Lompat ke isi

Lintingan Mimpi di Tengah Asap

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

oleh : Ghsyifa

[sunting]
Karya Ghsyifa Sebatang Rokok dan Garbera

Beberapa hari lalu aku baru saja menamatkan sebuah buku dengan judul Gadis Kretek. Sebuah novel dengan tata bahasa sederhana, membuatku cukup menikmati waktu luang saat membacanya. Walau berkali-kali aku sedikit gelisah tak bisa menyelesaikan bukunya, karena ketakutanku pada sesuatu beberapa tahun belakangan.

Aku tak akan membahas poin tentang apa yang membuatku takut. Aku agak enggan membahasnya, aku ingin segera bisa lupa tentang itu semua.

Toh sekarang, aku mulai kembali bergairah saat berjalan di deretan rak toko buku. Aku harap bisa segera dapat pekerjaan yang layak tahun ini, agar bisa membeli semua buku yang aku inginkan.

Setidaknya begitu mimpiku sekarang.

Seperti judulnya, Gadis Kretek menceritakan perjalanan dari berkembangnya sebuah merek rokok yang dirintis oleh seorang wanita. Sentuhan romansa, perjuangan, dan sejarah ikut membumbui alur ceritanya.

Entah hanya aku, atau mungkin orang lain juga berpikir. Membaca Novel Gadis Kretek, membuat beberapa wanita polos dan feminim juga ingin mencicipi bagaimana rasa kretek sesungguhnya, batin mereka mulai menggeliat untuk coba- coba. Sedang perasaan bangga akan memenuhi ruang keakuan diri, wanita – wanita yang telah bergelut lama dengan asap rokok.

Saat itupun aku juga tersenyum, membalik satu per satu halaman Gadis Kretek sembari dua jariku mengapit batang rokok yang menyala.

“Waw … Aku ternyata keren juga kayak Dasiyah.” Gumamku dalam hati, menyamakan diri dengan salah satu karakter di Novel Gadis Kretek.

Aku ingat betul, saat itu aku membaca bagian yang menceritakan Dasiyah sedang ngelinting rokok untuk ayahnya, disitu juga teleponku berdering menunjukkan panggilan dari seseorang.

“Habis lebaran, bisa nggak?” Suaranya nyaring penuh semangat. Siapa pun tahu, jika Mbok Mah menelpon, musim panen tembakau telah tiba. Dan hanya orang – orang tepercaya lah yang akan diajak untuk ikut kerja bersamanya.

“Kalau dibawa ke rumah ndak bisa Mbok … Ibu masih batuk.”

“Lah piye? Barang e banyak, gak cukup kalau cuma ngandelin halaman rumahku.”

“Juragan tembakau kok gak beli gudang buat nyimpen barang. Malah njaluk numpang di rumah orang buat tempat kerja.” Gerutuku agak kesal dalam hati.

“Ayoklah Ni … Baunya gak bakal sampe ke kamar ibumu.”

“Mbok, kemarin ibuku udah batuk darah loh.” Ucapku dengan sedikit penekanan.

“Halah Ni, Ni. Kalau kamu gak ambil pekerjaanku yo kamu ndak bisa bawa ibumu ke dokter, buat ngobatin penyakit TBC itu.”

Kesabaranku mulai menipis, kalau tidak saja Mbok Mah satu – satunya sumber penghasilan terbesarku, sepertinya mbok – mbok satu ini bakal aku samperin ke sarangnya buat ku caci maki. Aku menghisap batang rokok terakhir dan melemparnya ke tanah, berharap kemarahanku ikut melebur bersama asap rokok yang membumbung ke udara.

“Yowis Mbok aku ambil. Tapi cuma dua kilo, dan yang bisa ku icip cuma dua jenis.”

“Iyo oke setuju. Nanti ambil tembakau e di rumah kalau udah kering.”

Aku tahu dari nada bicaranya, Mbok Mah kesal. Karena itu jauh dari berat rokok yang harus aku linting. Tapi Mbok Mah juga sadar, aku adalah satu – satunya pekerja yang punya lidah dengan cita rasa kuat. Jika rokok hasil lintingku dan sudah aku cicipi rasanya, akan lebih laris terjual di pasaran.

