Lompat ke isi

Kumpulan Dongeng-Dongeng Unik/Santri Gagal

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Kitab Dongéng-Dongéng nu Aranéh
oleh Pengarang: Muhammad Musa
Alih aksara: Kepadalisna
Alih bahasa: Hayati Mayang Arum
1. Santri Gagal

Ada dua anak laki-laki, bersama-sama mondok di pesantren serta mereka adalah sepupu, yang satu bernama Ki Jahidin, dan yang satu lagi bernama Ki Abidin.

Adapun yang bernama Ki Jahidin agak malas bekerja, kesukaannya hanya membaca jampi-jampi saja ia memiliki paririmbon (kitab mantra) dengan berbagai macam isi, ada doa halimunan, kejayaan, kekayaan, kecukupan, pertanian, dan doa kasih sayang.

Setiap hari dan setiap malam, Ki Jahidin tidak punya aktivitas lain selain menghafalkan jampi-jampi, sampai akhirnya hafal semua. Setiap pagi setelah subuh ia membaca jampi-jampi itu sampai terbit matahari, setelah selesai lalu bermain atau tidur, begitu-begitu saja kesehariannya.


Adapun Ki Abidin tidak seperti itu, setiap pagi setelah subuh ia langsung berkebun atau membantu perkebunan milik Kiainya. Setelah selesai membantu biasanya ia dipanggil oleh Kiainya untuk dijamui makanan.

Adapun pada malam hari, setelah salat Isya dan sebelum tidur, Ki Abidin menekuni aktivitas malamnya, seperti membuat anyaman tikar, kerajinan rotan, menulis kalam untuk dijual, begitu setiap malamnya.

Saat musim panen, Ki Abidin banyak membawa padi, entah itu dari hasil buruh angkut atau hasil sawah sendiri, dan disisihkan uangnya sedikit demi sedikit. Adapun hasil dari perkebunannya di antaranya kacang, jagung, ubi, dan talas.

Sedangkan Ki Jahidin tidak begitu. Pekerjaannya meminta-minta dan hanya cukup untuk satu hari itu saja. Ia juga tidak punya banyak pakaian.


Suatu ketika, saat Ki Jahidin sedang membaca jampi-jampi, ditanya oleh Ki Abidin, ucapnya:

Kakang, bagaimana perasaan kakang dari siang ke malam tidak ada kegiatan yang menghasilkan, hanya membaca doa yang tidak jelas saja, bukannya cari pekerjaan yang bermanfaat.”

Jawab Ki Jahidin:

Kok dibilang doa-doa tidak jelas, coba dengarkan dulu.” Ditunjukkannya doa-doanya satu per satu. “”ni doa halimunan, fungsinya, jika dibaca orang tidak akan bisa melihat kita. Doa kejayaan membuat kita jadi jaya, tidak akan direndahkan orang lain. Doa kekayaan, jika dibaca bisa cepat kaya, tidak sulit mencari uang. Doa kecukupan, jika dibaca maka cukup dengan sedikit saja, misalnya beras sedikit bisa dihidangkan untuk tiga orang atau lebih. Doa pertanian, jika dihafalkan bisa membuat tanaman tumbuh subur, dan doa kasih sayang, jika dibaca banyak orang yang sayang dan ingin memberi. Nah begitu penjelasan doa-doa yang kakang hafalkan, apa kamu tidak tertarik?”

Ki Abidin terkekeh sambil berkata begini:

Wah enak sekali kalau begitu, tapi bagaimana bisa kakang percaya dengan doa-doa seperti itu?”

Ki Jahidin menjawab:

Tentu saja percaya, bahkan aku mempraktekan juga, setiap pagi dihafalkan, ya ingin diberkahi.”

Ki Abidin berkata:

Kalau percaya, ya sudah lakukan saja, kalau saya sih tidak tergoda.”

