Masriah
oleh Meilisa Dwi Ervinda
Sinopsis
[sunting]Hidup memang penuh teka-teki, sebagaimana hidup seorang perempuan bernama Aini yang sejak remaja sudah dipaksa menelan pahitnya hidup. Ia ceplas-ceplos, keras kepala, dan sering dianggap kasar oleh tetangga. Namun, di balik sikapnya, Aini hanyalah seorang anak sulung yang terlalu cepat dipaksa menjadi dewasa. Ia menggantikan peran ayah yang hilang entah ke mana, menanggung beban keluarga yang tak pernah selesai, dan merawat adik-adiknya dengan tenaga yang hampir selalu habis terkuras.
Hidup Aini adalah kisah tentang kemiskinan yang mencekik. Upah buruh pabriknya nyaris tak cukup untuk membeli beras, sementara ibunya terperangkap dalam trauma panjang yang membuatnya sulit menjangkau anak-anaknya. Ibunya sering kali lebih sibuk dengan luka batinnya sendiri, meninggalkan Aini terombang-ambing dalam kesepian. Di balik jeritan perut lapar dan hutang yang terus menumpuk, Aini mencoba bertahan dengan sisa-sisa tenaga yang ada.
Konflik semakin tajam ketika Elina, adik yang paling ia sayangi, mulai menunjukkan sikap yang mengusik nurani. Awalnya hanya kecurigaan kecil: rautan pensil baru, tempat pensil bergambar lucu, dan jajanan enak yang mustahil terbeli dari uang saku mereka. Semua orang sempat percaya bahwa hilangnya uang di rumah tetangga adalah ulah makhluk tak kasatmata. Namun, kenyataan lebih menyakitkan: Elina ternyata mencuri. Aini terhantam dilema. Bagaimana mungkin ia bisa menyalahkan adiknya, sementara ia sendiri tahu betapa kerasnya dunia yang tak pernah memberi mereka kesempatan?
Cerita ini juga membuka kembali luka lama Aini saat ia melahirkan Elina sendirian di rumah sakit. Tanpa seorang pun yang mendampingi, tanpa biaya yang cukup, dan tanpa doa seorang ayah di telinganya. Hanya dokter yang merasa iba, menggantikan tugas seorang bapak untuk mengumandangkan adzan di telinga bayi mungil itu. Dari awal kehidupan Elina, semuanya sudah dimulai dengan rasa kehilangan. Saat hamil pun, Aini bekerja larut malam, mengerjakan apa saja demi uang, sambil terus bertengkar dengan suami yang hanya bisa menyalahkan keadaan. Trauma demi trauma menempel di tubuh Aini seperti beban yang tak bisa ia lepaskan.
Namun hidup tak memberi ruang untuk berhenti. Aini dipaksa menanggung peran yang seharusnya bukan miliknya: menjadi ibu bagi adik-adiknya, menjadi tulang punggung bagi keluarga, sekaligus menjadi pelindung bagi anak yang bahkan lahir di tengah penolakan. Dalam perjalanan penuh luka ini, pembaca akan diajak menyaksikan bagaimana trauma diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, bagaimana kemiskinan bukan sekadar soal uang, melainkan juga soal harga diri, cinta, dan kesempatan untuk hidup layak.
Novel ini bukan hanya kisah tentang penderitaan, tapi juga tentang perlawanan seorang perempuan yang dipaksa bertahan ketika dunia seakan menutup semua jalan. Aini bukanlah sosok sempurna, ia bisa marah, kasar, bahkan ingin menyerah. Tetapi di balik semua itu, ada cinta yang ia genggam erat meski cintanya seringkali lebih mirip luka. Pertanyaannya sampai kapan ia mampu bertahan, dan akankah trauma itu berhenti pada dirinya, atau justru diwariskan lagi kepada generasi setelahnya?
BAB 1 Luka Lama
[sunting]Bau pesing dan minyak jelantah menguar dari dapur sempit di sudut rumah. Dindingnya kusam, nyaris hitam di beberapa bagian. Di lantai semen yang dingin dan lembap, tubuh renta Masriah tergeletak setengah telanjang. Matanya menerawang ke langit-langit kayu yang mulai lapuk, mulutnya komat-kamit melafalkan potongan ayat tak jelas, tak selesai.
Aini mencengkram lengan ibunya. Kencang. Terlalu kencang untuk sebuah tubuh ringkih berumur lebih dari enam puluh tahun. Jemari kasar Aini, penuh bekas luka dari pabrik dan kompor gas yang bocor, mengguncang-guncang Masriah yang diam bagai bangkai hidup.