Kalau sampai Mbok Mah perotes lagi, dia tak bisa menjamin kesabaranku akan bertahan sampai mana. Maka dari itu, Mbok Mah pilih jalan aman saja.

***

Ini adalah lintingan terakhir ku hari ini. Biasanya berat dua kilo tembakau kering untuk dilinting bisa aku kerjakan selama tiga hari. Aku rehat sejenak untuk melepas lelah, sebelum membereskan alat linting, dan membersihkan diri. Aku teringat kembali novel Gadis Kretek, aku coba mengikuti trik Dasiyah untuk menciptakan rasa rokok linting terbaik, memanfaatkan bahan – bahan yang mirip saja.

Aku nyalakan batang rokok hasil linting ku, aku isap perlahan dengan menikmati setiap rasa yang menguar di saluran napas dan lidahku.

Tidak ada yang berbeda, rasanya seperti rokok linting ku biasanya.

Seiring asap rokokku yang terlepas, aku mengingat moment di mana Dimas yang memberikan novel Gadis Kretek yang bersampulkan kertas cokelat tipis.

“Buat kamu Uni, selamat bertambah umur. Semoga mimpimu tercapai ya.”

Aku tak tahu, novel ini benar – benar untuk hadiah ulang tahunku, atau tanda perpisahan darinya. Karena setelahnya Dimas harus berangkat ke Jepang untuk menyelesaikan studi sarjananya.

Kadang aku iri dengan apa yang dimiliki Dimas, tetapi rasa iri hanya membuat hatiku bertambah sakit.

Sebuah pesan singkat yang tertulis di halaman belakang bukunya membuatku merasa cukup untuk terus bahagia.

“Ketika manusia menyerah, mereka bisa melepas segalanya. Tapi tidak dengan mimpi.”

Setelah bebersih diri, aku mencoba menengok ibu di kamar. Tubuhnya yang kurus jangkung masih setia terbaring di kasur kapuk yang tidak empuk. Rasanya hatiku sedikit miris, berulang kali aku meyakinkan diri jika kenyataan seperti ini masih mending untuk dijalani daripada tidak punya rumah.

Mendengar bunyi geret pintu kamar, posisi ibu yang menghadap ke arah tembok kini berbalik ke arahku. Ku coba untuk tersenyum seramah mungkin, walau aku tahu alis ibu yang mengkerut menandakan ia terganggu akan sesuatu.

“Bau rokok!” Bentaknya ke arahku “Tutup lawang e!!”

Aku terpaku sejenak sebelum melakukan perintah ibu. Perlahan aku mendekatinya, yang kini mulai terbatuk – batuk. Dapat kulihat tubuh ringkih itu yang terus membungkuk, berusaha menahan sesak di dadanya, napasanya tersenggal naik turun, sesekali terdengar suara seperti decitan kasur tua yang menandakan batuknya sudah mencapai batas.

Segera ku sodorkan kain bekas dari mukenah putih yang dipotong – potong menjadi beberapa bagian.

Begitu miskinnya keadaan kami sampai tak sanggup beli saputangan.

“Kamu pikir ibu gak bisa nyium bau asap rokokmu!” Bibir yang keriput itu mulai bergetar saat bicara.

“Buk, Uni kan udah jauh tapi ngerokoknya …”

“Asap dari jarak sepuluh kilo aja ibuk juga bisa nyium. Apalagi cuma di halaman belakang!!”

“Maaf Bu … Uni tadi lupa.”

“Ngapain sih perempuan – perempuan ngerokok hah? Gak pantes!”

Aku tak bisa membenarkan diri, walaupun dengan alasan karena terbiasa mencicipi rasa rokok linting yang akhirnya membuatku sedikit banyak menginginkan lebih untuk menghisap rokok.

“Kamu masih ikut Mbok Mah itu?!”

“Ya kalau gak ikut, gimana mau dapet uang Buk. Gimana Uni bisa beliin obatnya Ibuk …”

“Percuma kamu beli obat, tapi kerjanya nyuguhi asap ke ibu tiap hari. Gak ada gunanya kamu kerja itu. Uangmu ikut kebakar kayak rokokmu, obat ibuk gak berguna, ibuk juga lama – lama ya mati!”