Sejak saat itu, Ki Jahidin sakit hati dengan sepupunya itu. Ia lalu berpisah, dan tidak mengubah perilakunya, masih saja begitu, hanya rajin menghafal jampi-jampi. Sandang dan pangannya didapat dari hasil meminta-minta.

Sementara Ki Abidin menjadi orang serba bisa, bisa mengaji, bekerja, lalu dijadikan menantu oleh gurunya dan diberikan pesantren yang sering didatangi raja. Karena kegigihannya dan ketekunannya, ia menjadi orang yang hebat dan pintar, tanpa kekurangan. Ki Abidin sama sekali tidak lupa pada sepupunya yang bernama Ki Jahidin itu, meskipun sudah lama berpisah dan tidak pernah ada kabar sedikit pun.


Suatu hari Ki Abidin berjalan ke kota untuk berbelanja. Ia lantas bertemu dengan seseorang yang lusuh, pakaiannya compang-camping, bajunya penuh tambalan, ikat kepalanya kusut, lalu mendekati Kiai Abidin, berbicara sambil merintih, supaya dikasihani, ucapnya:

Tuan, semoga ada belas kasihan Anda kepada saya, karena saya sudah tiga hari ini baru makan satu buah ketupat.”

Ki Abidin kasihan langsung memberikan setengah rupiah serta menyuruh untuk ikut dengannya, katanya:

Paman, ikut saja ke kampung dan tinggal bersama saya, kita bekerja bersama-sama, penampilan paman itu sehat, tidak ada cacat, tenaga masih kuat.”

Si gelandangan menjawab:

Baik, saya sangat ingin ikut, saya sudah tidak bisa makan kalau tidak dapat hasil dari meminta.

Lalu si gelandangan itu dibawa pulang oleh Kiai Abidin. Saat tiba di persinggahan, Kiai Abidin berteduh di bawah pohon asam di pinggir jalan sembari membuka bekalnya. Isinya diberikan kepada si gelandangan itu, mereka makan bersama dengan para pengikut-pengikut Kiai. Setelah itu, Kiai Abidin bertanya kepada si gelandangan:

Paman, saya ingin tahu, bagaimana ceritanya hingga bisa menjadi gelandangan, karena dari yang saya lihat paman ini orang yang sangat sehat.”

Si gelandangan menjawab:

Benar sekali, jasmani saya memang sehat, sekarang saya hendak menceritakan dari awal, semoga Anda berkenan mendengarnya.”

Jawab Kiai:

Sangat senang, saya ingin mendengarkannya.”

Cerita Si Gelandangan

[sunting]
Awalnya saya mondok di pesantren bersama sepupu, di pesantren kebiasaan kami berbeda jauh. Kalau saudara saya itu rajin bekerja, sambil menunggu waktu mengaji tidak pernah diam, siang berkebun atau mengerjakan sesuatu, malam menulis, atau menganyam tikar, begitu saja seterusnya. Adapun saya tidak begitu, hanya rajin menghafal jampi-jampi, karena saya memiliki satu kitab paririmbon, pusaka dari leluhur, apalagi isinya sangat menarik, saya tergoda oleh isinya, segala keinginan menjadi mudah, pikiran saya saat itu, merasa lebih unggul dari yang rajin, karena dalam isi jampi-jampi itu sudah lengkap semua, jika ingin menghilang, ingin kaya, ingin pemberian sudah tersedia. Tapi saat itu saya berselisih dengan sepupu, karena sepupu tampaknya tidak percaya, menghina saya bahwa jampi-jampi itu tidak akan manjur. Sejak saat itu saya berpisah dengannys, karena berselisih pendapat, dan sejak saat itu sampai sekarang belum pernah bertemu lagi.”

Kiai Abidin sudah menduga bahwa itu adalah saudaranya, tapi belum memberitahukannya. Ia ingin menunggu sampai ceritanya selesai, kalau disebutkan sekarang sebelum tamat, khawatir ceritanya jadi terputus. Kiai berkata kepada si gelandangan:

Coba paman lanjutkan, bagaimana setelah paman berpisah dengan saudara, bagaimana paman mengamalkan jampi-jampi itu. Saya sekarang sanggup memberi dua pasang pakaian dan makanan, tapi paman harus benar-benar cerita sejujur-jujurnya, jangan ada yang ditutup-tutupi, dan jangan dikurangi atau dilebih-lebihkan.”

