturunkan, dibawa ke pasar. Sesuai adat para saudagar, karena sudah terdengar bahwa ada saudagar baru datang, banyak para pedagang di sana yang datang, ingin membeli barang-barangnya, bahkan para bangsawan juga datang, ingin membeli barang. Memilih yang bagus, mengambil kain tenun selembar, serta menanyakan harganya.
- Dijawab oleh Tuan De Ruijter: “Ini kain tenun harganya Rp 140,–.”
- Kata bangsawan itu: “Kemahalan, kami tawar Rp 50,–, berika pada kami dengan harga segitu.”
- “Tidak akan saya berikan,” jawab De Ruijter.
- “Tawaran kami hanya segitu”, kata si bangsawan.
- Kata Tuan De Ruijter: “Kalau hanya segitu, tidak akan saya berikan.”
- Kata bangsawan itu: “Tidak au tahu, harus diberikan pada kami kain tenunnya, tapi harganya tidak boleh lebih dari segitu.”
- Jawab De Ruijter: “Barang-barang ini bukan milik saya, ini kepunyaan majikan saya, saudagar dari kapal ini. Tuan itu sudah memerintah saya untuk menjualnya di sini, saya tidak berhak menentukan milik majikan, tidak sesuai harganya yang pantas.”
- Kata bangsawan itu: “Berani-beraninya kamu bicara begitu, kamu tahu dengan siapa kamu berbicara?”
- “Saya tahu”, jawab De Ruijter, “Bahwa tuan adalah bangsawan di negeri ini.”
- Kata bangsawan itu: “Kalau tahu, kenapa begitu bodoh, coba kalau kamu menuruti permintaan kami, pasti kamu akan untung besar.
- ”Jawab De Ruijter: “Justru saya akan cepat miskin, kalau semua orang menawar seperti permintaan tuan.”
- Kata bangsawan: “Ambil saja kantung ini, isinya ada Rp 50,–.”
- Jawab De Ruijter: “Tidak bisa saya jual kalau kurang dari Rp 140,–., meskipun kurang sedikit pun, tidak akan saya berikan.”
- Setelah itu bangsawan itu marah, katanya: “Dasar bodoh! Kurang adab! Keras kepala!”
- Jawab De Ruijter: “Tuan jangan marah, lebih baik simpan saja uang itu, jika ingin membeli kain tenun ini, silakan kasih saja.”
- Kata bangsawan itu: “Kenapa kamu sekarang mau memberikan, padahal tadi tidak diberikan. kalau kurang satu duit pun dari Rp 140,–..
- ”Jawab De Ruijter: “Kurang dari harganya, meskipun satu duit, saya tidak berani menjualnya, takut merusak harga, tapi saya rela menyerahkan barang ini sebagai bakti saja kepada Tuan. Itu saya berani menanggung kemarahan majikan saya.”
- Kata bangsawan itu: “Saya tidak mau kalau hanya diberi gratis, saya akan membayarnya.”
- Jawab De Ruijter: “Silakan kalau mau dibeli, tapi jangan kurang dari Rp 140,–.”
- Bangsawan berkata: “Kamu ini manusia macam apa! Kalau kami rampas kamu dan barang-barangmu, serta kamu dijadikan budak, siapa yang bisa melarang kami?”
- De Ruijter menjawab: “Saya paham akan ucapan itu, ancaman seperti itu, tak akan ada yang bisa menghalangi, kalau memang sudah menjadi kehendak Tuan, tetapi jika sudah tersebar ke mana-mana, tentu semua saudagar yang sudah pernah untung, tidak akan ada yang mau berdagang lagi ke negeri ini, akibatnya negeri Tuan akan menjadi tertinggal. Jika Tuan ingin merampas saya, lebih baik tentukan berapa tebusannya, nanti saya yang menebusnya.”
- Kata bangsawan: “Kami belum ingin merampas kamu, tetapi kalau sudah dirampas, tidak akan boleh ditebus lagi, meskipun berapa pun banyaknya uangmu, tidak akan bisa menebus dirimu, dan kamu harus percaya, bahwa kami bisa meluluhkan hatimu yang keras, seperti kamu menjadi budak kami.”
