Tanah yang Dihormati, Tanah yang Dikhianati/Lelaku

Di kaki pohon beringin,
kabut pagi menggantung rendah,
membelai akar-akar yang menjulur,
dirawat oleh waktu dan bisu doa ribuan tahun.
Seorang perempuan berjalan pelan,
membawa bakul anyaman berisi
kembang setaman, beras kuning,
dan dupa yang menunggu disulut api.
Langkahnya menyusuri jalan setapak
di antara batu bata bisu,
seolah setiap pijakan adalah panggilan
kepada leluhur yang tak pernah lenyap.
Di bawah pohon beringin, ia mengatur sesaji:
bunga tersusun rapi menghadap timur,
beras kuning bagai bintang yang jatuh,
dan asap dupa menjalin doa ke langit.
Ia menunduk, bibirnya bergetar lirih:
“Terimalah, wahai pemilik langit dan bumi,
biarlah harmoni tetap berputar
di roda dunia yang tak henti berderu.”
Dari celah kabut,
matahari merayap naik,
memantulkan cahaya pada remahan batu bata,
menghidupkan kisah-kisah purba
tentang raja, dewa, dan janji yang abadi.
Sesaji itu diam,
namun harum bunganya menyeberangi waktu,
menyatu dengan desir angin,
dan bisikan semesta menjawab:
“Kami menerima.”