Jawab si gelandangan:

Saya sama sekali tidak akan menyembunyikan apa pun, malah saya berani bersumpah bahwa saya akan bercerita sejujur-jujurnya, dan saya punya keyakinan bahwa kiai akan iba dengan saya, yang penuh dengan penderitaan.”
Setelah berpisah dengan sepupu, saya langsung ingin membuktikan kemanjuran jampi-jampi itu. Saya mendengar ada seorang janda, terkenal akan kekayaannya, dan parasnya pun menawan. Sudah banyak yang melamar tak ada yang diterima. Saya besar kepala karena mengandalkan kemujaraban jampi-jampi itu, lalu bertandang ke rumah si janda. Setelah dizinkan masuk, disuguhi kopi dan rokok. Setelah basa-basi, langsung dibacalah jampi-jampi itu tujuh kali sambil diniatkan agar si nyi janda jatuh cinta. Nyi janda mendekat, lalu duduk di sebelah saya. Saya senang dan bangga karena jampiku manjur, setelah itu saya langsung bicara:
Nyi, saya punya maksud, barangkali Anda berkenan menerima cinta saya.’
Baru seucap begitu, nyi janda menjawab sambil membentak dengan bengisnya:
Berhenti bicara! Aku sudah tahu maksudmu. Kamu mau melamar aku? Tidak suka! Tidak sudi sama sekali pada orang seperti itu perangkainya. Sudah jelek, miskin pula. Kamu pikir aku ini orang rendahan, atau janda tak laku? Kalau kamu belum tahu, sudah lebih dari sepuluh orang yang datang melamar, ada bangsawan, haji, saudagar, tak ada satu pun yang buruk rupa seperti kamu! Sama mereka pun aku tidak, apalagi kamu. Apa maksudnya, sudah jelek, miskin. Pulang kamu! Punya niat seperti itu, apa yang kamu miliki, apa yang dibanggakan, sudah, cepat pergi saja, aku tidak sudi didatangi oleh orang yang seperti itu! Tidak sopan! Lancang! Kurang ajar! Padahal saya tadinya merasa kasihan, mau sedekah, dikira bukan begitu ujungnya.’
Lalu saya bersimpuh, insaf sambil terhuyung-huyung menyembah:
Nyi mas, tolong jangan marah berkepanjangan, saya mohon kebijaksanaannya, sebab sudah lancang meminita seperti itu, tadinya juga saya hanya ingin menyampaikan, kalau memang tidak berkenan ya tidak apa-apa, asal jangan marah.’
Nyi janda semakin marah, ucapnya:
Jangan banyak omong lagi! Cepat keluar sana! Enyahlah!’
Sambil berteriak ke anak buahnya, datang perempuan dan laki-laki, para pembantu nyi randa, mereka berkumpul, kata nyi randa:
Ini orang lancang, tak sopan padaku, bawa dia keluar!’
Dari situ kemudian saya diseret oleh dua orang, seorang memegang lengan kanan, seorang lagi di kiri, sambil dicakra dahi saya oleh arang, digusur ke besar. Dari sana lalu saya berjalan tanpa arah, tidak lupa saya berpikir Kenapa jampi itu tidak manjur. Mungkin itu kenyataannya, tapi saya masih tetap percaya pada kemungkinan kemanjurannya. Jangan-jangan kurang tertib saja, atau ada yang terlewat pelafalannya. Saya berhenti berteduh di bawah pohon, sambil membuka kitab paririmbon itu, sampai terpikir ingin membuktikan satu lagi, yaitu doa halimunan. Adapun keterangan jampi itu berbahasa Jawa: "Ikilah doa halimunan, lamun diwaca ping pitu, sarta gilig atiné, wateké ora katondé ning wong."

