Lompat ke isi

Legenda Sang Pendekar Si Pahit Lidah

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Legenda Sang Pendekar Si Pahit Lidah (Serunting Sakti) Si Pahit Lidah adalah salah satu legenda cerita rakyat paling terkenal dari Sumatra Selatan, khususnya daerah Pasemah (Pagar Alam, Lahat, Muara Enim) dan Semendo. Tokoh utamanya bernama Pangeran Serunting Sakti, seorang pendekar sakti mandraguna yang dijuluki "Si Pahit Lidah" karena kesaktiannya: setiap ucapan atau sumpah yang keluar dari lidahnya bisa menjadi kenyataan, sering berupa kutukan yang mengubah orang, hewan, atau benda menjadi batu. Legenda ini memiliki beberapa versi, tapi intinya mengajarkan tentang bahaya iri hati, sombong, serta pentingnya menggunakan kekuatan untuk kebaikan. Versi Utama: Konflik dengan Aria Tebing dan Pencarian Kesaktian Dahulu di Negeri Sumidang (atau Banding Agung), hidup Pangeran Serunting, keturunan raksasa Putri Tenggang. Ia menikahi Siti, seorang gadis desa, dan tinggal bersama adik iparnya, Aria Tebing (atau Arya Tebing). Pekarangan rumah dibagi dua oleh pohon besar, tapi jamur emas (simbol kekayaan) hanya tumbuh di bagian Aria Tebing. Serunting iri dan menuduh Aria mencuri pohonnya. Mereka bertarung, tapi Serunting kalah karena Aria tahu kelemahannya dari Siti. Malu, Serunting mengasingkan diri ke gunung (Gunung Merapi atau Mahameru) untuk bertapa. Ia bersemedi bertahun-tahun, tubuhnya ditumbuhi daun, hingga mendapat anugerah dari Sang Hyang: lidahnya menjadi sakti – ucapannya bisa jadi kutukan. Dalam perjalanan pulang, Serunting menguji kesaktiannya:

Melihat pohon tebu, ia berkata "Jadilah batu!" – langsung menjadi batu. Bukit gersang (Bukit Serut) diubah jadi hutan lebat. Membantu pasangan tua tak punya anak dengan mengubah rambut jadi bayi.

Karena kutukan lidahnya yang "pahit", ia dijuluki Si Pahit Lidah. Akhirnya, ia memaafkan Aria Tebing dan Siti, lalu hidup rukun sambil berbuat baik. Versi Lain: Adu Kesaktian dengan Si Mata Empat Di versi ini, Si Pahit Lidah bertarung dengan pendekar lain bernama Si Mata Empat (punya empat mata, dua di belakang). Mereka adu sakti di tepi Danau Ranau. Si Mata Empat licik, menantang lempar bunga aren – ia menghindar, tapi Si Pahit Lidah terkena dan mati. Namun, Si Mata Empat penasaran mengecap lidah lawan yang beracun, lalu mati juga. Keduanya dimakamkan di sana, dan batu-batu megalitik di sekitar diyakini hasil kutukan Si Pahit Lidah. Warisan dan Makna Legenda ini terkait erat dengan situs megalitik Pasemah (patung batu kuno) yang diyakini masyarakat sebagai hasil kutukan Si Pahit Lidah – seperti Batu Puteri, Batu Gajah, atau Bukit Batu di OKI. Makamnya konon ada di Semendo atau Pagar Alam, dengan keris pusaka Tata Renggane. Pesan moralnya: Jangan iri hati atau sombong, gunakan kekuatan untuk menolong sesama, dan hati-hati dengan ucapan. Cerita ini masih hidup di masyarakat Besemah, jadi inspirasi seni, wisata, dan pengingat nilai budaya Sumsel.