Kurikulum Sungai
"Mengapa sungai di sini selalu diceritakan dengan aroma kotor?"
Kalimat itu terlintas cepat dalam pikiran saya. Memang dalam realita yang tak bisa dibantah pemimpinnya, sungai di sini sangatlah keruh dan berwarna coklat menyala. Entah berapa kotoran yang sudah berkolaborasi dengan sumber daya yang dapat diperbaharui ini.
Saya Jumadi. Makhluk yang mendapat takdir rekaan untuk mengajar di siring sungai. Saya meraih gelar sarjana pada usia kuliah yang tidak biasanya. Maka dari itulah, saya ditugaskan untuk mengajar di sini. Bukan untuk mengabdi, hanya ingin meneliti. Bagaimana pembelajaran Bahasa Indonesia dapat diterapkan dengan model ini, itu, apa-apalah? Bagaimana pencampuran bahasa yang terjadi di daerah tersebut? Bagaimana persepsi Masyarakat suang setelah membaca novel berlatar sungai tersebut?
Tidak hanya sekali, para peneliti kampus datang ke beberapa sungai di seluruh penjuru ini. Entah sampai kapan mereka akan berpindah ke masyarakat petinggi, seperti pegunungan. Setiap selesai, mereka pasti membagi hadiah yang dikhususkan kepada pemangku sungai. Sedang masyarakatnya? Mereka hanya kebagian dokumentasi yang dalam satu abad beirkutnya akan menjadi foto langka yang dijual miliar harga.
Sudah tiga hari saya berada di rumah kepala desa. Beliau memberikan saya banyak jamuan, seperti beras kencur, temulawak, brotowali, dan selalu diakhiri jahe. Entah darimana beliau mendapatkannya, mungkin barter dengan masyarakat petinggi.
Sehari sebelumnya, saya sudah memperkenalkan diri kepada anak-anak di sini. Seperti pada umumnya, tidak ada yang peduli. Saat menjelaskan tujuan saya, tidak ada yang peduli. Saat membuka pertemuan belajar pertama pun, tidak ada yang peduli. Meski sudah dengan kalimat santun dan mudah dipahami, yang saya pelajari dalam ilmu pragmatik.
Pertama kali saya melakukan penelitian mandiri ini, bingung bagaimana agar berjalan lancer seperti sungai yang masih mengalir meski banyak kotoran menghalanginya. Trereng. Bak bunyi lampu yang tiba-tiba muncul dan nyala, ide baru tertancap pada kata kotoran, yakni kontekstual. Mungkin gara-gara sama huruf awal k pikir saya.
Hari kelima, buku pelajaran tak lagi saya bawa. Yang dibentangkan di lantai balai kali ini hanyalah seikat daun pisang yang ditemukan akan berenang di sungai, seekor ikan sepat karing yang dijemur di muka jalan, dan selembar anyaman purun yang diberikan nenek yang tidak dikenal.
Tak ada suara tegas, tak ada aba-aba. Anak-anak hanya lewat begitu saja, dengan langkah ragu dan mata penasaran. Sebagian membawa pancingan kecil, mungkin ingin mencabut nyawa ikan di pagi hari. Sebagian menggotong keranjang ikan berair, yang menandakan baru saja dapat nyawa ikan itu.
Saya duduk bersila, menunggu, membiarkan mereka lalu lalang dulu.
“Selamat pagi, adik-adik. Terima kasih sudah mau berhadir di kelas pagi ini. Hari ini kita akan belajar perumpamaan, nah tapi kali ini berbeda, yakni tanpa buku.”
Tak langsung ada yang duduk. Tapi satu anak-anak laki, berteriak dari kejauhan, tiba-tiba mendekat dan bersila. Demikian pula teman-teman lainnya yang beriringan mengikuti. Huh tidak di kota, di desa pun mereka suka fomo.
Tiada basa-basi yang dikeluarkan, saya menunjuk daun pisang. “Kalau ini kalian anggap sebagai seseorang, dia siapa?”
“Uma saya, Pak!” jawab anak laki-laki tadi cepat. “Hah? Kok bisa? Alasannya apa?”
“Soalnya daun pisang kan warna hijau, uma suka baju warna hijau. Terus kalau sudah tua, warna coklat mirip banget sama rambut mama.”
Tawa kecil muncul dari anak-anak yang tadinya cuma berdiri. Lalu satu-satu semakin bertambah anak-anak mulai mendekat.
“Betul, Pak. Mama saya juga suka koleksi daun pisang!” sahut anak lain.
Hah??!
“Saya beda, Pak. Kalau saya, nenek,” jawab anak lain lagi.
Apalagi ini?? Tak ingin teka-teki ini menjadi tiki-taka, saya langsung menahan kericuhan mereka.
“Sudah, sudah. Kalau ini, kalian anggap siapa?” Giliran ikan sepat karing yang saya tunjuk. “Bapak,” kata anak lain.
“Hah? Saya?”
“Bukann. Bapak sayaaaa. Kadang ada, kadang nggak ada. Tapi aromanya tetep di rumah.”
Loh. Tawa lebih lepas dalam ruangan itu.
Saya terdiam. Entah karena jujur, atau karena terlalu dalam untuk ditertawakan. Dalam kurikulum mana ada perumpamaan seperti itu? Saya yakin anak-anak ini belum pernah membaca Chairil, apalagi Sitor Situmorang. Tapi metafora mereka lebih hidup daripada puisi yang sering saya baca di koran daring tiap minggu.
Saya tersenyum, melanjutkan pertanyaan, menunjuk anyaman purun. “Kalau yang ini?”
Mereka saling pandang. Tak ada yang menjawab cepat seperti tadi. Anyaman purun itu terlalu biasa. Terlalu dekat.
“Rumah,” ucap anak perempuan akhirnya. “Kenapa?”
“Karena kita duduk di atasnya.”
Jawaban dia sederhana, tapi entah apa. Saya mengangguk pelan, bukan karena mengerti sepenuhnya, tapi karena pelajaran hari ini telah dimulai tanpa disadari.
Hari-hari berikutnya, balai yang kadang bau terasi, kadang bau nasi basi, sekarang selalu terisi. Tidak terlalu ramai, tapi juga tidak sepi seperti pada pertama hari. Anak-anak datang dengan caranya sendiri. Kadang hanya ingin duduk memasang tali, kadang cuma berdiri menyender dinding, kadang hanya ingin mewarnai daun sawi, kadang malah tidak belajar sama sekali.
Saya tetap mengingat semuanya, meski tidak menuliskannya di buku catatan. Bahasa mereka menyelip ke kepala saya seperti aliran sungai kecil, pelan tapi pasti membentuk lekuk. Cara mereka menyebut aku, saya yang berubah jadi ulun, atau kamu yang kadang jadi pian, bukan sekadar kebiasaan. Tapi cara mereka menandai tempat tinggalnya, menyematkan air dan tanah ke dalam setiap kata.
Kadang saya menulisnya di kertas bekas bungkus temulawak. Kadang saya cuma menyimpannya di ujung malam, saat suara jangkrik lebih jernih dari logika. Saya tahu ini bukan data dalam arti kampus, bukan juga catatan ilmiah yang bisa dikutip siapa pun. Tapi inilah bahasa mereka, dan saya sedang berusaha mendengarkan dengan sepenuh tubuh saya.
Timbullah satu hari yang membuat saya menutup buku penelitian.
Hari itu hujan besar turun sejak subuh. Sungai meluap. Deras airnya menelan suara dan menepis semua jadwal. Tapi seorang anak laki-laki datang, tubuhnya basah sebagian, membawa sesuatu dalam kantong plastic yang airnya bercucuran tidak bisa diam.
“Pak, liat ini. Aku bawa surat,” katanya sambil tersenyum bangga, seolah sedang membawa benda paling penting di dunia.
Surat?
Kertas lusuh, tulisannya goyah, penuh coretan tak tentu arah, dengan kalimat patah-patah. Saya baca dengan tiada terengah.
Kepada Bapak Jumadi, dari aku. Kalau Bapak nanti pergi, aku titip sungai ya. Sama daun, sama ikan, sama rumah. Jangan lupa balik. Soalnya aku belum ngerti kenapa bapakku kayak ikan sepat karing itu.
Saya tercekat. Saya terbiasa dengan puisi patah-patah dari teman-teman kampus yang kata- katanya luar binasa. Tapi surat itu bukan puisi. Bukan tugas. Bukan hasil riset. Itu pengakuan. Tulus. Diberikan begitu saja.
Bahkan kata-katanya tidak rumit seperti yang biasa saya temui di makalah akademik. Tapi justru karena itulah, saya mulai bingung, siapa sebenarnya yang sedang belajar?
Saya menatap surat itu lama. Hujan belum reda, tapi kantong plastik kecil itu kini terasa seperti amplop suci dari dunia yang tak bisa saya ukur dengan rubrik penilaian manapun.
Titip sungai. Katanya.
Kalimat itu terus bergema, seperti nada yang tak pernah selesai. Bukan hanya airnya yang dititipkan, tapi seluruh kehidupan di sekitarnya. Tawa anak-anak di sore hari, kaki-kaki kecil yang mengejar kepiting di lumpur, suara ringan yang tak pernah masuk kurikulum.
