Mengenal Petilasan Mbah Demang: dari Asal-Usul dan Tradisi Budaya Masa Lalu

Mbah Demang adalah seseorang yang dianggap sakti dan diyakini hidup pada saat wilayah Jember kota masih berupa hutan belantara, dengan agama Islam yang dianutnya. Sebelumnya telah ada beberapa pegiat sejarah di Jember yang telah mencoba mengkaji tentang riwayat Mbah Demang yang tergabung ke dalam Tim Review Hari Jadi Jember pada sekitar tahun 2015. Sehingga didapat informasi bahwa Mbah Demang disebutkan memiliki nama asli Kanjeng Raden Tumenggung Ronggo Wiryo Sastronegoro sebuah trah dari Mataram, seorang pelarian dari Surakarta pada sekitar tahun 1817. Sedangkan nama Demang diidentifikasi sebagai nama jabatan, dimana sangat lazim pada zaman dahulu menyebut pemimpin atau kepala desa dengan sebutan Demang. Namun demikian informasi ini belum bisa dikatakan benar, karena belum dapat ditemukan mengenai sumber sezaman yang mengatakan demikian.[1]
Di dalam lingkungan masyarakat, Mbah Demang dikenal sebagai seorang pembabat Jember dan seorang pertapa, arti membabat dalam hal ini adalah membuka hutan sehingga dapat dijadikan sebagai sebuah pemukiman baru. Menurut keterangan Mbah Umi Kulsum, Mbah Demang datang ke Jember sejak wilayah ini berupa hutan lebat dan banyak binatang buasnya. Ia dengan pengikut-pengikutnya membuka hutan untuk membuat pemukiman baru sehingga layak untuk ditempati. Karena Mbah Demang suka bertapa dan tirakat, maka semua gangguan dan rintangan dapat diatasi.
Keberadaan tentang Mbah Demang pada masa lalu santer diketahui karena terdapatnya sebuah petilasan yang dipercaya sebagai jejak dari Mbah Demang pada masa lalu. Sebagian orang awam mengira bahwa petilasan Mbah Demang adalah sebuah makam, namun sesungguhnya tempat tersebut adalah sebuah petilasan yang tidak ada raga di dalamnya.
Terkait keterangan ini, telah ditegaskan oleh tiga penduduk di sekitar petilasan Mbah Demang yang salah satunya ialah juru kunci yang mengatakan bahwa petilasan Mbah Demang ialah sebuah petilasan. Petilasan Mbah Demang dipercaya sebagai tempat keramat oleh masyarakat Jember hingga luar Jember.
Petilasan Mbah Demang terdapat di pusat kota, tepatnya di Kelurahan Jember Lor, Kecamatan Patrang, Lingkungan Tegal Rejo, dan lebih dikenal dengan nama dusun Sembah Demang. Dengan pusat Alun-Alun Jember, petilasan Mbah Demang berada sekitar 400 meter di belakang Masjid Jami’ Al-Baitul Amien Jember.
Terkait dengan sejarah awal petilasan Mbah Demang, informasi ini pun hanya mampu didapat melalui tuturan Mbah Umi Kulsum selaku juru kunci di petilasan Mbah Demang yang telah menjadi kuncen sejak tahun 1988. Dalam ceritanya, Mbah Umi Kulsum menerangkan bahwa, dahulu terdapat wahyu atau petunjuk bahwa yang membabat Jember ini adalah Mbah Demang. Namanya Mbah Demang sendiri bukanlah Mbah Demang, jadi Demang adalah Kademangan yaitu sebuah sebutan bagi desa pada zaman dahulu.
Selanjutnya Mbah Umi Kulsum menerangkan bahwa, pada waktu itu banyak burung mati di bawah tanah yang ditengarai sebagai petilasan Mbah Demang. Ibarat sebuah pertanda, burung-burung yang terbang di atas tanah petilasan Mbah Demang akan jatuh dan mati di atas tanah tersebut. Selain itu pula tanah itu juga diketahui berbeda dan tidak seperti tanah yang lain. Sehingga beranggapanlah bahwa tanah tersebut adalah petilasan Mbah Demang.
