Lompat ke isi

Masa depan bernama kita

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Penulis

[sunting]

Karya Annisa

Cerita

[sunting]

Pesan masuk sekitar 5 menit lalu, aku baru tersadar, bahwa pesan itu ternyata dari mu orang yang selama ini aku harapkan datang kembali padaku, tak kuduga ini sangat membuat hatiku berekspresi mendadak bahagia. Penasaran yang telah membuncah sekaligus bercampur senang telah mendorongku untuk membuka dan membalas pesanmu secepatnya. Bagiku hari itu adalah termasuk hari terbahagiaku, bagaimana tidak sosok yang selalu aku dambakan dan kerap menguasai hampir seluruh isi kepala tiba-tiba hadir tanpa diminta, meskipun masih sebatas pesan di layar kaca handphone, tapi terlampau membuatku merasa berjalan di antara taman bunga, ya begitulah, indah nan penuh suka cita. Ah mungkin saja ini terlalu berlebihan tapi memang begitulah adanya, aku akui, aku harus mengakuinya.

Terhitung lewat hampir 2 tahun, kami berdua tak bertemu, aku mengingatnya, terakhir kali kita berjumpa saat kamu menghadiri acara wisudaku, yang mana tidak lain dan tidak bukan di tempat kami bertemu untuk pertama kalinya, iya benar... di kampus kami. Di mana kami bertatap muka untuk kali pertamanya, mengenal satu sama lain. Meskipun, di awal perjumpaan itu, masih ku ingat betul kamu tampak cuek, acuh, jutek atau istilah lain yang menggambarkan semacam itu. Mungkin saja waktu itu kamu masih bingung dengan suasana baru, belum bisa beradaptasi, dan masih menerka keadaan seperti apa yang sedang kuhadapi saat ini sehingga cenderung membuatmu terlihat egois, individualis, apatis, intinya kamu tampak seperti tidak ingin mengenal atau dikenal orang lain. Mau tidak mau, kesimpulan tentang pribadimu yang sedemikian itu sudah menjadi ajang pergulatan dalam batinku. Aku takut menyapamu lebih dahulu, aku bingung mengawali pembicaraan denganmu, dan kekhawatiran -kekhawatiran lain yang khas di masa ketika orang berhadapan dengan hal - hal baru, termasuk mengenalmu sebagai sosok orang baru, yang langsung menarik jiwaku untuk mengenalmu lebih dalam. Aku rasa ketertarikan ini bukan hal biasa, ataukah aku sedang jatuh hati pada pandangan pertama saat itu. Apa benar itu nyata ? Saat ini aku masih bertanya-tanya, tidak ingin mudah percaya, tapi begitu nyata terasa.

Lambat laun, kami berdua mulai saling menceritakan satu sama lain, semakin kenal semakin tahu kehidupan yang sedang dijalani, terlebih kamu senang sekali menceritakan binatang peliharaan yang kamu punya, usaha yang sedang kamu rintis, kondisi pertemananmu dengan sahabat karibmu, juga situasi dalam rumahmu bersama keluarga dan masih banyak hal - hal lagi yang kami sering bertukar cerita.

Aku pikir perasaan dan situasi itu, sudah hanya akan menjadi kenangan semata. Saat dirimu tiba-tiba tak lagi menghubungiku selepas kehadiranmu di prosesi wisudaku. Sebab kalau dihitung dari pertemuan itu, sudah mencapai hampir 2 tahun kami jarang berkomunikasi intens layaknya seperti dahulu.

Namun tiba tiba, pesan yang kamu tuliskan untukku kala itu seolah membuat daku merasa nyaman nan gembira kembali. Aku telah mengharapkan ini jauh jauh hari, ingin sekali menyambung kedekatan itu lagi, hingga menjadi ikatan sakral yang telah lama ku nantikan.