Saya sangat percaya pada petunjuk jampi itu, dan karena sudah kesusahan, meminta-minta tidak berhasil, saya berniat mencuri sekalian mencoba jampi itu. Lalu saya berjalan ke pasar, menemukan orang yang sedang menjajakan barang-barangnya, menaruh kantong uang. Kelihatan uangnya putih-putih, memantul dan jelas saja isi kantong itu. Saya berdiri sambil membacakan jampi itu, tapi tidak bekerja, membacanya hanya asal-asalan. Setelah selesai tujuh kali, saya merasa bahwa tidak akan terlihat oleh si pedagang itu, karena terlalu yakin saya pun percaya diri, lalu menunduk mengambil kantong itu. Yang punya hanya melirik, tanpa menimbal. Semakin mantap pikir saya, percaya pada jampi itu, saya merasa bahwa tidak akan kelihatan. Baru sekitar sepuluh langkah, pedangang itu berdiri sambil berteriak ke arah saya: 'Tolong! Tolong! Ini pencuri uang!' Banyak orang di sana mengerumini, semuanya menangkap saya, dihajar oleh banyak orang, terlihat datang pacalang membawa tali tambang, lalu saya diikat, dibawa ke jaksa, diberitahukan bahwa saya mencuri uang, buktinya ditunjukkan ke jaksa. Meskipun saya tidak mengaku, karena sudah kalah oleh bukti, lalu saja saya dihukum. Sudah sepuluh hari lamanya, dilepas dengan mendapat cambukan lima puluh kali, sampai sekarang masih saja ada bekas luka cambukan di pantatku.”

Kiai Abidin tidak bisa menahan air mata, semringah sambil tertawa kecil, tapi matanya berlinang. Dalam pikirannya, pantas saja. Ia sedih dan prihatin, karena saudaranya sampai seperti itu. Perilakunya membawa celaka sebesar itu, berawal dari percaya pada paririmbon, jadi paririambon yang membawa kesengsaraan pada dirinya. Kiai Abidin bertanya, dengan masih memanggilnya paman, katanya:

Paman, siapa nama paman?”

Gelandangan menjawab:

Nama saya Jahidin, sedangkan saudara saya yang sekarang sudah berpisah namanya Abidin.”

Kiai Abidin bertanya lagi:

Sekarang tinggal di mana saudara paman yang bernama Ki Abidin itu?”

Gelandangan menjawab:

Saya kira sekarang sudah jadi menantu Kiai guru saya dulu itu, waktu itu juga sudah sangat disayang, bahkan sering diwakilkan mengajar di Pamulangan.”

Kata Kiai Abidin:

Kenapa tidak sekalian cari ke sana? Kalau begitu mending main ke sana, tinggal di tempat saudara yang sudah berkecukupan.”

Gelandangan menjawab:

Eh Kiai, saya tidak habis pikir kalau bertemu dengan saudara saya, malu. Saya takut tidak terima seperti ini saja sudah cukup, apalagi kalau datang ke saudara, takutnya tidak diterima, karena memang sudah ada perbedaan nasib, saya hanya mohon semoga tetap beruntung saja, saudara saya tinggi derajatnya, banyak rezeki, sedangkan saya hanya celaka diri.”

Kiai Abidin terharu mendengar perkataan pengemis itu, hatinya tersentuh. Hampir tidak bisa menahan perasaannya, tapi masih ditahan, niatnya nanti saja diberitahukan setiba di kampungnya. Kalau diberitahu di sini, pastinya tidak akan bisa dibawa ke kampungnya, sebab sudah terlihat dari ucapannya, tidak mau bertemu sebab malu. Setelah Kiai Abidin berpikir begitu lalu berkata:

Sekarang paman ikut saya pulang ke kampung saja, tinggal di tempat saya. Saya sanggup memberi makan dan pakaian paman. Saya anggap sebagai saudara, dan saya bersumpah, akan benar-benar mengakui sebagai saudara.”

