Lelah
Tahun ini doa dan harapanku masih sama, "Tuhan, izinkan aku untuk bisa berjalan bersama mereka." sepenggal kalimat yang terus ku utarakan selama bertahun-tahun. Meski hanya sekali, biarkan aku merasakannya. Aku lelah terus diinjak-injak, seakan hadirnya diriku di dunia ini tidaklah lebih berharga dari sehelai daun kering yang diterpa angin. Izinkan aku untuk melangkah bersama mereka. Tidak perlu berlari, perlahan saja. Perlaha-lahan, hingga akhirnya aku bisa berlari bersama mereka.
Aku hampir tidak sanggup lagi untuk bertahan. Berada di antara lautan manusia, namun hanya dapat menonton sambil memikirkan alur kehidupan yang pahit. Aku benci hidup di dunia. Dunia yang hanya memihak pada mereka yang sempurna, tanpa pernah melihat bahwa masih ada manusia tidak sempurna yang ingin dilihat. Manusia yang hidup di bagian terpahit di dunia.
Tiada tempat yang aman. Segala tempat terasa menakutkan, seolah berisi makhluk-makhluk buas yang siap menerkam. Ketika aku tidak siaga, maka diriku akan ditelanjangi, dirobek dan dihancurkan hingga tidak terbentuk. Rasanya begitu menyiksa. Tidak ada tempat bagiku untuk merasakan ketenangan, semua orang nampak begitu mengerikan di mataku.
"Kamu yakin mau ajak dia?"
"Setahu aku dia emang gitu. Mungkin karena dia tunawicara, jadinya dia nggak suka bergaul."
"Bukannya itu Reina ya? Anak ipa 1 yang nggak bisa bicara."
"Cantik sih, tapi sayangnya nggak bisa ngomong."
Kenapa? Apakah tidak bisa berbicara merupakan kesalahan? Aku tidak pernah meminta untuk terlahir dengan keterbatasan. Jika disuruh memilih, aku lebih baik menjadi seekor batu. Setidaknya, meski aku dilempar, diinjak dan bahkan dibuang, aku tidak bisa merasakannya. Itu jauh lebih baik daripada aku harus merasakan rasanya diasingkan.
Saat-saat seperti inilah aku berada di posisi terendah dalam hidup. Tidak tahu harus melakukan apa. Tidak ada tempat bagiku untuk bersandar. Tidak ada satupun manusia yang dapat menopangku untuk berdiri. Rasanya aku ingin menyerah, namun sesuatu mendorongku untuk terus bertahan. Bertahan pada takdir yang terus membawaku mengikuti alur kehidupan yang pahit.
"mama, papa, sama adik mau ke bandung. Kamu jaga rumah. Nggak usah keluar. Kalau lapar ada ikan di kulkas, masak aja. Mama sengaja nyiapin banyak biar kamu di rumah aja."
Rumah yang harusnya memberiku kebahagiaan bahkan tidak menerima diriku sendiri. Orang tua yang harusnya menjaga diriku, bahkan hanya mengabaikan ku, lantas ke mana lagi aku harus pergi? Tidak ada lagi tempat untuk aku bisa tinggal. Tidak ada siapapun yang bisa mendengarkan keluhan ku. Ingin aku menyalahkan dunia yang menganaktirikan diriku dan tidak pernah berpihak padaku.
Ibuku yang tidak pernah menyukai ku, ayah yang selalu mengabaikan diriku, dan adikku yang malu akan kehadiran ku. Semuanya tidak menginginkan aku. Tidak ada satu orangpun di keluarga ku yang ingin aku menjadi bagian dari mereka.
Mengapa dunia begitu tidak adil. Ia membuatku hadir, namun tidak memberiku tempat untuk tinggal. Ia hanya memberiku sebongkah kayu yang dibangun megah, namun tidak memberikan kehangatan didalamnya. Hari-hariku selalu dipenuhi kekosongan, tidak ada cahaya sedikit pun yang menerangi. Kapan dunia dapat mengijinkanku untuk berjalan berdampingan dengan mereka. Kapan?
Dulu, mungkin sekali, aku pernah ditanya mengenai impianku. "Reina, kamu mau jadi apa nanti kalau sudah besar?"
Dengan tulisan yang naik turun, aku menuliskan sebuah kata. "Dokter."
Sebuah profesi yang selalu ku idamkan sejak kecil. Aku ingin menjadi seperti ayahku, yang terlihat gagah dan berwibawa dengan setelan jas putihnya. Aku ingin menjadi seperti ayahku yang menolong banyak orang. Aku ingin menjadi seperti ayahku yang terlihat sempurna di mataku. Ya, Aku mengidolakannya.
Namun, sayangnya itu dulu. Dulu ketika aku masih menjadi anak kesayangannya. Dulu ketika aku masih dipeluknya. Dulu sekali. Ketika impianku belum diredupkan oleh idolaku sendiri.
"Simpan impian kamu itu, kamu tidak akan pernah jadi dokter." ujar ayahku saat itu.
Sakit rasanya, ketika orang yang kamu banggakan bahkan tidak pernah mendukungmu. Begitu sakit, hingga kata-kata pun tidak dapat mendeskripsikan nya. Yang berakhir, aku kembali menyalakan dunia atas kejamnya nasib yang ia gariskan untukku. Meski, aku pun tahu, sebesar apapun rasa benciku pada dunia, tidak akan ada yang berubah. Aku akan tetap berdiri disini. Menjadi aku. Seorang tunawicara bernama Reina.