Tak bisa ku tahan tangis agar tidak pecah. Air mataku membeludak ke mana-mana, tak banyak yang bisa kulakukan, selain membantu ibu untuk mengelap sisa air liur di sekitar bibirnya karena batuk tadi, dan menyodorkan air putih setelahnya.

Aku masih terus menangis sesenggukkan di samping ibu yang kembali menidurkan diri. Diriku terlalu malu untuk memberi penjelasan lagi. Apa pun alasannya, kenyataan jika ibu terganggu dengan pekerjaan yang ku jalani adalah fakta telak. Tetapi memutuskan untuk berhenti bekerja adalah hal yang tidak mungkin ku lakukan saat ini.

Ibu sudah menderita TBC hampir tiga puluh tahun, diagnosis pertama di dapatkan saat ibu duduk dibangku SMP. Saat itu ibu bercerita, jika kondisinya memburuk karena seluruh kakak laki – laki ibu perokok berat, dan mau tak mau ibu harus menjadi perokok pasif dari asap rokok mereka.

Kondisi ibu yang lemah karena TBC membuat ibu kehilangan masa – masa remajanya. Saat SMA ibu harus memotong jam belajar di sekolah dan bolak – balik rumah sakit untuk pengobatan TBC. Ibu juga tidak bisa banyak menghabiskan waktu bersama teman – teman karena mudah lelah dan daya tahan tubuh lemah. Beberapa teman yang saat itu tahu dengan kondisi ibu, perlahan juga mulai menjauh.

Alasannya takut tertular.

Ibu juga bercerita bagaimana kondisi keluarganya yang miskin saat itu. Untuk makan saja susah apalagi untuk pengobatan TBC yang harus meminum obat rutin dari dokter dan tak boleh terlewatkan sehari pun. Karena biaya terbatas, ibu terpaksa harus mengonsumsi obat generik daripada obat paten yang semestinya.

Pernikahan yang dijalankan bersama ayah juga beberapa kali menjadi mimipi buruk yang tak dapat dielakkan. Itulah yang menjadi alasan, terlunta – luntanya hidup kami sekarang, bahkan untuk melepas pekerjaan yang membuat ibu sakit pun aku tak bisa.

Aku meraih kain bekas yang jadi saputangan tadi. Melihat darah bercampur dahak kental dari batuk ibu di saputangan sedikit membuat ku gemetar. Aku tak bisa berbohong, jika terkadang aku merasa takut akan tertular penyakit ibu. Bukan karena aku mengkhawatirkan diriku sendiri. Tetapi jika aku lemah, maka siapa yang akan merawat ibu untuk kedepannya.

Keadaanku sekarang membuat harapan dan rencana yang pernah dirancang seolah menjadi pecahan beling. Tetapi novel Gadis kretek dan pesan singkat dari Dimas, membuatku sedikit percaya. Jika aku mampu mempertahankan mimpiku, setidaknya itu yang mampu membuatku bertahan demi ibu.

Walau sering kali emosi ibu tidak stabil, aku berusaha untuk terus mendampingi pengobatannya. Perih hatiku kerena tak bisa melepaskan pekerjaan sebagai penglinting rokok menjadi beban yang begitu berat untukku. Tapi aku berusaha untuk melakukan segalanya dengan mengambil resiko terkecil.

Stigma masyarakat terhadap penderita TBC menjadi tantangan lain yang harus ibu dan aku hadapi. Karena itu, tak banyak yang mau membantu kami, bahkan sekedar meminjam motor untuk pergi ke puskesmas.

Aku tak ingin membenarkan apa yang ada pada diriku sekarang, pekerjaanku, dan beberapa kali rasa canduku terhadap rokok. Tapi lebih dari itu semua, aku berharap apa yang kujalani, adalah pilihan terbaik yang mampu membantuku bangkit dari keadaan ini, dan bisa membiayai pengobatan ibu sampai sembuh.

Jika nantinya waktu masih memberiku kesempatan, aku ingin membaca buku lebih banyak lagi. Aku ingin menjadi wanita berwawasan luas, karena ibu pernah berkata padaku, wanita memiliki kesempatan yang sama seperti pria untuk menggapai mimpinya.