Lompat ke isi

Mahaguru Dunia Langit

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Mahaguru Dunia Langit

Sinar matahari yang berhasil menembus atap rimbun dedaunan makin menipis, siang perlahan bergulir menuju senja. Samar-samar kabut tipis mulai terbentuk di sela-sela pepohonan yang menaungi jalan setapak menuju tengah hutan. Seorang penyihir muda nampak memacu kudanya dengan sedikit tergesa-gesa, jubahnya yang berwarna biru gemerlap berkibar mengikuti arah hembusan angin. Sesekali ia melihat pergelangan tangan kanannya, di mana terdapat gelang melingkar dengan kubah transparan melindungi anak panah yang stabil menuju ke satu arah.

“Mestinya di sekitar sini,” gumam si Penyihir Muda seraya turun dari tunggangannya. Kompas di pergelangan tangannya berkedip-kedip pertanda dia telah sampai di tujuan. Sambil menyalakan api penerangan di tongkat yang ia pegang di tangan kiri, sang Penyihir melambaikan tangan kanannya ke udara, hingga terasa ada dinding tak terlihat yang teraba olehnya.

Udara di hadapannya nampak beriak seperti air, dengan penuh harap sang Penyihir Muda menuntun kudanya menembus dinding riak udara yang ada di depan mereka tanpa ragu-ragu.

“Oooh!” sang Penyihir Muda berseru takjub melihat apa yang ada di hadapannya. Bangunan berbentuk persegi megah berwarna abu-abu yang terdiri dari tiga lantai, dengan pencahayaan terang bagaikan siang yang berasal dari pancang yang berdiri berderet sepanjang jalan menuju bangunan. Area yang sebelumnya berupa hutan lebat dengan pepohononan dan akar panjang merambat, seketika tergantikan dengan sebidang tanah luas, jalanan berlapis batu yang rata, dengan air mancur di halaman depan.

Sang Penyihir Muda mendekati bangunan kokoh di hadapannya selangkah demi selangkah. Ia menatap tiang-tiang penerangan yang mengeluarkan cahaya tanpa api. Di beberapa pohon yang ada di halaman, ia melihat salur-salur temali dengan sumber cahaya dalam bola kristal; juga tanpa api. Semakin mendekati air mancur, ia melihat bahwa pancuran tersebut tidak terhubung dengan danau ataupun sumber air lain.

Sang Penyihir Muda menelan ludah. Dengan takut-takut ia mendekati teras bangunan dan berdiri di depan pintu ganda yang tertutup. Pintunya besar, berbentuk persegi, dan terbuat dari logam yang keras. Sang Penyihir Muda tidak menemukan pengetuk pintu logam yang biasa ada di setiap depan rumah. Bahkan ia tidak melihat ada gagang pintu yang bisa digunakan untuk membuka pintunya. Sang Penyihir Muda tertegun untuk beberapa saat hingga tiba-tiba...

“Oh, ada tamu? Dengan siapa dan ada perlu apa?” si Penyihir Muda nyaris terloncat begitu mendengar suara tanpa wujud yang mengajaknya bicara. Ia buru-buru melepas topinya dan menengok ke kanan kiri, tanpa menemukan si sumber suara. Keringat dingin mulai meleleh di keningnya. Suara itu terdengar melodius, jelas suara seorang wanita.

“Saya Liberius Arcadio; diutus kemari atas perintah Master Ortegia dari Menara Sembilan Matahari,”

“Oh, kamu utusan Ortegia, masuk saja.” Suara tanpa wujud itu kembali terdengar, dan tak berapa lama kemudian pintu di hadapan Liberius terbuka sendiri. Sang Penyihir Muda kembali menelan ludah sambil menatap apa yang ada di depannya.

Aula megah dengan lantai mengilat dan dinding rata bercat putih yang halus licin, langit-langitnya seolah memiliki penerangan sendiri, dan Liberius menatap takjub pada berbagai benda ajaib yang ia temui di dalam bangunan. Di luar, Liberius sudah menemukan sumber cahaya tanpa api, air mengalir tanpa mata air, pintu yang dapat membuka sendiri, dan suara yang dapat terdengar meski tanpa ada yang terlihat berbicara.

Sementara di dalam bangunan, Liberius terpana melihat ada benda bulat pipih yang nampak merayap di lantai, seolah sedang membersihkan sesuatu. Di salah satu dinding, ia melihat lukisan berpigura hitam besar, tapi gambar di dalamnya bergerak-gerak; tampaknya suatu peralatan ajaib untuk mengintai dari jauh. Suhu di dalam pun begitu hangat, tidak seperti di luar yang mulai dingin menusuk tulang. Liberius tetap berdiri sampai ia mendengar suara langkah datang dari arah sisi lain ruangan. Bagian yang berisi peralatan ajaib paling asing yang belum pernah dilihat oleh Liberius. Ada sebuah lemari berwarna perak dengan dua pintu. Lemari-lemari tinggi dengan gaya seragam. Ketel air yang menyemburkan uap meski hanya diletakkan di konter dengan lapisan hitam tanpa api, dan semua dibarengi dengan aroma manis yang menguar ke seluruh ruangan.

“Duduklah dulu, akan kuambilkan pesanan Master Ortegia,” dan saat itulah Liberius bertemu pertama kalinya dengan si pemilik bangunan. Seorang yang sangat dihormati oleh Master Ortegia, berjuluk “Mahaguru Dunia Langit”; karena memiliki ilmu dan kemampuan yang sama sekali berbeda dari segala ajaran aliran sihir yang dipelajari Liberius di sekolah Menara Sembilan Matahari.

Sang Mahaguru masih terlihat relatif muda. Dia tidak terlalu tinggi, dan penampilannya benar-benar asing. Mengenakan jubah panjang tapi tidak berkancing, mengenakan baju leher tinggi tapi dengan bahan yang belum pernah dilihat oleh Liberius, dan tidak seperti penyihir wanita lain yang menyukai gaun panjang, sang Mahaguru mengenakan celana berwarna biru, bahannya sepertinya tebal dan sedikit sobek-sobek di beberapa tempat. Dia juga tidak mengenakan alas kaki.

Liberius duduk dengan canggung. Sang Mahaguru mengambil sebuah mug, dan mendekati salah satu peralatan ajaib yang tiba-tiba mengeluarkan cairan sendiri setelah disentuh sedikit. “Semoga kamu tidak keberatan dengan cokelat susu panas, tunggu sebentar akan kuambilkan barangnya.”

Tidak lama, sang Mahaguru kembali dengan sebuah kotak cukup besar di tangannya. Kotaknya berwarna cokelat, dengan bahan yang sangat ringan, Liberius belum pernah melihatnya, warnanya mirip kayu, tapi teksturnya lebih mirip kertas tebal. Di dalamnya Liberius melihat beberapa benda. “Master Ortegia memesan beberapa barang,” sang Mahaguru mengeluarkan sehelai kain berwarna kuning yang tampak kaku, “ini kain yang dapat menyerap air jauh lebih banyak dari kain biasa, tahan lama dan cocok untuk di laboratorium,” Liberius buru-buru mengeluarkan catatan.

“Ini paracetamol; obat yang bisa digunakan untuk berbagai penyakit ringan, seperti demam, sakit kepala, atau flu ringan,” sang Mahaguru menunjukkan beberapa strip berisi bulatan pipih, lalu mengeluarkan beberapa botol berisi butiran pil hitam pekat “dan ini norit, fungsinya untuk penawar racun.” Liberius mengingatkan diri untuk memastikan menjaganya dengan nyawanya.

Sang Mahaguru tersenyum setelah menunjukkan satu persatu keseluruhan isi kotak yang berikutnya ia serahkan pada Liberius. “Ini semua yang dipesan Master Ortegia, malam ini kamu bisa menginap di kamar atas karena berbahaya melewati hutan malam-malam.” Ujarnya sambil mengarahkan tongkat sihir aneh berbentuk persegi panjang tipis yang penuh dengan deretan ornamen ke lukisan raksasa di salah satu tembok; yang berikutnya segera menjadi lukisan hitam tanpa gambar.

Liberius buru-buru menganggukkan kepalanya. Terbayang dia bisa membanggakan diri ke para murid Master Ortegia yang lain karena dia pernah diundang menginap oleh Mahaguru Dunia Langit; dan bisa melihat berbagai peralatan ajaib yang selama ini tidak ada di tempat asalnya. Mungkin suatu saat, Liberius dapat kesempatan diundang berkunjung ke tempat asal sang Mahaguru, dan dia bertekad untuk berangkat meski harus mendaki naik ke langit.

Suatu hari nanti, siapa tahu.