Lompat ke isi

Kupang Bando

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Ellen Maharani

[sunting]

"Cidaan.."

Suara Ellen disusul bunyi ketukan pintu kamar indekosku. Dia menyingkat namaku dari "Mussidan" ke "Cidan". Entah berapa kali kupinta dia untuk memanggilku "Sidan" saja. Benar saja, setelah kubukakan pintu, syal maroon berlogo Griffyndor yang dililitkan di lehernya terlebih dulu menyita pandanganku. Hari ini hujan hampir seharian. Dari pagi hingga sore, aku lebih memilih berbaring di kasur empuk yang baru saja aku beli. Empuk karena pirnya masih utuh.

"Yuk, ke pasar malam"

Tanpa basa-basi dia menyodorkan kunci mobilnya. Entah seakan mulutku kedodoran, "Aku mandi dulu", jawabku malah, alih-alih menolaknya. Mataku disumpal senyum topping rona bibirnya, otakku kompak membeku. Telingaku dibuai melodi yang ia mainkan dibalik sebutan namaku, hatiku berseteru. Perempuan ini menyabotase pikiranku yang sistematis dan berhasil membuahkan artikel jurnal di Sinta 1.

Panci yang Mengepul

[sunting]

Bianglala tampak menyala dari kejauhan menandakan pasar malam yang kami tuju kian dekat. Kami memarkirkan mobil tak jauh dari pintu masuk.

Papan triplek bertuliskan "Lontong Kupang" di atas sebuah gerobak makan menghadang langkah kami masuk. Papan triplek yang setengah basah itu seolah menambah kesan magis teks "Lontong Kupang".

Kami langsung teringat makanan khas tersohor yang disebutkan banyak orang. Setidaknya untuk kami yang baru seminggu tinggal di kota ini telah mendengar nama harumnya. Namanya melegenda, dipuji dan direkomendasikan orang beragam kalangan. Kami tak sengaja mengupingnya saat makan di warung dekat indekos.

Segera setelah kami menghampiri sang penjual dan mengucapkan sebuah kalimat, "dua porsi, makan di sini." Sang penjual dengan sigap membuka sebuah panci loreng dengan motif bercak kehijauan tak beraturan, segera tercium aroma yang tak biasa olehku. Aku tak dapat mendeskripsikannya, tapi perutku serasa memberontak sebelum bertemu dengannya. Panci itu mengepulkan asap yang tak ramah untuk indera penciumanku. Berbeda dengan Ellen, ia tampak bisa menerima aroma dari panci loreng itu.

Bersambung...