Menilik Kekhasan di Desa Sade/Keunikan Rumah Adat Desa Sade
Warisan budaya yang menjadi daya tarik wisata di Desa Sade adalah tetap terjaganya cara hidup serta keterampilan yang diwariskan dari leluhur. Hal ini terlihat dari bangunan tradisional yang masih dipertahankan, dengan dinding dari anyaman bambu (bedek), tiang dan pengikat dari kayu bambu, atap yang terbuat dari daun alang-alang, serta lantai berbahan tanah liat yang dicampur abu jerami dan kotoran kerbau. Masyarakat Desa Sade meyakini bahwa penggunaan kotoran kerbau pada lantai rumah adat memiliki fungsi khusus, yaitu menjaga lantai tetap bersih dari debu, membuat permukaannya lebih halus serta kokoh. Selain itu, kotoran kerbau dipercaya mampu mengusir serangga sekaligus menangkal energi negatif yang bisa ditujukan kepada pemilik rumah. Ruang dalam rumah adat Sade sendiri terbagi menjadi tiga bagian: ruang depan digunakan sebagai tempat tidur bagi anak laki-laki dan orang tua, bagian tengah difungsikan sebagai dapur, lumbung, sekaligus kamar tidur anak perempuan, sedangkan bagian paling belakang menjadi ruang khusus bagi ibu saat melahirkan. Keunikan lainnya terlihat dari pembagian ruang yang memiliki makna simbolis: bagian depan diperuntukkan bagi orang tua dan anak laki-laki, bagian tengah difungsikan sebagai dapur, lumbung, dan kamar anak perempuan, sedangkan bagian belakang khusus untuk proses melahirkan. Bentuk atap yang rendah dan tebal menjaga suhu rumah tetap nyaman sekaligus melambangkan kerendahan hati. Proses pembangunan rumah pun dilakukan secara gotong royong, menjadikannya simbol kebersamaan masyarakat. Meskipun terbuat dari bahan sederhana, rumah adat Sade mampu bertahan lama apabila dirawat dengan baik, sehingga mencerminkan kearifan lokal dalam memanfaatkan alam sekitar. [1]
Referrensi
[sunting]- ↑ Raodatul Hasanah, Kearifan Lokal Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya Di Desa Sade Kabupaten Lombok Tengah, Deskovi : Art and Design Journal Volume 2, Nomor 1, Juni 2019 hal 49