Awalnya saya hanya datang untuk mencatat. Tapi hari-hari yang berlalu terlalu hidup untuk sekadar dimasukkan ke dalam tabel atau grafik. Setiap pagi selalu penuh warna, suara manusia yang menirukan kodok dari balik semak, seorang anak perempuan dengan pita merah menari-nari sambil membawa daun pisang, anak laki-laki yang mengajarkan cara meniup rumput hingga bersuara.
Hari kesepuluh, saya tak lagi membawa catatan. Kami menulis huruf dari pasir yang membuat kuku hitam. Menulis cerita di punggung daun yang kadang getahnya bisa dijual. Mengarang pertanyaan dari bayangan awan.
“Kalau awan ini jadi kata, katanya apa, Pak?” tanya seorang anak perempuan dengan mata bening yang selalu ingin tahu.
“Rindu,” jawab anak laki-laki yang berambut balbala, cepat dan lantang, disambut gelak tawa kawan-kawannya. Bukan karena artinya, tapi karena nada suaranya seperti penyiar radio yang sedang merayu hujan.
Sore harinya kami membuat lomba perahu dari sabut kelapa. Setiap anak diberi waktu lima menit untuk menghias. Tidak ada juara. Tidak ada piala. Yang tercepat mendapat tepuk tangan, yang tercepat karam mendapat tawa yang paling keras.
Malam itu saya duduk di pinggir siring, mengamati riak air yang memantulkan cahaya lampu minyak dari rumah-rumah panggung. Suara anak-anak masih terdengar, seperti nyanyian yang dibuat-buat tapi tulus dari hati. Mereka menyanyikan lagu tanpa lirik tetap, tanpa irama yang pasti. Tapi itu lebih indah dari nyanyian mana pun yang pernah saya dengar.
Laporan penelitian yang saya bawa dari kampus pun akhirnya saya buka kembali. Tapi bukan untuk direvisi. Entahlah, mungkin menulis ulang. Bukan dengan bahasa yang penuh istilah pastinya, tapi dengan kalimat yang bisa dimengerti oleh penghuni sungai in.
Bahasa tak hanya untuk dibaca. Ia untuk dirayakan.
Ia hidup dalam pasir yang ditulisi cerita. Dalam tawa yang meledak saat huruf salah dibaca.
Dalam sungai yang mengalirkan cerita, bukan hanya air.
Pagi ke sebelas.
Seorang anak laki-laki datang dengan potongan bambu yang ia lubangi jadi suling. Anak perempuan berambut ikal membawa kelopak bunga sepatu yang ia lumatkan jadi tinta merah. Ada yang datang membawa batu pipih yang bisa dijadikan papan tulis, ada juga yang hanya membawa senyum, dan itu sudah cukup.
Aku hanya tertawa, mencatatnya diam-diam di hati.
Malamnya, tak banyak yang bisa ditulis lagi. Karena jujur saya tidak dapat memastikan mau kemana tulisan saya.
Daftar pustaka dihapus. Bukan karena tak penting, tapi karena sungai dan anak-anak sudah cukup jadi sumber belajar yang paling sahih. Laporan tak jadi dikirim ke kampus. Disimpan saja di rak balai. Di samping anyaman purun dan lukisan anak laki-laki yang menggambarkan saya sebagai manusia berkepala daun.
Dua minggu kemudian, kapal dari kota menepi. Kepala desa bertanya, “Sudah selesai, Nak?”
Terlihat anak laki-laki di seberang, mengangkat perahu dari kulit jeruk bali. “Belum, Pak. Saya belum selesai diajar.”
Pendidikan bukan sekadar soal buku, nilai, atau dinding sekolah. Ia tumbuh di tempat-tempat yang tak terlihat, kadang di tawa anak-anak, di tangan yang belepotan lumpur, di mulut yang riang menyanyikan puisi asal bunyi.
Mengapa pendidikan harus selalu dibingkai dalam narasi sedih?
Apa salahnya jika pendidikan dibingkai dengan sorak dan nyanyian, dengan permainan dan rasa ingin tahu yang melompat-lompat?
Sekolah tidak harus megah. Cukup satu ruang jujur yang tak takut salah, tak takut kotor, tak takut tertawa keras-keras.
Kurikulum dari sungai ini mungkin tak tertulis, tapi justru karena itu, ia terus mengalir.
Dan selama ada anak-anak yang mau bertanya, selama ada satu orang dewasa yang mau menjawabnya dengan gembira, maka di situlah pendidikan sedang berlangsung.