Kunjungan ke Kota Peri
Premis
[sunting]Timmy si Kurcaci Kecil adalah murid yang paling tidak suka membaca. Suatu hari, Ibu Guru di sekolah membawa Timmy dan teman-temannya berkunjung ke Museum Kota Peri. Di sana, ia menemukan hal-hal yang mengagumkan.
Lakon
[sunting]- Timmy
- Ibu Guru
Lokasi
[sunting]Kota Kurcaci dan Kota Peri
Cerita Pendek
[sunting]Tugas dari Ibu Guru
[sunting]Timmy adalah salah satu murid di sekolah kurcaci. Setiap hari, ia akan diantar oleh ibunya ke sekolah untuk belajar bersama teman-temannya yang lain.
Suatu hari, Ibu Guru memberikan sebuah tugas pada kurcaci-kurcaci kecil di kelas Timmy. “Anak-anak, besok kita akan mengadakan kunjungan ke Museum Kota Peri. Karena itu, tugas untuk kalian adalah mencari dan membaca tentang hewan-hewan yang ada di bab lima ya. Besok, Ibu akan bertanya tentang apa yang kalian baca,” ujar Ibu Guru.
“Baik Bu,” jawab seluruh kurcaci-kurcaci kecil itu.
Esok harinya, Ibu Guru dan kurcaci-kurcaci kecil itu mengadakan perjalanan ke Kota Peri dengan menaiki bus sekolah. Mereka melewati barisan rumah-rumah para kurcaci yang berbentuk seperti jamur, kemudian melewati pegunungan dan padang rumput yang hijau dan indah.
Di tengah perjalanan, Ibu Guru mulai bertanya kepada kurcaci-kurcaci kecil itu. “Ana, apa kamu tahu hewan apa yang paling malas di dunia?”
“Kungkang Bu,” jawab Ana.
“Kalau hewan darat paling cepat di dunia itu apa, Bima?” tanya Ibu Guru lagi.
“Cheetah Bu,” jawab Bima.
Pada akhirnya, giliran Timmy pun tiba. “Timmy, apa kamu tahu hewan apa yang paling menyukai gula?”
Mendengar pertanyaan itu, Timmy pun merasa gugup karena ia sama sekali tidak membaca bukunya sesuai dengan yang diminta Ibu Guru. Kemarin, ia langsung bermain sepulang sekolah dan tidak menyentuh bukunya sama sekali, karena ia merasa membaca buku adalah kegiatan yang membosankan.
Akibatnya, Timmy adalah satu-satunya murid yang tidak bisa menjawab pertanyaan Ibu Guru. Ia pun akhirnya hanya diam saja sambil menggaruk kepalanya dan tersenyum pada Ibu Guru.
Melihat senyum Timmy, Ibu Guru pun menggelengkan kepalanya. “Timmy, Timmy, Ibu kan sudah bilang berkali-kali, jangan terlalu banyak bermain. Kamu seharusnya membaca lebih banyak buku, karena buku adalah jendela dunia.”
Kunjungan ke Museum
[sunting]Usai berbicara, Ibu Guru melihat ke luar jendela bus dan berkata, “Anak-anak, kita sudah sampai di Museum Kota Peri.”
Dengan penuh rasa penasaran, kurcaci-kurcaci kecil itu tergesa-gesa turun dari bus dan menatap gedung besar yang ada di hadapan mereka. Melihat gedung berwarna keemasan yang tinggi dan berkilap, para kurcaci kecil, termasuk Timmy pun terkagum-kagum.
“Wah, indah sekali. Aku tidak pernah melihat tempat sebagus ini di Kota Kurcaci,” kata Timmy.
“Baiklah anak-anak, sekarang Ibu ingin kalian berbaris dan masuk dengan tenang ya. Ikuti Ibu dan jangan sampai berpencar,” perintah Ibu Guru.
Dengan patuh, kurcaci-kurcaci kecil itu pun berbaris dan masuk ke dalam museum. Ketika mereka masuk, yang mereka lihat hanyalah rak-rak buku yang berbaris rapi di hadapan mereka. Di setiap rak, tersusun berbagai macam buku dengan rapi.
Melihat bahwa yang ada di dalam museum hanyalah buku-buku yang ia anggap membosankan, Timmy pun mengeluh dengan kecewa, “Ah, ternyata hanya buku yang membosankan. Kukira yang ada di dalam sini adalah barang-barang yang indah.”
Tak disangka, Ibu Guru mendengar keluhan yang Timmy katakan dengan suara yang kecil itu. Ibu Guru pun hanya tersenyum dan meminta Timmy untuk maju.
“Anak-anak, karena pelajaran kita kali ini adalah tentang hewan-hewan, maka hari ini Ibu akan menunjukkan tentang hewan-hewan yang sudah kalian baca. Nah, Timmy, bisakah kamu membantu Ibu dan mengambil buku tentang hewan dan membukanya?” pinta Ibu Guru.
