Lompat ke isi

Kuputuskan dengan Bismillah

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Ketika bait demi bait tertulis dalam kisah ini, semua sudah tak lagi sama. Tertulis khusus untuk seseorang yang mendambakan masa depan pada waktu itu. Seseorang dengan mimpi tergenggam erat ditangan. Mimpi yang dilepaskan lewat kata demi kata, sujud sepanjang hayat. Menulis dengan berirama, lalu berirama menyambut semua kedatangan. Dengan berat melepas kepergian, berlalu dan berganti.

Semua tulisan dan seuntai kata sudah tergores dalam tinta hayati, diperuntukkan kepada orang-orang spesial nan berharga bagi diri. Namun kali ini, tulisan dengan serta merta tertuju pada satu jiwa. Satu-satunya penyemangat dunia, teman dunia akhir, hingga akhir hayat dan semoga sampai kehidupan selanjutnya.

Seorang gadis kecil berbalut mukena biru motif strawberry lucu dengan gemas menuntun lidahnya berusaha mengingat lantunan Surat Al-Falaq “....wa min syarrin naffaa saatifil ‘uqod” “huhhh” Belu selesai ayat itu dibacanya, ia sudah bergumam lelah. “wa min syarri haa sidin.....’falaq”. Belum tuntas bacaannya, “Amiii! Bukan ‘Falaq’tapi?”. Dengan muka merah yang lelah menahan rasa kantuk, gadis kecil itu tersenyum malu namun tetap saja pandangannya memelas. “Bun, susah banget sih surat ini dihapal, Ami capek tau”. Suara tercekat dengan susah payah menahan bulir air mata yang sudah siap terjun dari ujung kelopak mata itu terhenti serentak.

"Hei! Kok bilangnya gitu sih Ami!”. Itu bukan suara lembut Bunda yang menenangkan setiap keluh kesah. “Allah memberikan apa yang Ami pikirkan dan Ami pinta! Jadi harus ngomong yang baik-baik, ‘Al-Kalaamu Du’a”. Itu suara Ayah yang tiba-tiba datang tanpa mengucap salam, geram mendengar kesulitan yang menerpa gadis kecilnya. Ternyata setelah sholat subuh pagi ini, Ayah pulang lebih cepat.

"Ayo mulai lagi, semangat dong. Pagi ini jadwal setorannya kan?”. Bunda bertanya dengan lembut sembari mentransfer semangat baru. “I-iya, tapi bun kenapa ayat yang ini selalu lupa, susah banget direkam didalam sini”. Gadis kecil itu menunjuk kepala sembari berusaha menopang kepala yang hampir saja pecah kala itu.

Bagaimana tidak, pagi-pagi buta ia sudah bangun untuk membaca dan berusaha menghapal surat pendek yang terasa panjang dibenaknya kala itu. Mengingat lagi dan lagi dengan harapan semua akan berjalan lancar nantinya. Namun bagaimana itu akan tercapai, baru saja satu kesalahan yang ia perbuat, air mata sudah ingin jatuh membasahi juz amma ditangannya.

Sebenarnya, sudah mulai tadi malam ia mulai menghapal bacaan Surat Al-Falaq itu. Setiap kali mencoba memejamkan mata, mengingat kembali bacaan ayat terakhir itu, berkali-kali pula potongan ayat itu lenyap entah kemana perginya. Sprai bantal yang seharusnya menemaninya bermimpi terlelap tadi malam, malah basah kuyup dengan air mata yang terus jatuh semakin deras.

Pagi pun tiba, dengan berat setengah hati gadis kecil itu mengenakan kaus kaki merah jambu, terpaksa membujuk kakinya datang kesekolah. Ini adalah hari setoran jadwal pagi, dengan nama urutan alfabet ‘A’ mau tidak mau ia harus menjadi yang pertama. Berat hati dan susah payah ia mulai lantunan ayat demi ayat dari mulut kecilnya. Berusaha keras memberikan yang terbaik, berupaya melantunkan dengan nada dan tajwid yang seirama.

Dan akhirnya, benar saja. Ia tidak dapat menyelesaikan Surat Al-Falaq itu. Bukan hanya sedih yang ia rasa, namun malu tak terbayarkan terus menghantui sanubarinya. bukan hanya detik itu, bahkan setelah bertahun-tahun berlalu, rasa malu dan ketakutan itu terus menghantui diri kecil itu. Gadis kecil itu berlari pulang bergegas mencapai sudut teraman baginya, menutup pintu rapat-rapat lalu memeluk bantal yang tadi malam basah kuyup untuk lagi dan lagi.

Gadis itu terbangun dari tidurnya, membuka mata dan siap menyambut hari cerahnya. Setelah 3 tahun berada dipondok pesantren tempat ia mengabdikan hapalannya. Ia berhasil mencapai titik ini, bergegas berkemas diri lalu mengenakan mahkota terbaiknya. Yang nantinya akan diberikan kepada Ayah dan Bunda sebagai hadiah selama pengabdian ini. Walaupun hanya 10 juz yang ia mumpuni, namun setidaknya Surat Al-Falaq yang membuat mata gadis itu membengkak merah 7 tahun yang lalu, sudah khatam dilantunkan dengan awal bismillah.