Si pengemis heran pikirannya, karena ada orang sebaik itu, lalu menjawab sambil menangis, katanya:

Wah juragan saya memang berniat ikut , kalau memang ada niat memuliakan diri saya.”

Dari situ langsung mereka melanjutkan pulang ke pondok pesantren itu. Jarak dari kota sampai ke pesantren ditempuh semalam, lewat hutan lebat.

Dalam perjalanan bertemu dengan orang menyanyi, sedang bersuka-ria, menabuh gambang di pinggir jalan depan warung, sambil menyanyi. Lagu yang dinyanyikan berbahasa Jawa, katanya: Welasanana maring wong miskin kaya ingsun, margahing sun dadi miskin, dudu saking keséding sun, mung saking karsa ning Allah, sunti nakdir mata wuta, dadi hora bisa kaya, ngula ti pangupa jiwa.

Kiai Abidin memperhatikan yang sedang melantunkan sambil mendengarkan lagunya, rasa iba yang mendalam, lalu mengambil uang dari kantongnya setengah rupiah, diberikan kepada si penyanyi. Orang yang menyanyi itu kesenangan, makin giat menyanyinya, serta mengganti lagu yang dinyanyikannya:Hé kaula ning Allah, mugi-mugi gusti Allah, males kabesikan nira, karana wong kang mengkana, Suka wéwéh maring wong tuna, hénggal lawas pas dihuga, hanne mua wales pira.

Semua yang bersama menyaksikan pun senang, karena bisa menggambang dengan pas, bagus lagunya, baik penyampaiannya.


Kiai Abidin lalu melanjutkan perjalanannya. Tidak lama di jalan bertemu orang yang sedang berdakwah, duduk bersila di tepi jalan, tetapi orang itu sangat sehat, tidak buta tidak tuli, tidak pincang-pincang juga, hanya karena kemalasan saja, sehingga sulit untuk bekerja, hanya mengandalkan menjual doa saja.

Kiai Abidin mengambil pisau kecil yang dibelinya dari pasar, lalu diberikan kepada yang sedang berdoa itu. Adapun ucapan orang yang berdoa itu:

Kenapa Anda memberi pisau, tidak ada gunanya bagi saya, daripada pisau, lebih baik beri saja ketupat satu.”

Kata Kiai Abidin:

Nah itu buktinya kamu sendiri yang jelas, tandanya tidak mau diberi pisau, malah meminta ketupat satu. Cepat kamu pikirkan, ini pisau dipakai untuk mencari kayu bakar ke hutan, jual kayunya ke kota, perhitungannya paling tidak bisa dapat sehari satu uang. Cukup untuk makanmu, bisa juga menabung uang untuk membeli keperluan lain, pisau ini bisa dipakai sampai 6 bulan lamanya.”

Tukang dakwah terdiam tidak menjawab. Kiai Abidin lalu melanjutkan perjalanannya, menyusuri hutan, banyak menemui monyet, lutung, surili, yang hidup di hutan. Di bawah pohon saninten ia menjumpai monyet sedang menggenggam buah saninten, kelihatannya sangat kesulitan. Terlihat oleh Ki Jahidin, si gelandagan. Ki Jahidin berkata ke Kiai:

Itu juragan coba lihat di sana di bawah pohon saninten, ada monyet yang paling bodoh di antara monyet lainnya, kerjanya hanya menggigiti buah saninten.”

Kiai Abidin melirik ke hutan, terlihat memang ada monyet sedang menggigiti buah saninten, lalu bertanya balik:

Kenpa paman beranggapan itu monyet paling gila?.”

Si gelandangan menjawab:

Yang membuat saya bilang dia monyet paling gila karena, lihat saja, kerjanya hanya mengigit buah saninten saja, sampai begitu susahnya. Kalau saya mah, daripada terus begitu lebih baik cari makanan yang lain, yang mudah dan enak.”