Timmy pun mengambil sebuah buku yang berjudul Apa yang Kamu Tahu tentang Hewan-Hewan Laut? Sesuai permintaan Ibu Guru, Timmy pun membuka buku itu.
“Byur!” Begitu buku itu dibuka, seekor paus besar melompat keluar dan melayang di atas rombongan kurcaci-kurcaci kecil sambil memercikkan air kepada mereka. Dengan kagum, Timmy pun melihat paus itu berenang dengan tenang di atas mereka.
Kurcaci-kurcaci kecil melihat paus itu dengan penuh kekaguman. Selama ini, mereka belum pernah melihat paus maupun hewan air yang sebesar itu.
Timmy pun kemudian membalikkan halaman buku itu dengan penuh rasa penasaran.
Paus yang ada di atas kepala mereka pun lenyap. Di saat yang sama, seekor kuda laut melayang keluar dengan perlahan dan bergerak di atas buku itu. Dengan penasaran, Timmy pun menyentuh kuda laut berwarna biru itu.
Dalam sekejap, kuda laut itu pun menghilang ketika disentuh oleh Timmy.
“Nah anak-anak, seperti yang Ibu katakan di bus tadi, buku adalah jendela dunia. Dengan rajin membaca, kita dapat melihat dan mengetahui hal-hal yang tidak kita ketahui atau tidak pernah kita lihat,” kata Ibu Guru.
“Buku-buku yang ada di Museum Kota Peri ini sudah diberi sihir sehingga isinya bisa muncul seperti ini.” Ibu Guru mengambil buku lain dari rak yang ada di dekatnya dan membukanya, membuat seekor kucing melompat keluar dan bergerak di antara kerumunan kurcaci-kurcaci kecil itu sambil mengeong.
“Tetapi, walaupun di Kota Kurcaci tidak ada buku yang seperti ini, bukan berarti kita tidak bisa melihat dunia melalui buku,” lanjut Ibu Guru. “Dalam buku pelajaran kalian pun, terdapat gambar-gambar hewan seperti ini kan? Walaupun buku-buku itu tidak bisa memunculkan hewan-hewan seperti ini, tapi mereka tetap bisa memberi kalian pengetahuan.”
“Nah anak-anak, sekarang kalian boleh berkeliling dan melihat buku-buku yang ada ya. Tapi ingat, jangan merusak buku-buku ini,” kata bu Guru.
Mendengar kata-kata Ibu Guru, kurcaci-kurcaci kecil itu pun berlarian dengan semangat di antara rak-rak buku yang ada di antara mereka. Tak ketinggalan, Timmy pun ikut serta dan berlari ke rak yang ada di dekatnya.
Dengan semangat, ia pun membuka buku lainnya berjudul Apa yang Bisa Kita Temukan di Gurun. Seperti yang terjadi dengan buku-buku sebelumnya, butiran-butiran pasir terbang keluar dan membanjiri kaki Timmy, membuat Timmy seolah-olah sedang berada di tengah gurun pasir.
“Wah, Bu Guru, lihat ini,” kata Timmy dengan gembira pada Ibu Guru. “Saya tidak pernah melihat Gurun pasir Bu.”
Ibu Guru pun tersenyum melihat kegembiraan Timmy.
Tekad Timmy
[sunting]Tanpa terasa sore pun sudah tiba. Dengan berat hati, para kurcaci-kurcaci kecil harus segera meninggalkan museum dan pulang ke Kota Kurcaci. Dengan sedih, mereka pun naik ke bus dan sekali lagi menempuh perjalanan melalui pegunungan dan padang rumput.
Di dalam bus, Timmy pun membuka buku pelajarannya dengan keinginannya sendiri untuk pertama kalinya. Ia pun membuka bab lima. Pada bab itu, Timmy pun melihat dan membaca tentang kungkang si hewan pemalas dan semut si penyuka gula. Walaupun kungkang yang ada di dalam buku itu tidak bisa keluar dan bergerak, tetapi dari gambar itu, Timmy mengetahui bahwa kungkang adalah hewan yang bergerak sangat lambat.
Ketika kembali ke sekolah, Timmy pun berkata pada Ibu Guru dengan wajah yang gembira, “Bu Guru, mulai hari ini, saya berjanji akan belajar dengan tekun dan rajin membaca. Suatu hari, saya ingin pergi mengelilingi dunia dan melihat hewan-hewan ini sendiri.”
Ibu Guru pun tersenyum mendengar janji Timmy dan mengelus kepala Timmy.
Setelah melakukan kunjungan ke Museum Kota Peri, Timmy pun sudah tidak malas membaca dan mulai menyukai buku-buku.