Kuperkenalkan Dia Kepada Nyai
Kuperkenalkan Dia Kepada Nyai
[sunting]Suara tabuhan bedug bertalu-talu, diiringi seruan takbir yang dilantunkan sejak tenggelamnya matahari. Di ruang keluarga, meja kopi di tengah ruangan nampak penuh dengan pempek, botol cuko, dan gelas kopi, menemani senda gurau para pemuda yang tengah menikmati malam takbiran.
Nyai nampak duduk santai dikelilingi cucung dan mantu serta beberapa cicit yang duduk bersimpuh di lantai. Sementara Akas dan para Pakwo duduk di depan rumah.
Sebuah taksi berhenti di depan pagar rumah Akas dan Nyai. Akas dan para Pakwo menghentikan sesaat obrolan mereka untuk melihat siapa yang datang. Seorang gadis berkacamata turun diikuti pemuda asing berkulit putih dan berambut kecokelatan.
“Assalamualaikum Akas,” sang gadis mencium tangan Akas dan berikutnya menghampiri para Pakwo yang lain sesuai urutan yang dituakan.
“Waalaikumsalam, Naira” ucap Akas hangat menyambut cucunya yang paling jarang pulang. Naira tersenyum sambil merengkuh tangan pemuda yang datang bersamanya, dan si pemuda maju menghadap Akas sambil mengulangi apa yang dilakukan Naira.
“Assa… lamualaikum, Ah..kazh,” ucapnya sambil mencium tangan Akas, yang segera menjawab salamnya ramah sambil menepuk nepuk lengan atas si pemuda yang diperkenalkan sebagai ‘Mattheo’.
Naira mendekati ayahnya; “Ubak, Nyai ada di dalam kah?” tanyanya setengah berbisik. Sambil merengkuh bahu Mattheo, Ubak mengantar mereka berdua hingga ke dapur yang terletak di tengah rumah, sambil berbincang kecil dalam bahasa Inggris.
Di dapur; Naira dan Mattheo disambut oleh para Makwo dan Umak; tidak semua dapat berbahasa Inggris, beberapa Makwo tanpa ragu menyapa Mattheo dalam Bahasa Komering. ‘Tinggal Nyai…’ batin Naira.
Nyai punya tiga cucu perempuan termasuk Naira. Ayuk yang tertua memilih laki-laki yang salah, yang meninggalkan si Ayuk dengan dua anaknya tanpa berita. Sementara Ayuk yang nomor dua direlakan dengan berat hati oleh Nyai saat memutuskan meninggalkan tanah air karena menolak konsep pernikahan.
Tidak ingin Naira mengalami nasib sama, Nyai menekankan pada Naira untuk selektif memilih laki-laki; dan jika memang serius, maka siapapun dia, harus dipertemukan dengan Nyai di Plaju, area urban di kota Palembang, ibukota Sumatera Selatan.
Dan untuk itu Mattheo menempuh jarak ribuan kilometer dari Helsinki, untuk menemui Nyai dan meminta persetujuan sang Nenek. Seisi ruangan hening seketika begitu Naira dan Mattheo berdiri di ambang. Semua mata tertuju pada mereka. Naira berjalan gemetar menuju tempat Nyai duduk.
Naira bersimpuh sambil mencium tangan Nyai. “Apo kabar, Nyai?” ujarnya lirih. Nyai tersenyum sambil mengelus rambut Naira yang sudah tiga tahun tidak ditemuinya.
Pandangan mata Nyai tertumbuk pada Mattheo, yang juga sudah berlutut di samping Naira. “Siapo kau?” Tanya Nyai pada Mattheo. Sang pemuda menatap mata Nyai yang teduh; dan perlahan menjawab pertanyaan Nyai dengan fasih; setelah secara intensif mempelajari bahasa yang digunakan sehari-hari di kota Palembang.
“Mattheo, Nyai. Datang kemari nak memperkenalke diri, aku ni calon suaminyo Naira,” jawabnya dengan lancar sambil tersenyum lembut. Satu tangan Mattheo menjabat tangan keriput Nyai, sementara satunya lagi menggenggam tangan Naira yang sudah terasa dingin.
Nyai tersenyum lembut sambil menatap Naira dan Mattheo; “Kalian beduo ni tidukla, pasti capek terbang jauh nian; besok kito nak salat pagi-pagi, kagek kau kesiangan.” Ujar Nyai lembut.
Dan saat itu Naira merasa beban di pundaknya terangkat sudah.