Kata Kiai Abidin:

Kalau menurut pendapat saya, monyet itu bukan gila, malah pekerja keras, yang mau bersusah payah, tahu bahwa di dalamnya ada kenikmatan, manisnya daging buah, nanti setelah selesai membuka kulitnya akan mendapat isinya, jadi capeknya akan terbayar oleh nikmatnya. Perilaku monyet itu bisa dijadikan perumpamaan, jarang orang yang mendapat kenikmatan jika tidak mau susah dan capek di awal, justru manusia harus mau susah terlebih dahulu, supaya dapat kenikmatan setelahnya.”

Ki Jahidin merasa itu menyindir dirinya sendiri, bahwa dirinya tidak seperti itu, ingin serba enak, tidak mau capek di awalnya, sayangnya malah menunjukkan monyet yang sedang menggigit saninten kepada Kiai, dikira tidak akan jadi perumpamaan. Diam saja, tidak jelas jawabannya.


Kiai lalu melanjutkan perjalanan, di tepi jalan ada pohon caringin besar, di bawahnya ada mata air. DI sana ada banyak bekas dupa dari orang-orang yang membakar sesajen dan lembran-lembaran uang. Hal ini karena setiap orang yang lewat pasti meninggalkan uang di sana, di bawah pohon beringin itu, dengan niat membuang celaka dan keburukan, agar kedepannya mendapatkan keselamatan. Kiai Abidin singgah di sana dengan duduk bersila tepat di bawah, Ki Jahidin dan santri yang mengikuti Kiai sangat terkejut, lalu mereka bertanya:

Bagaimana sebabnya ustad berbuat begitu, padahal kabarnya pohon beringin ini dikeramatkan, bahkan jadi sesembahan, hati kami merasa tuan telah merendahkan, sangat tidak mengerti atas perbuatan tuan yang mulia seperti itu.”

Kiai Abidin menjawab:

Jangan heran, karena pohon ini tidak sakti, orang-orang yang sudah menyembah ini semua salah, saya tidak percaya pada keramat. Itu sebabnya saya berani buang air kecil supaya paman tahu bahwa ini tidak sakti, saya bersumpah demi Allah, bahwa tidak ada yang berkuasa selain Allah, yang maha memiliki sifat kuasa dan kehendak.”

Kiai Abidin lalu mengambil uang yang ada di dekat Parukuyan, kira-kira ada dua keton banyaknya lalu berkata:

Ini adalah uang milik hamba, Sebab oleh pemiliknya sudah dibuang, bukan uang yang tertinggal.”

Setelah itu, sang Kiai pun pergi. Kira-kira setelah berjalan seratus langkah, Datang tiga orang mengejar dari belakang, Membawa alat pukul dan berteriak menyuruh berhenti. Sang Kiai pun berhenti dan berdiri menunggu. Ketiga orang itu datang dengan mata melotot, Lalu berkata:

Kamulah yang merusak tempat pemujaan kami. Kalau kamu tidak tahu, itu adalah singgasana Batara Durga.”

Sang Kiai segera mendapatkan akal dan menjawab:

Benar, saya yang merusak, karena oleh Batara Wisesa untuk menghukum Batara Durga. Sebab Batara Durga berdosa, suka meminta-minta uang, Setiap orang yang lewat pasti meninggalkan uang.”

Ketiga orang itu kaget mendengar jawaban itu, Lalu sujud dan menyembah, Sambil berkata:

Jadi pukulan tadi memang perintah dari Batara Wisesa. Kalau begitu, apa hubungan Batara Wisesa dengan Batara Durga.”

Nyai menjawab:

Bukan saudaranya, hanya rakyatnya saja. Sedangkan Batara Wisesa adalah pencipta langit, bumi, dan seluruh isinya, Serta yang memelihara hamba dan rakyat Sekarang bagaimana kehendak kalian, jika kalian tidak mau menyerah, maka kami akan langsung mencabut nyawa kalian.”

