Lompat ke isi

Mengenal Komoditas Lokal Sulawesi Selatan/Komoditas Pangan

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Padi

[sunting]

Sebagai salah satu sentra produksi padi di Indonesia, Sulawesi Selatan memiliki keragaman varietas lokal yang mencerminkan kekayaan sumber daya genetik daerahnya. Penanaman padi banyak dilakukan di wilayah dataran tinggi seperti Tana Toraja, Toraja Utara dan Enrekang.

Kandungan amilosa pada beras ditentukan oleh faktor genetik, suhu lingkungan, dan kadar nitrogen tanah. Perbedaan kondisi tersebut menghasilkan karakteristik beras yang beragam, baik dari segi tekstur, rasa, maupun kandungan gizinya.

Padi Lokal Tana Toraja

[sunting]

Di Desa Balusu, Kecamatan Sa’dam, Kabupaten Tana Toraja dihasilkan padi lokal seperti:

  • Pare Bau Varietas ini mampu menghasilkan 150 sampai 300 gabah per malai dengan ukuran 2,1 hingga 3,0 mm. Ekor gabah berwarna kuning jerami. Kandungan amilosa tergolong rendah, yaitu 17,54 persen, dan kadar protein mencapai 8,2 persen. Nasi dari varietas ini dikenal sangat pulen dan lembut.
  • Pare Lea Produktivitas varietas ini tergolong sedang, dengan hasil kurang dari 150 gabah per malai. Ukuran butirnya termasuk kategori sedang, yaitu 2,1 hingga 3,0 mm.
  • Pare Lalodo Rata-rata hasil panen mencapai 150 hingga 300 gabah per malai. Gabah berukuran sedang, sekitar 2,1 sampai 3,0 mm. Warna butir berasnya hitam, teksturnya pulen serta agak lengket. Termasuk kelompok beras ketan dengan kadar protein sekitar 7,4 persen.
  • Pare Rogon Jumlah gabah per malai berkisar antara 150 dan 300 butir dengan panjang 2,1 sampai 3,0 mm. Kandungan amilosa rendah, yaitu 17,797 persen, sedangkan kadar proteinnya sekitar 7,6 persen.

Jenis ini berbeda lagi dengan padi lokal dari Desa Sangkaropi yang terdiri dari

  • Pare Ambo Ciri khas varietas ini terdapat pada ujung gabah yang memiliki titik berwarna coklat tua serta tangkai yang juga berwarna serupa. Produktivitasnya di bawah 150 gabah per malai, dengan ukuran 2,1 sampai 3,0 mm. Butir beras berwarna hitam, bertekstur pulen, dan tidak lengket. Kadar amilosa 18,295 persen, sedangkan proteinnya 8,5 persen.
  • Pare Birrang Gabah berbentuk ramping dengan panjang lebih dari 3 mm. Ujung gabah menunjukkan titik coklat kekuningan, sementara ekornya berwarna coklat tua. Hasil panen umumnya kurang dari 150 gabah per malai.
  • Pare Bumbungan Varietas ini menghasilkan 150 sampai 300 gabah per malai dengan bentuk yang ramping dan ekor kuning kecoklatan. Termasuk beras ketan yang sangat lengket dan lembut saat dimasak. Kadar protein sekitar 7,3 persen.
  • Pare Kobo Jumlah gabah per malai berkisar antara 150 dan 300 butir dengan ukuran 2,1 hingga 3,0 mm. Ekor gabah berwarna kuning kecoklatan dan butir beras berwarna hitam. Kandungan amilosa tergolong rendah, 15,916 persen, dengan protein 8,4 persen. Teksturnya pulen namun tidak lengket .
  • Pare Ra’rari Memiliki ujung gabah bertitik coklat kekuningan dengan hasil kurang dari 150 gabah per malai.
  • Pare Tallang Produktivitasnya di bawah 150 gabah per malai dengan ukuran 2,1 sampai 3,0 mm. Amilosa 17,797 persen dan kadar protein sekitar 8 persen.[1]

Kadar protein dalam beras sangat dipengaruhi oleh cara penggilingan dan kandungan nitrogen di tanah. Penggilingan yang terlalu intens dapat menurunkan kadar protein karena lapisan luar biji ikut terbuang. Sebaliknya, tanah yang kaya nitrogen biasanya menghasilkan padi dengan kadar protein yang lebih tinggi. Padi dengan kadar protein rendah cenderung menghasilkan nasi yang pulen karena dominasi fraksi glutelin yang memberikan tekstur lengket dan lembut.

