Lelaki Matahari

Karya: Enya Rahman
Dia, dan seluruh penduduk kampung, menganggap dirinya istimewa. Bukan pada wajah dengan lekukan tajam serta mata hitam ataupun dua lesung pipi pada ujung bibirnya yang membuatnya istimewa. Melainkan telunjuk kanan.
Semua berawal ketika kami bermain petak umpet, aku tujuh tahun dan dia delapan tahun. Lima jam dia menghilang tanpa bau, batang hidung, ataupun cekikik lirih yang biasanya sengaja dia perdengarkan untukku. Warga desa menyetujui bahwa dia diculik Wewe Gombel atau dibawa lari setan.
Dia muncul tepat tengah malam, di atas genteng rumahku, masih sibuk menghitung hingga dua puluh. Istimewa menggantungi hidupnya sejak saat itu.
Sejak dulu dia selalu mencekokiku dengan imajinasinya. Waktu kecil kuanggap dia tidak berbohong tapi manusia tumbuh, begitu juga kemasuk-akalan manusia. Maka, ketika aku telah tahu alasan lelaki harus disunat aku mulai meragukan ceritanya.
“Aku ini anak matahari. Ibuku matahari.” Ceritanya selalu padaku, “aku dibuang di sini untuk mempelajari ketidaksempurnaan kalian. Nanti, ibu akan menjemputku.”
Jika dulu aku akan menjawabnya, “oh ya? Di sana panas ndak? Ibumu baunya seperti apa? Rambutnya ibu matahari panjang ya?”
Kini aku tidak berniat menjawabnya. Kuabaikan dia sambil memakai earphone-ku.
Kukira dengan mengabaikannya dia akan berhenti bercerita hal yang sama padaku. Tapi tidak, semakin lama dia semakin menggebu-gebu dan semakin yakin bahwa dia memang dari matahari.
Suatu ketika aku sangat kesal padanya. Ketika dia bercerita bagaimana ibu mataharinya akan menyambutnya kelak dengan tak sabar aku memotong, “Oh ya? Gimana caranya? Bukannya nanti kamu udah gosong jadi debu?”
Alih-alih marah dia justru menjelaskan system penyambutan aneh yang seperti acara suku Maya itu, dengan lagu-lagu dalam bahasa yang dia karang sendiri.
Aku muak! Mual! Ingin menendangnya agar dia bisa berhenti menceritakan hal bodoh itu.
“Ibumu namanya Wati! W-A-T-I! Watii! Bukan matahari! Kamu bahkan bakal buta kalau lihat gerhana matahari pake mata telanjang. Berhenti cerita itu padaku! Aku bosan!”
Kukira dia akan marah tapi dia justru tersenyum, “Kamu ingin menyampaikan apa pada ibu matahari nanti? Akan aku sampaikan.” Dia mendekatkan mulutnya ke telingaku, “Besok, ibu menjemputku.”
Aku memutar bola mataku. Besok memang gerhana matahari, hal yang jarang terjadi. Tapi kekesalan justru membuatku mengatakan padanya, “bilang padanya suruh putra kesayangannya berhenti cerita tentang ibunya! Jangan bawa anaknya kembali lagi ke bumi!”
“Oke. Selamat tinggal.” Katanya lantas mengecup pipiku.
Ketika gerhana telah datang aku melihatnya membawa koper besar, tersenyum sambil melambaikan tangan padaku. Selamat tinggal, hari ini kamu akan tahu ibumu Wati.
Aku dan teman-teman yang lain mengamati keindahan gerhana matahari melalui ember yang telah diisi air. Cantik sekali. Hingga di air itu terpantul siluet yang kukenal. Ketika kuangkat kepalaku aku melihat seseorang berlari, bukan. Terbang, bukan, entahlah.
Lalu sayup-sayup kudengar seseorang berbisik padaku, “Ibuku setuju, aku tidak akan kembali ke bumi.”