Ketiga orang itu serempak menjawab, semua menyembah sambil menyembah, katanya:

Saya bertobat, memohon hidup saja.”

Lalu Kiai berkata:

Baik kalian akan diselamatkan, tetapi jangan lagi mau menyembah kepada yang disebut sebagai tempat duduk Batari Durga, itu adalah niat mati yang sesat, karena itu berarti menyembah kepada kayu dan batu. Adapun Batara Wisesa itu sebenarnya adalah Allah.”

Ketiga orang itu menyembah berkata:

Benar, sungguh benar.”

Kiai mengeluarkan uang dari kantong, yang diambil dari bawah pohon beringin itu, dan diberikan semuanya kepada ketiga orang itu,lalu berkata:

Hai, ini uang, bagilah bertiga sama rata, gunakan untuk modal berdagang lauk-pauk dan kopi, untungnya untuk memberi makan anak istri.”

Ketiganya pun pulang dengan tampak senang dan gembira, karena membawa uang untuk modal berdagang cianeut.


Kiai perginya sudah melewati hutan, menyusuri area persawahan hingga kaki gunung, banyak menemui pemandangan, bermacam-macam jenis padinya, ada yang buruk ada yang baik. Kiai berkata kepada Ki Kékéré itu:

Paman perhatikan, padi siap panen bagus, mana yang merunduk atau yang berdiri tegak?”

Ki Kékéré cepat menjawab:

Menurut saya, yang baik itu yang berdiri tegak, pantasan kalau dilihatnya.”

Kiai berkata lagi sambil tersenyum:

Nah, dari kebodohan paman itu, tandanya tidak pernah menyentuh pekerjaan, kalau tiidak tahu, yang baik itu yang merunduk, yang membuat merunduk karena berat oleh isinya, sedangkan yang berdiri tegak, itu tanda kosong, tidak ada isinya, jadi ringan karena tak ada yang membebani. Itu juga bisa menjadi perumpamaan, bisa diibaratkan pada manusia, kalau ada orang yang cepat menyombong, itu tanda dia kosong isinya.”

Ki Kékéré menjawab dengan agak malu:

Kalau begitu benar juga, tuan, saya baru mengetahuinya sekarang.”

Lalu kemudian Kiai melanjutkan perjalanannya, tiba di pinggiran kampung, Ki Kékéré teringat waktu dahulu ia pernah menjadi santri, agak malu dan segan jika bertemu dengan saudaranya, hampir saja tidak bisa dibawa masuk dipaksa saja oleh Kiai. Setelah duduk di teras rumah Kiai, Ki Kékéré celingukan saja melihat-lihat saudaranya, Pesantren di sana tidak ada satu pun yang mengenali Ki Kékéré, karena sudah terlalu lama pergi, dan mereka pangling karena penampilannya sudah tidak pantas lagi. Hanya Ki Kékéré masih mengenali satu dua orang tua, tetapi kepada yang masih muda, yang dulu berpisah ketika masih anak-anak, semuanya sudah tidak mengenali. Kiai memberikan pakaian lengkap, sarung, baju, celana, ikat kepala, serta disediakan tempat tinggal di kamar bagian belakang rumahnya.


Adapun pada malam hari, setelah Isya, berkumpul di rumah Kiai karena akan mengadakan acara nadzar. Setelah semuanya berkumpul, Kiai berkata:

Hai para murid semua, saya mohon kesaksian, ini hajatya darsa pulukanněn, saya menyerahkan diri, agar diselamatkan nyawa dan dikabulkan, selama saya tinggal di rumah sudah beberapa tahun, bahkan kini sudah memiliki tujuh orang anak, sebenarnya saya banyak mengalami kesusahan, kini semua kesusahan saya telah lenyap, digantikan dengan kebahagiaan yang tiada batasnya.”