Sungguh ucapan seperti itu, saat itu langsung memerintahkan memanggil prajurit, untuk menangkap De Ruijter, tetapi kerabatnya memohon kepada kehendak bangsawan itu, ucapannya semoga Tuan sadar, bahwa ini orang yang benar hatinya, serta teguh memegang kebenaran, tidak sepantasnya diberi siksaan. Kata bangsawan itu:
- “Baik, sekarang kamu diberi waktu, pikirkan semalam ini sampai besok.”
Sesudah berkata begitu lalu pulang. Datang para saudagar yang khawatir sekali kepada De Ruijter dan semua menasihati, ucapnya:
- “Hai sahabat kami, lebih baik ikuti saja kehendak bangsawan itu, karena kalau tidak diikuti, siapa yang tahu akibatnya, mungkin akan sampai membunuhmu.”
- Jawab De Ruiiter: “Lebih baik saya mati daripada berkhianat kepada majikan saya, yang memiliki barang ini.”
Ketika pagi datang, bangsawan itu datang lagi serta memanggil ke De Ruijter:
- “Bagaimana, sudah dipikirkan, diberi atau tidak itu sakelat sesuai tawaran kami kemarin?”
- Jawab De Ruijter: “Silakan, saya menyanggupi untuk menyerahkan saja, tetapi kalau dibeli, tidak boleh kurang dari yang saya ajukan kemarin.”
Ketika terdengar oleh bangsawan penawaran De Ruijter, makin kaget dan heran, herannya karena De Ruijter sebegitu teguhnya. Tetapi pikirnya: benar juga. Lalu berkata kepada yang ada di sana:
- “Lihat oleh kalian, ini orang sebegitu baiknya, benar hatinya kepada majikannya. Hai Tuan De Ruijter, saya letakkan tangan di dada Anda, dan Anda pantas menaruh tangan di dada saya, mulai waktu ini kita bersahabat yang sebaik-baiknya. Semua musuh Anda adalah musuh saya, semua sahabat Anda adalah sahabat saya. Ini seratus empat puluh rupiah, berikanlah sakelat itu, akan saya perintahkan untuk dibungkus, dipakai waktu powě riyaya. Ketika saya pakai nanti. Itu, tentu saya akan selalu mengingat Anda.”
Sejak saat itu, Tuan De Ruijter semakin dipercaya oleh bangsawan negara itu dan seluruh rakyat negara Maroko menyukainya dan senang berjual beli dengan dia, dan perdagangannya sangat menguntungkan. Karena disukai oleh orang-orang, maka isi kapalnya sehari juga habis, diborong-borong, bahkan setiap tahun kapal yang lain hanya sekali, sedangkan kapal Tuan De Ruijter dua kali setahun pulang pergi ke Maroko.
Akhirnya Tuan De Ruijter menjadi laksamana, karena cepat dan baik hatinya. Pada tahun 1676 wafat dalam peperangan melawan orang Prancis.
Syair
[sunting]- Nah, itulah buktinya,
Orang yang baik perilakunya,
Karena cepat dan tulus hatinya,
Akhirnya mendapatkan kebahagiaan dirinya. - Awalnya hanya pedagang biasa,
Karena cekatan, dagangnya pun mujur,
benar-benar akhirnya menjadi masyhur,
asalnya dari kalangan bawah menjadi bangsawan, - Diangkat namanya menjadi laksamana,
sering berperang melawan perompak,
berbaktinya tidak pernah terhalang,
semua kapal menganggapnya sebagai panutan. - Bisa juga dijadikan ibarat,
oleh semua orang melarat
Hidup itu harus waspada,
hidup itu harus pakirat,
Ingat dunia dan akhirat - Syaratnya, harus selalu berusaha,
harus bekerja dan berpindah-pindah,
menjadi buruh kepada orang lain untuk mendapat bayaran,
kalau sudah kaya, harta tinggal untuk dinikmati.