Malam Sebelum Pagi Pertama

Malam itu hujan turun pelan, mengetuk jendela kecil di kamar kos berukuran 4 x 6 meter.
Lampu temaram membuat bayangan buku-buku menari di dinding.
Aku kembali terjaga, berulang kali, seolah mataku menolak istirahat.
Besok adalah hari pertamaku mengajar anak-anak baru.
Kepala sekolah tadi siang berkata, "Kelas akan dibuka lebih banyak, peminatnya semakin bertambah."
Kata-kata itu terus menggema di kepalaku. Aku pun larut dalam pikiran.
Bisakah aku memfasilitasi mereka? Bagaimana jika aku tidak cukup baik?
Bagaimana jika kondisi saat ini membuat mereka sulit meraih cita-cita?
Aku menatap buku catatan di meja, halaman kosong yang belum sempat terisi rencana pelajaran.
Pena di tanganku bergetar. Apakah aku cukup untuk mereka, anak-anak yang lahir di zaman teknologi?
Di luar, suara tawa anak-anak kos yang baru pulang membuatku semakin gusar. Aku merasa kurang, lagi dan lagi.
Seolah bayangan wajah anak-anak itu sudah berdiri di depan kelas, menunggu sesuatu dariku.
Sedangkan aku pun hanya bisa bertanya dalam hati: apakah aku cukup untuk mereka bertumbuh?