Lombok di Mata Perempuan/Perempuan di Antara Ayunan dan Perosotan
Semata tangan Tuhan
Yang tempatkan aku di salah satu gugusan pulau
Lombok, yang lurus, jujur, dan indah memukau
Di antara sebaran pantai-pantai cantik, permai, berpasir lembut
Ombak berdebur, air sebening kristal, langit biru bersih dengan sinar mentari tak pernah redup
Aku yang sedang larat dibuat jatuh hati
Sanak,
Betapa indah kekayaan kita
Gereja yang elegan menyambut jemaat setiap akhir pekan
Di antara deretan pura indah menanti pemuja yang datang elok berkebaya
Sahut-menyahut suara muadzzin berseru lima kali banyaknya
Desain eksterior vihara yang sarat arti, magis mempesona
Harmonis dalam penerimaan dan pengertian
Beragam bahasa mengisi riuh percakapan
Dari ujung Bertais, Abian Tubuh, Cakranegara, Karang Jasi, Karang Sukun, Kebon Roek, ACC Ampenan,
Pagesangan sampai Pasar Pagutan
Mereka jadi mimbar sekaligus altar kebersamaan
Semua merasa aman menampilkan dialek kedaerahan
Ramah, dalam kebersahajaan
Sanak,
Kita sudah sejauh ini
Berjibaku setiap hari
Memberi stimulasi bagi anak penerus negeri
Seraya belajar dengan giat untuk menjadi pendidik yang mumpuni
Reflektif, jujur dan gemar berkolaborasi
Semata ingin mencetak generasi unggul dan mandiri di kemudian hari
Sanak,
Masihkah ingin kau menatap cucumu
Duduk bertinggung di atas pasir
Nihil serpihan botol minuman atau bungkus nasi basi
Kakinya dijilat ombak tanpa apungan plastik atau sendal jepit
Adakah kau setia memimpikan
Taman-taman kota cantik lestari jadi tempat anak riang berlarian
Sekolah tanpa perundungan, tempat belajar demokrasi tanpa settingan
Rumah-rumah kita jadi tempat pulang ternyaman
Karena penghuninya sehat raga, tebal iman
Dompetnya sarat uang seratus ribuan
Tabung gas aneka warna dapat dibeli tak kenal tanggal tua
Meteran listrik tak sempat menjerit
Lantaran empunya rajin isi ulang tak perlu strategi terlalu irit
Sanak,
Bayangkan kota kita yang jalanannya sibuk setiap hari
Namun aman karena kita berkendara dengan disiplin diri
Pasang sen kiri namun belok kanan hanya sejarah dari masa kegelapan
Tertib berhenti sebelum berbelok, kaca spion bukan jadi pajangan
Di semua tempat air bersih mengalir tanpa batasan
Cukup untuk anak cucu hingga turunan ke sembilan
Sayang, mimpi saja tak kan cukup
Kita harus bekerja keras mewujudkan
Kota yang kau impikan, jadilah arsiteknya sekalian
Agar Mataram benar-benar menjadi lambang kegairahan hidup membangun tanah harapan.
Untuk masa depan yang lebih cerah, mengundang decak kagum.
Mata dan Aram, persembahan bagi ibu pertiwi, yang semakin harum.