“Mak udah siang, bangun Mak! Mak, aku udah telat mau kerja, jangan kayak bayi!” bentaknya.
Tubuh Masriah menggeliat sedikit. Mulutnya mengeluarkan busa tipis. Tapi tak ada tangisan. Tak ada protes. Hanya rintihan kecil suara yang lebih pantas keluar dari binatang liar yang kehilangan induk, bukan dari seorang ibu yang dulu katanya paling rajin ikut pengajian.
Aini menarik napas panjang, nyaris menggeram. Ia mengangkat tubuh ibunya ke dalam bak plastik besar di pojok dapur, yang biasa dipakai merendam cucian. Airnya belum hangat betul. Tapi waktu tak pernah cukup untuk mengurus semuanya. Pabrik menunggu. Anak-anak belum makan. Dan pagi sudah keterlaluan.
“Aku bukan pembantu, Mak,” gumamnya lirih, namun cukup nyaring untuk menampar siapa pun jika ada yang mendengar.
Sabun colek murahan menyentuh lipatan kulit Masriah yang kendur dan memutih. Saat tangannya menyeka leher, Aini berhenti. Ada benjolan keras sebesar telur puyuh di bawah rahang. Tapi dia tidak sempat berpikir terlalu lama. Hidup menuntut buru-buru. Bahkan kematian pun harus antre.
“Apa Mak pikir aku cuman dilahirkan buat jadi budak, hah?” bisiknya sambil menyeka bagian belakang tubuh yang mulai melepuh.
Tiba-tiba, suara kecil terdengar dari ambang pintu.
“Elina... belum makan, Bu.”
Aini menoleh. Di sana, Elina berdiri seragam SD-nya kebesaran, warnanya sudah pudar, dan lubang di ujung lengan belum sempat dijahit. Mata anak itu kosong. Terlalu kosong untuk anak kelas lima yang seharusnya sibuk memikirkan PR, bukan menatap ibunya memandikan nenek yang bau pesing.
“Ngapain liatin orang mandi, Gak lihat Ibu lagi apa? Sana! Goreng tempe! Jangan bengong , sesekali bantu Ibumu ini, jangan cuma plonga-plongo!”
Elina tidak menjawab. Ia menunduk dan melangkah pelan, sendalnya terlepas, tapi tak kembali memakainya. Hanya pergi, tanpa suara.
Aini mengelus wajah, bukan ibunya tapi wajahnya sendiri. Keringat menetes dari kening ke bibir, asin dan pahit. Ia mengangkat Masriah dari bak dan menyeretnya ke tikar tipis dekat tungku. Punggungnya gemetaran, bukan karena capek semata, tapi karena rasa yang ia sendiri tidak bisa namakan.
Dulu, ketika Elina baru tujuh bulan, Aini pulang ke rumah ini dengan tubuh lebam. Mata kiri biru. Bibir sobek. Suaminya yang dulu katanya lelaki shalih, memukulnya pakai balok kayu karena dituduh selingkuh. Padahal Aini hanya pulang telat dari toko bahan kue. Ia bahkan belum mandi waktu itu. Tapi orang tuanya tidak peduli.
Yang terdengar hanya suara Masriah:
“Pantesan, perempuan itu kalau suka kerja keluar rumah, pasti kelakuannya kebablasan! Gak usah balik ke sini bawa aib!”
Aini diam. Ia tak bisa ke mana-mana. Anak bayi di pelukannya menangis. Suami kabur. Orang tua menuntut. Rumah kontrakan habis. Maka ia kembali ke rumah ini. Rumah yang katanya rumah orang tua tapi tak pernah betul-betul menjadi rumah.
Setelahnya, ia kerja di pabrik. Gaji kecil. Lembur tiap malam. Uang selalu kurang. Tapi Masriah tak pernah puas. Uang jajan Sayuti diminta. Elina tak pernah dibelikan apapun, bahkan rautan pensil.
Dan pagi ini, Aini tahu Elina mencuri dua ribu dari dompetnya.
Tapi ia tidak marah.
Atau mungkin, ia marah tapi bukan pada anaknya.
Marah pada dirinya. Pada ibunya. Pada hidup yang seperti jalan panjang berlumpur yang tak pernah kering.
Masriah mulai mengigau. “Allahuakbar... sabar itu sebagian dari iman... perempuan harus nurut suami...”
Aini menoleh, matanya melotot.