Padi Lokal Kabupaten Enrekang

[sunting]
  • Pare Kamida Varietas khas pegunungan yang mampu tumbuh baik di lahan lokal dengan kondisi lingkungan terbatas.
  • Pare Lambau Dikenal karena akar, batang, dan daunnya mengandung isolat cendawan pelarut fosfat yang membantu meningkatkan ketersediaan unsur hara di tanah.
  • Pare Lotong Termasuk jenis beras ketan dengan kadar amilosa sangat rendah, 2,122 persen. Dari daunnya dapat diperoleh isolat cendawan dengan kemampuan melarutkan fosfat.
  • Pare Mansur Termasuk varietas lokal yang mampu beradaptasi dengan kondisi tanah yang kurang subur.
  • Pare Pallan Jenis beras ketan bertekstur lembut dengan kadar amilosa yang sangat rendah, yaitu 2,033 persen.
  • Pare Pinjan Memiliki karakter serupa dengan Pare Pallan, yaitu ketan lengket dan kadar amilosa sangat rendah, 2,033 persen.
  • Pare Pulu Mandoti Beras berwarna merah dengan tekstur lengket. Dari seluruh bagian tanaman dapat ditemukan isolat cendawan pelarut fosfat yang potensial bagi kesuburan tanah.
  • Pare Salle Kadar amilosanya 16,193 persen dan berasnya bertekstur pulen.
  • Pare Solo Termasuk varietas dengan amilosa rendah, 18,595 persen, serta cita rasa lembut saat dikonsumsi.[2][3] Selain itu, varietas Pare Gunung Perak, Pare Bau, dan Pare Kombong juga masih dijumpai di wilayah ini.

Menariknya, Pare Lambau, Pulu Mandoti, dan Pare Lotong memiliki potensi biologis penting karena menjadi inang bagi cendawan endofit pelarut fosfat.[4]

Tantangan Pelestarian Padi Lokal

[sunting]

Keberadaan padi lokal di Sulawesi Selatan mulai terancam karena banyak petani beralih ke varietas hibrida. Akses terhadap benih lokal juga semakin terbatas, sementara teknik budidaya tradisional yang minim penggunaan pupuk dan pestisida membuat produktivitasnya belum optimal. Jika tidak ada upaya pelestarian yang serius, varietas padi lokal ini berpotensi hilang dari peredaran.[5]

Sorgum

[sunting]

Selain padi, Sulawesi Selatan juga memiliki komoditas penting lain, yaitu sorgum.

  • Sorgum Tritiro Berasal dari Bulukumba, dengan tinggi tanaman 150 hingga 200 cm dan batang berdiameter kurang dari 2 cm. Daunnya panjang, sekitar 75 hingga 79 cm, sedangkan malai berbentuk piramidal sepanjang 27 sampai 32 cm dengan biji coklat elips. Kandungan karbohidrat mencapai 86,73 persen, protein 10,11 persen, dan serat 4,17 persen.
  • Sorgum Batara Tojeng Eja Varietas lokal yang memiliki kadar tannin tinggi, yaitu 10,6 mg per gram, serta kandungan abu dan lemak yang lebih besar dibanding Tritiro.
  • Sorgum Batara Tojeng Bae Dikenal karena kandungan seratnya yang cukup tinggi, mencapai 4,84 persen.
  • Sorgum Jeneponto Varietas unggulan asal Jeneponto yang mulai dikembangkan sebagai sumber pangan alternatif.[6]
  • Sorgum Selayar Hitam Dibudidayakan di Pulau Selayar dan dikenal dengan warna bijinya yang hitam.[7]

Referensi

[sunting]
  1. Juhriah, J., Masniawati, A. M. A., Tambaru, E., & Sajak, A. (2013). Karakterisasi morfologi malai padi lokal asal kabupaten Tana Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Sainsmat: Jurnal Ilmiah Ilmu Pengetahuan Alam, 2(1), 22-31.
  2. Masniawati, A., Asrul, N. A. M., Johannes, E., & Asnady, M. (2018, March). Characterization of rice physicochemical properties local rice germplasm from Tana Toraja regency of South Sulawesi. In Journal of Physics: Conference Series (Vol. 979, No. 1, p. 012005). IOP Publishing.
  3. Maulana, Z., Kuswinanti, T., Sennang, N. R., & Syaiful, S. A. (2014). Genetic diversity of locally rice germplasm from Tana Toraja and Enrekang based on RAPD (Random Amplified Polymorphism DNA) markers. International Journal of Scientific & Technology Research, 3(4), 347-352.
  4. Syamsia, S. (2016). POTENSI CENDAWAN ENDOFIT ASAL PADI AROMATIK LOKAL ENREKANG SEBAGAI PELARUT FOSFAT: Potential of Endophytic Fungus Originated from Local Aromatic Rice of Enrekang as Phosphate Solvents. Jurnal Agrotan, 2(1), 57-63.
  5. Ir Zulkifli Maulana, M. P. (2017). Keragaman Plasma Nutfah Padi Lokal Sulawesi Selatan (Vol. 1). Sah Media.
  6. Banna, M. Z. A., & Arifuddin, W. (2024). Characterizing agronomic, morphological, nutritional, and phytochemical traits of local sorghum (Sorghum bicolor L.) in Indonesia. Jurnal Ilmiah Pertanian, 21(2), 151-165.https://journal.unilak.ac.id/index.php/jip/article/view/16672
  7. Pabendon, M. B., Sarungallo, R. S., & Mas’ud, S. (2012). Pemanfaatan nira batang, bagas, dan biji sorgum manis sebagai bahan baku bioetanol. Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan, 31(3), 139210.https://media.neliti.com/media/publications/139210-ID-pemanfaatan-nira-batang-bagas-dan-biji-s.pdf