Lompat ke isi

Merawat Pendidikan di Segala Kalangan: Urgensi Taman Belajar Masyarakat Sebagai Wujud Kemerdekaan Belajar di Kabupaten Jember

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Tentang Penulis

[sunting]

Hai, panggil saya Fa! Saya menulis esai, opini, fiksi mini, hingga puisi. Saya terbuka atas kritik, saran, dan diskusi.

Sebuah Esai

[sunting]

Di tengah lanskap wilayah Jember yang luas, terbentang berbagai realitas sosial yang tidak selalu tersentuh oleh layanan pendidikan formal. Dari pelosok pegunungan hingga kantong-kantong kemiskinan di pinggiran kota, masih banyak anak-anak dan remaja yang tercecer dari jalur pendidikan utama karena keterbatasan ekonomi, sosial, atau geografis. Dalam situasi inilah, keberadaan taman belajar non-formal seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Rumah Pintar menjadi oase harapan yang tidak bisa diabaikan.

Salah satu kelompok belajar masyarakat yang sudah hampir 1 dekade berkiprah mendidik anak dan warga sekitar Dusun Sumberpinang di Silo, ialah PKBM Rumah Pintar (Rumpi) Jember. PKBM Rumah Pintar bukan sekadar tempat belajar calistung atau persiapan ujian kejar paket. Lebih dari itu, ia adalah ruang aman untuk tumbuh, tempat anak-anak mendapatkan penguatan karakter, literasi hidup, dan bimbingan yang bersifat holistik. Dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan ramah, taman belajar non-formal mampu menjangkau mereka yang tersisih, memulihkan semangat belajar, dan membuka jendela masa depan yang sempat tertutup.

Jember sebagai salah satu kabupaten besar di Jawa Timur memiliki tantangan geografis yang unik: desa-desa terpencil yang sulit diakses, jumlah sekolah negeri yang tidak merata, serta banyaknya anak putus sekolah akibat tekanan ekonomi keluarga. Dalam kondisi seperti ini, kita tidak bisa menggantungkan harapan hanya pada institusi pendidikan formal. Justru inisiatif-inisiatif pendidikan komunitas seperti PKBM, taman baca, atau kelas belajar informal di balai RW menjadi kekuatan akar rumput yang perlu didukung dan diperluas.

Kehadiran taman belajar non-formal juga memiliki nilai sosial yang tinggi. Ia sering menjadi tempat bertemunya relawan, guru komunitas, aktivis literasi, dan masyarakat lokal yang peduli. Di ruang-ruang seperti itu, pendidikan menjadi kegiatan gotong royong yang memanusiakan, bukan sekadar kurikulum yang menekankan target nilai. Anak-anak tidak hanya belajar membaca dan menulis, tetapi juga belajar tentang empati, solidaritas, dan identitas.

Namun sayangnya, eksistensi taman belajar non-formal seringkali luput dari perhatian pemangku kebijakan. Minimnya dukungan dana, sulitnya akses infrastruktur, dan tidak adanya pengakuan formal atas kerja-kerja sosial yang dilakukan menjadi hambatan utama. Padahal, dengan pendampingan yang tepat, taman belajar non-formal bisa menjadi jembatan penghubung antara pendidikan dasar dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Kita dapat mengambil contoh salah satu bangku kemerdekaan belajar yakni Salam (Sanggar Anak Alam), sekolah alam yang fleksibel di Yogyakarta, yang juga merupakan wujud PKBM dan telah terdaftar Data Pokok Kemendikdasmen.  Hal ini menjadi bukti bahwa sekolah-sekolah yang menyasar semua kalangan harus menjamur di berbagai di wilayah di Indonesia, terutama di Jember yang memiliki banyak jumlah penduduk dan masih banyak di antaranya terpaksa putus sekolah. Tidak hanya itu, PKBM dapat menjadi sarana pendidikan tambahan di luar pendidikan sekolah formal yang biasanya dirasakan oleh para muridnya. Dengan itu, para murid bisa mendapatkan pandangan yang lebih luas dan beragam tentang dunia yang mereka tinggali.

Sudah saatnya pemerintah daerah Jember dan pemangku kepentingan lainnya memandang taman belajar non-formal bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai mitra strategis dalam membangun ekosistem pendidikan inklusif. Dukungan bisa hadir dalam bentuk insentif relawan, pelatihan fasilitator komunitas, hibah buku dan perangkat belajar, serta integrasi program kejar paket yang lebih manusiawi dan kontekstual.

Jika taman-taman belajar ini dirawat dan diperbanyak, Jember akan tumbuh bukan hanya dengan angka partisipasi sekolah yang tinggi, tetapi juga dengan generasi muda yang kuat, tangguh, dan berdaya. Karena pendidikan sejatinya tidak hanya soal ijazah, tapi tentang menyemai harapan dan memanusiakan kehidupan di manapun mereka berada.

Referensi

[sunting]

PKBM Rumah Pintar telah terdaftar di https://dapo.kemendikdasmen.go.id/sekolah/5028F47B493EEE0B5FB2

PKBM SANGGAR ANAK ALAM https://dapo.kemendikdasmen.go.id/sekolah/FE86B44CD12716E46EEF