Hanya itu yang disampaikan oleh Kiai, lalu makan bersama seluruh keluarganya, dihadiri oleh para muridnya, Ki Kékéré pun diajak makan bersama, ditempatkan satu bakul bersama. Sepanjang acara makan itu seluruh keluarga hadir, para muridnya pun tidak berhenti berdatangan berpikir, karena Kiai begitu, lalu berkata:apa yang menyebabkan jadi senang gembira. Dan heran karena si kékéré diajak makan sebakul bersama, tapi tidak ada seorang pun yang berani bertanya kepada Kiai tentang maksud perkara itu. Sesudah makan Kiai membagikan uang, satu suku seorang, kepada semua yang ikut berkumpul makan, katanya: ini hajat nazar saya, karena saya telah dikeluarkan dari kesusahan. Orang-orang yang dihajatan semua menerima uang, serta mengucapkan doa “jazakallahu khairan katsiran”, artinya: semoga dibalas oleh Allah SWT, atas berbagai kebaikan. Makin tambah herannya orang-orang yang ada di sana. Setelah itu Kiai berkekata:

Hai semua murid, saya tahu bahwa kalian semua semua merasa heran, ya wajar saja heran karena belum tahu rahasianya, yang masih saya simpan, sekarang akan saya sampaikan. Ini si kékéré, ikut saya dari kampung, yaitu sepupu saya bernama Ki Jahidin, bersama dari kampung saya pergi mondok, dan sampai ke pesantren ini juga, setak lama berpisah, saya tetap tinggal di sini, sampai diambil menantu oleh Kiai yang terdahulu, lalu melanjutkan muruk sampai sekarang, sedangkan saudara saya kakang Jahidin keluar dari sini, berjalan sekehendaknya, mengikuti langkahnya yang kurang baik, tersesat oleh warisan pusaka dari leluhur, sampai menjadi kékéré, bertemu lagi dengan saya di kampung. Sekarang saya menyatakan kegembiraan karena bisa dipertemukan kembali dengan saudara, yang dikira sebelumnya tidak akan bertemu lagi.”

Kiai Jahidin sangat terkejut, tampak senang tapi malu, lama-lama malunya hilang, hanya tinggal rasa senangnya saja, dan ia menunjukkan perilakunya percaya pada paririmbon itu, menuruti seperti yang ditunjukkan oleh saudaranya saja, lama-lama menjadi mampu juga, memiliki rumah bertetangga, punya sawah punya kebun, dan sangat melarang kepada anak cucunya, untuk tidak boleh menghafal atau mempercayai mantra-mantra, yang pernah digunakan olehnya dahulu.

Syair

[sunting]


Ingat-ingatlah saudara sekalian,
hidup di dunia harus siap sedia,
harus bekerja keras mencari kekayaan,
supaya selamat jauh dari bencana.

Mantra itu jelas tidak ada gunanya,
malah sering membawa akibat buruk,
tidak pernah bisa membawa kesempurnaan,
seperti yang terjadi pada Ki Jahidin akhirnya.

Harus memohon kepada Allah,
tekad dan langkah jangan sampai salah,
segala perbuatan harus karena Allah,
agar hidup tidak tersesat.

Sabar dan tawakal ada syaratnya,
yaitu harus lurus tindakannya,
jika tawakal tanpa syaratnya,
akhirnya akan tersesat saja.

Tak ada lagi yang berkuasa,
selain Allah yang Mahakuasa,
maka manusia harus berserah,
menerima saja apa kehendak-Nya.

Kyai Abidin itulah yang menjadi panutan,
tekadnya kuat, jalannya terus maju,
artinya benar dengan memakai pertimbangan,
dipikir-pikir terlebih dahulu sebelum melangkah.

Segala tindakan dipertimbangkan dulu,
mana yang tidak akan membawa celaka,
hidup selamat dalam menghadapi bahaya,
dari kebenaran tidak akan jadi gila.

Perilaku yang salah tidak akan tersembunyi,
terbongkar oleh dugaan atau karena kemungkinan,
seperti pencuri yang suka berjalan menyusup,
akhirnya tertangkap oleh polisi.