“Ngomong apa sih, Mak? Mak dari dulu cuma bisa bawa ayat! Sok-soan ngaji sana sini, tapi kalau ngomong sama anak-anaknya kayak sama setan! Mak, aku udah kerja Mak dari umur lima belas tahun. Mak dari dulu cuma bisa nyuruh kerja-kerja, Kalau pulang gak bawa duit Mak gak mungkin kasih makan. Malah sekarang Mak, kek gini"
Tapi Masriah tak menjawab. Mulutnya terbuka setengah. Matanya kosong. Seperti kemarin. Seperti seminggu terakhir. Seperti tahun-tahun yang perlahan merenggut kewarasannya.
Tiba-tiba, suara panci jatuh dari dapur. Aini bergegas. Elina sedang mencoba menggoreng tempe, tapi api terlalu besar. Minyak nyiprat. Anak itu mengerang pelan.
Aini tidak marah. Ia hanya diam. Menatap punggung kecil anaknya yang mulai terbiasa lapar. Terbiasa marah. Terbiasa ditinggal.
Ia pernah seperti itu.
Dan ia benci menjadi seperti ibunya.
Tapi hari-hari terus berjalan, dan ia tidak tahu bagaimana caranya berhenti meniru.
Aini kembali ke dalam kamar. Menatap ibunya yang setengah terkulai. Wajah Masriah kaku, tapi masih bernapas. Ada busa di sudut bibir. Dan benjolan di leher mulai menghitam.
Kalau mati, siapa yang akan urus mayatnya?
Kalau hidup, siapa yang tahan tinggal serumah dengannya?
Aini menarik napas dalam-dalam. Lalu memekik:
“Elina! Bawa handuk! Cepetan!”
Di rumah ini, tak ada yang benar-benar jadi anak. Tak ada yang jadi ibu. Hanya warisan luka yang berulang-ulang, menyamar jadi kewajiban, menyamar jadi cinta.
BAB 2 Tempat Pensil
[sunting]Sore itu, angin berembus lembab membawa bau tanah dan sisa daun yang terbakar. Aini baru pulang dari pabrik, kakinya pegal, pinggangnya nyeri. Tapi yang lebih menyakitkan adalah saku seragamnya yang kosong.
“Sudah habis lagi... rasanya kerja seharian gak ada gunanya,” gumamnya sambil menjatuhkan tubuh ke dipan reyot di ruang tengah. Suara kipas angin tua menderu pelan dari sudut ruangan.
Dari luar rumah, terdengar bisik-bisik tetangga yang berjalan melewati gang sempit. Mereka masih sering membicarakan masa lalu Aini bagaimana dulu ia pulang dalam keadaan babak belur, dengan bayi merah yang menangis tanpa henti. Aib yang tak pernah benar-benar padam di mulut orang kampung.
Aini mendengus, menutup telinganya dengan bantal sebentar. Tapi suara tawa kecil Elina dari dalam kamar justru membuatnya menajamkan telinga. Ada nada asing dalam tawa itu seperti seseorang yang menyembunyikan sesuatu.
Di meja belajar yang catnya mengelupas, Elina tengah menyimpan sesuatu. Sekilas, Aini melihat kilatan plastik bening dari balik tas anak itu. Bukan makanan. Bukan buku. Tapi sesuatu yang terlalu baru untuk keadaan mereka.
Tempat pensil bergambar karakter kartun. Rautan berbentuk kelinci. Dan sebungkus ciki yang belum dibuka.
“Ini siapa yang beli?” suara Aini meninggi. Dia bangkit, mendekat cepat, membuat Elina tersentak.
“Dari... dari Bapak,” jawab Elina gugup, menunduk.
“Bapakmu? Bapakmu yang mana? Yang dulu mukul Ibu sampai gigi copot? Yang sudah lama tidak pernah pulang, tidak pernah kirim kabar?”
Elina terdiam. Wajahnya mulai merah, tangan gemetar.
Aini menyambar tas Elina, mengobrak-abrik isinya. Beberapa lembar uang ribuan terlipat rapi dalam dompet kecil.
“Ya Allah... ini dari mana, Lin? Kok bisa punya uang banyak gini?”
Anak itu masih diam. Matanya mulai basah.
“Kamu nyolong, ya?!” suara Aini menggelegar, menusuk jantung rumah mereka yang sudah lama sesak oleh kemarahan.
Beberapa hari sebelumnya, Aini sempat kehilangan uang seratus ribu yang ia selipkan di bawah bantal. Katanya pada tetangga, mungkin diambil tuyul, mungkin barang gaib. Tapi sekarang, semuanya jelas.
Elina, anak yang ia lahirkan dengan sekujur tubuh memar dan hati retak, ternyata tumbuh dengan rahasia yang tak ia sangka.
“Kok bisa? Ibu udah jungkir balik mengurus kamu, kerja dari pagi sampe malam, ngusahain kamu biar bisa sekolah, bisa makan, tapi kamu malah gini, kok bisa Lin? Ya Allah, Kalau Ibu bisa kirim kamu ke bapakmu, Ibu kirim kamu sekarang ke bapakmu yang jahat itu, kamu udah diurus, dirawat, malah nyolong uang Ibumu sendiri, Ya Allah Lin, Lin. Keterlaluan kamu.” Aini terduduk di lantai, menepuk dahinya sendiri.
Elina menangis, tapi tidak keras. Air matanya jatuh diam-diam, seperti tangis yang sudah terbiasa ia sembunyikan.
--
Malamnya, saat rumah sudah hening dan hanya suara jangkrik yang menemani, Aini duduk di depan tungku. Ia menyalakan api kecil, membuat air panas untuk mandi. Tubuhnya masih berkeringat, tapi bukan karena pekerjaan. Karena amarah. Karena luka.
Matanya menatap kosong ke kobaran api, lalu pelan-pelan ingatannya kembali ke tujuh tahun lalu.
Malam itu juga dingin. Aini tengah hamil tua, perutnya membuncit dan kakinya bengkak. Tapi ia tetap mengaduk adonan kue pesanan Bu Lastri, tetangganya.
“Kalau tidak kerja, anak ini mau makan apa?” katanya waktu itu sambil menahan mual.
Suaminya? Di luar, entah ke mana. Pulang mabuk, pulang maki-maki. Aini bahkan harus mengikat pintu dengan tali rafia karena pernah ditendang saat tengah malam.
Saat kontraksi datang, tidak ada yang mengantar. Hanya seorang tetangga yang kasihan, membawa Aini ke puskesmas dengan motor bebek tuanya.
“Mbak, sabar ya. Jangan pikirkan biaya dulu. Anaknya harus lahir selamat,” kata bidan waktu itu.
Dan benar. Di ruang bersalin dingin itu, Aini berteriak sendirian. Tak ada tangan yang digenggam, tak ada suami yang mengusap kening. Hanya dinding kosong dan jeritannya sendiri.
Begitu anaknya lahir, dokter laki-laki yang membantu persalinan itu menatap Aini dengan iba.
“Bayi perempuan. Siapa yang adzanin?”
Aini diam. Menahan tangis.
“Tidak ada. Pak dokter saja...” jawabnya pelan.
Dokter itu tersenyum pahit, lalu mengangkat bayi mungil itu ke telinganya. Dengan suara lirih tapi mantap, ia melafalkan adzan dan iqamah.
Elina lahir bukan dalam doa-doa hangat seorang ayah. Tapi dalam peluh dan luka ibunya.
--
Pagi harinya, Aini duduk di depan rumah, menatap jalanan sempit yang becek karena hujan semalam. Elina berdiri tak jauh darinya, masih dengan mata bengkak dan wajah pucat.
“Kenapa, Lin? Kenapa sampai nyolong?”
Anak itu menunduk, lalu berbisik, “Aku malu, Bu... Aku ingin seperti teman-temanku, bisa tukar-tukaran tempat pensil... bisa jajan ciki...”
Aini menggigit bibirnya.
“Aku tahu... Ibu capek. Tapi... aku juga capek, dengerin Ibu marah-marah terus. Aku juga pingin bu punya banyak temen, punya barang-barang bagus. Tapi ibu gak pernah beliin.”
Ucapan itu seperti sembilu yang menyeret semua luka ke permukaan.
Aini memejamkan mata. Ia ingin memaki, ingin marah, tapi tubuhnya lelah.
Ia tahu, Elina bukan hanya mencuri uang. Tapi mencuri hak untuk merasa cukup. Sesuatu yang tak pernah bisa ia beri.
Dan di detik itu juga, Aini sadar, luka-lukanya belum berhenti mengalir. Mereka merembes lewat tangan kecil Elina. Dan bila dibiarkan, akan tumbuh menjadi dendam yang lebih dalam.
“Minggu depan kamu ikut Ibu kerja. Biar kamu lihat, seberapa susahnya cari duit, Lin. Tapi...” suaranya melemah. “Tapi mulai sekarang, Ibu akan berusaha tidak marah.”
Elina mendekat pelan, memeluk pinggang ibunya.
Dalam pelukan yang kaku dan kikuk itu, keduanya tahu, tak ada yang benar-benar sembuh. Tapi mungkin, mereka bisa saling rawat. Pelan-pelan.
Dan di dapur belakang, suara Masriah menggema dari kamar, melafalkan ayat yang tak selesai. Dunia belum tenang. Tapi pagi itu, ada sesuatu yang mencoba dimulai ulang.