Kemudian, setelah meyakini bahwa tanah itu adalah petilasan Mbah Demang, maka dibangunlah pondokan di atas tanah petilasan itu. Tanah petilasan Mbah Demang disirep mengeliling dengan beratapkan daun pari atau damen. Penamaan petilasan Mbah Demang sendiri, Mbah Umi Kulsum menambahkan bahwa nama petilasan Mbah Demang diberikan oleh juru kunci Belanda pada tahun 1930- an.
Nampaknya pula petilasan Mbah Demang pada tahun 1920 pun telah ada. Hal ini terlihat pada peta Kaart Van De Plaats Djember tahun 1920 yang menggambarkan tentang kondisi geografis Jember pada tahun tersebut dan menangkap sebuah makam Islam yang ditengarai sebagai petilasan Mbah Demang karena letak yang begitu tepat dengan letak petilasan Mbah Demang saat ini.
Sejak ditemukannya petilasan dan mendapat perhatian dari masyarakat, lambat laun petilasan Mbah Demang semakin ramai dikunjungi oleh peziarah sebagai petilasan keramat. Menariknya, peziarah yang datang tidak hanya dari masyarakat Jember saja tetapi juga masyarakat luar Jember. Keberadaan petilasan Mbah Demang pada saat itu semakin diterima oleh masyarakat, hingga juru kunci yang pada saat itu dipegang oleh Mbah Joyo berinisiatif untuk mengadakan pagelaran wayang kulit.
Diketahui berdasarkan hasil wawancara oleh Bapak Hasyim, pagelaran wayang kulit yang diadakan di lingkungan petilasan Mbah Demang diselenggarakan setiap satu tahun sekali. Pagelaran ini diadakan sekitar pada tahun 1950-1970-an yakni pada saat mbah Joyo masih menjadi kuncennya. Pagelaran wayang kulit diselenggarakan semalam suntuk dengan memanggil seorang dalang sebagai pemimpin lakon dari terselenggarakannya pewayangan tersebut. Adapun penonton dari pagelaran wayang kulit adalah para peziarah yang datang ke petilasan Mbah Demang yang tidak hanya dari lingkungan sekitar tetapi juga luar kota.
Pada tahun sebelum tahun 2000-an dikatakan bahwa banyak peziarah yang mendatangi petilasan Mbah Demang untuk berdoa sambil bernazar dengan kebutuhan terkait keberkahan, kekuatan, jabatan serta kekayaan. Masyarakat dan para peziarah percaya bahwa jika memanjatkan doa di petilasan Mbah Demang maka doa-doa tersebut akan segera terkabul. Sehingga hal ini pada akhirnya memberikan dampak baik bagi kondisi fisik petilasan Mbah Demang sendiri. Beberapa peziarah yang datang memenuhi nazarnya dengan memugar petilasan Mbah Demang.
Adanya aktivitas pemugaran di petilasan Mbah Demang oleh para peziarah sebagai bentuk pelunasan nazar memberikan pertanda bahwa pada masa itu petilasan Mbah Demang semakin mendapatkan banyak perhatian dari para peziarah. Sebagai pelunas nazarnya, peziarah tidak segan untuk memugar petilasan Mbah Demang dengan dijadikan sebuah bangunan yang lebih baik.
Hal ini tidak lepas dari kepercayaan peziarah sendiri terhadap nilai kekeramatan petilasan Mbah Demang yang terus berkembang di lingkungan masyarakat, yang mana keramat merupakan hal suci dan bertuah yang dapat memberikan efek magis dan psikologis terhadap individu.[2] Dikatakan pada kurun tahun tersebut petilasan Mbah Demang tidak pernah sepi dari peziarah.
Demikian, ditemukannya petilasan Mbah Demang yaitu bermula ketika seorang penduduk lokal merasa mendapatkan petunjuk tentang leluhur yang telah membabat wilayah Jember, yang mana fenomena ini tidak lepas dari adanya suatu kepercayaan lokal masyarakat yang tinggi terhadap keberadaan leluhur atau nenek moyang. Hingga lambat laun, petilasan Mbah Demang semakin dikenal sebagai makam keramat, dan banyak dikunjungi oleh para peziarah pada tahun diatas 2000-an.
Referensi: