Lompat ke isi

Mimpi dibawah Langit Australia

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Suasana Langit

Penulis- Mauli Maia Alsayyida

Disebuah desa kecil yang tenang di pesisir pantai, suara ombak menjadi nyanyian harian dan matahari tenggelam selalu ditunggu anak-anak bermain layang-layang, tinggal seorang gadis ambis dan pintar bernama Arin. Ia adalah anak sulung dari empat bersaudara dalam keluarga nelayan miskin. Hidup dalam keterbatasan tak pernah membuat semangatnya padam. Bahkan sejak duduk dibangku SMA Arin punya impian yang melambung tinggi: kuliah di Australia. Ia hanya ingin membuka pintu harapan bagi keluarganya dan bagi anak-anak desa yang selama ini merasa bahwa mimpi itu tidak hanya milik anak kota kaya raya.

Di Tengah Kelas dan Tawa

[sunting]

Hari itu, dikelas XII SMA, Bu Sri guru Bahasa Inggris meminta ujian lisan mendadak kepada siswa-siswinya dengan menerangkan cita-cita masing-masing dalam bahasa Inggris. Wicak, si usil tapi jago bahasa Inggris, dengan percaya diri berkata “I want to help my father at the factory so that one day I can start a fishery business”.

Saat giliran Raudah, teman sebangku Arin, “I just want to help my mother jualan fish di Pasar”, sontak kelas ramai dengan suara gelak tawa anak-anak yang menertawakan bahasa inggris Raudah yang masih setengah-setengah. Lalu nama Arin disebut. Ia berdiri, menatap ke depan dengan mata yang penuh keyakinan.

“I want to continue my education abroad, because I want to gain experience by studying and working there.”ucapnya.

Kelas kembali terdiam. Beberapa berbisik tak paham, sebagian menertawakan. “Mimpi kali, sok belagak mau study abroad dasar anak orang susah! Jangan mimpi ketinggian!” cibir seorang siswi. Tapi Bu Sri hanya tersenyum dan berkata, “That’s good, Arin.” [Kategori:Bhumika Wiki (Lombok)]]

Dicemooh, Tapi Tidak Luruh

[sunting]

Beberapa hari setelah ujian lisan Bahasa inggris, Rani sahabat dekat Arin sejak kecil menyindir, “Kamu masih aja pegang mimpi itu? Duit buat beli seragam sekolahmu aja minjam ke ayahku, Rin.”

Arin hanya bisa menanggapi dengan senyum pahit. Bukan karena hatinya kebal dari luka, melainkan karena ia sadar bahkan sosok yang kau sebut teman pun tak selalu sanggup percaya pada mimpi yang belum pasti terwujud. Ia sendiri masih gamang, tak tahu jalan untuk mewujudkannya. Lahir dari keluarga yang terhimpit keterbatasan ekonomi, Arin paham betul bagaimana nasib sering kali meremehkan keberanian. Namun, benarkah latar belakang itu harus menjadi tembok yang meruntuhkan cita-citanya? Akankah impian kuliah di luar negeri hanyalah dongeng yang berakhir sebelum sempat dimulai? Atau justru takdir bisa ia genggam, meski tangannya gemetar menantang mustahil?.

Malam itu, setelah seharian hatinya terombang-ambing oleh sindiran dan keraguannya sendiri, Arin memberanikan diri membuka suara di meja makan. Di tengah hidangan sederhana ikan goreng dan tempe ia menatap kedua orang tuanya dengan penuh tekad. “Pak, Bu…setelah lulus SMA nanti aku mau kuliah di Australia.”

Ibunya terbatuk keras, nyaris tersedak mendengar ucapan Arin. “Apa? Australia?! Rin… anakkuu,” suaranya bergetar antara kaget dan marah. “Kalau punya cita-cita, jangan ketinggian. Lihat keadaan kita! Kamu kira kamu anak orang kaya? Buat melanjutkan kuliahmu di sini saja, kami masih harus memutar otak. Tapi kami tetap berusaha, karena kami yakin semakin tinggi sekolahmu, semakin besar peluangmu dapat pekerjaan layak. Supaya kamu tak hidup sengsara seperti kami, supaya nanti bisa bantu adik-adikmu sekolah. Itu harapan kami, Rin. Jadi jangan sia-siakan perjuangan orang tuamu ini. Kalau memang mau meringankan beban, carilah beasiswa… tapi cukup di kampus-kampus dekat sini saja. Kamu anak perempuan, untuk apa jauh-jauh? Ujung-ujungnya juga jadi ibu rumah tangga, seperti Ibu sekarang.”

Dalam hati, Arin seperti diremas. Ibu selalu berpikir begitu. Pendidikan hanya dilihat dari sisi gaji dan pekerjaan, padahal dunia nyata jauh lebih rumit. Sekolah tinggi bukan sekadar mengejar uang, tapi membentuk pola pikir, membuka cara pandang, membangun masa depan yang lebih luas. Aku tahu, tanpa pendidikan pun banyak yang bisa sukses, tapi bukan itu intinya. Yang membuatku sakit adalah merasa jadi beban, seolah cita-citaku hanya menambah susah. Tapi… meski pemikiran Ibu terasa kolot, aku tetap bersyukur. Setidaknya beliau masih berusaha keras menyekolahkanku, meski kami hidup serba kekurangan.

Ayahnya hanya diam lama, menatap nasi dingin dipiring. Lalu suaranya keluar pelan, berat, penuh pertimbangan. “Nak… kalau untuk pendidikan, Bapak selalu dukung. Tapi lihatlah keadaan kita. Jangan sampai cita-cita yang kamu kejar justru menyakiti orang-orang yang kamu sayangi.”

Mendengar jawaban itu, Arin terdiam. Hatinya remuk; orang tua yang ia harap jadi sandaran justru meruntuhkan mimpinya. Ia menunduk, menahan perih, sementara nasi dimulutnya berubah hambar dan pahit. Malam itu ia makan dengan wajah kaku, hatinya pecah berkeping. Apakah cita-citaku hanya ilusi? Apakah kuliah di luar negeri hanyalah hak anak orang kaya?.

Mimpi yang Terkubur

[sunting]

Hari kelulusan tiba. Nama Arin disebut sebagai salah satu dari tiga siswa berprestasi tahun itu. Lebih mengejutkan lagi, ia dinyatakan masuk siswa eligible di universitas negeri ternama di luar kota. Seharusnya kabar itu menjadi kebanggaan keluarga. Namun, kenyataan berkata lain.

“Jangan jauh-jauh, Rin. Kuliah dikampus swasta dekat sini aja. Toh, ngapain juga kuliah di luar kota? Biaya hidupmu nanti pasti mahal di sana. Ibu sama Bapak juga nggak punya uang. Ingat, orang tuamu ini orang susah. Jangan terlalu tinggi juga kalau punya cita-cita,” ucap ibunya tegas.

Kata-kata itu menancap tajam dihati Arin. Ia benci dengan cara berpikir ibunya yang sejak dulu seolah tak mau berkembang. Meski begitu, Arin juga sadar: ibunya bukan berasal dari kalangan berpendidikan, dan ia tetap bersyukur ibunya masih berusaha menyekolahkannya.

Arin sangat paham betapa jauhnya perbedaan antara universitas negeri impiannya dengan kampus swasta di daerah kecilnya. Apalagi jika dibandingkan dengan universitas luar negeri jaraknya bagaikan langit dan bumi. Namun, ibunya tak pernah mengerti. Bagi orang tua yang tak menempuh pendidikan tinggi, semua universitas dianggap sama, tergantung bagaimana anak menjalaninya. Pandangan itulah yang diam-diam paling dibenci Arin. Bagaimana menurutmu?

Meski hatinya memberontak, kelembutannya membuat Arin memilih menuruti keinginan orang tua. Ia tahu, berdebat hanya akan memperdalam luka. Cita-cita kuliah di luar negeri memang belum mati ia hanya menguburnya dalam-dalam, menunggu saat yang tepat untuk mekar kembali. Di balik senyum yang pasrah pada keputusan orang tuanya, hatinya bergetar hebat oleh sebuah janji yang ia bisikkan pada dirinya sendiri: Jika bukan di S1, maka di S2. Jika bukan di jenjang berikutnya, maka di jalan lain yang Tuhan bukakan. Apa pun yang terjadi, aku harus merasakan kuliah sambil kerja di luar negeri.

Baginya, itu bukan sekadar mimpi, melainkan ambisi yang membara. Ia ingin membuktikan bahwa anak desa di pesisir pantai pun mampu menembus bangku kuliah di luar negeri, meraih pekerjaan yang layak, sekaligus membawa pulang pengalaman dan wawasan berharga untuk membangun daerahnya. Lebih dari itu, ia berharap dapat mengubah cara pandang masyarakat tentang pendidikan tinggi bahwa kuliah bukan sekadar menghabiskan biaya atau sekadar jalan menuju pekerjaan, melainkan proses membentuk cara berpikir yang jernih.

Warung Mimpi

[sunting]

Hari-hari di kampus swasta itu dijalaninya dengan ambisi yang tak pernah padam. Arin terus mengasah bahasa Inggris dari video YouTube, buku pinjaman, hingga berbincang dengan turis asing di pantai. Demi menambah tabungan, ia diam-diam menjadi “joki” tugas bagi teman kuliah dan adik kelas, lalu mengumpulkan sedikit modal untuk sesuatu yang lebih besar: sebuah usaha.

“Ibu, aku akan mencoba jualan ikan dengan menu berbeda dari warung Ibu. Setiap sore, warungku akan buka,” ucap Arin penuh keyakinan.

Ibunya sempat menghela napas, “Bagus idemu, tapi kenapa tidak gabung saja dengan warung Ibu? untuk apa buka warung baru, hanya menambah biaya”. Namun Arin tahu, warung ibunya sudah lama terlihat kurang terawat, dan dapurnya pun butuh perbaikan agar layak untuk menarik minat pembeli. Ia ingin melakukan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang bisa membuat usaha keluarga mereka naik kelas.

Dengan papan seadanya dan bantuan gotong royong keluarga, berdirilah Warung Arin. Bedanya, Arin berani berinovasi: ikan bakar dengan bumbu variatif, minuman modern seperti boba dan es kopi, hingga rujak segar untuk anak-anak sekolah.

Arin juga memanfaatkan internet. Ia memotret dagangannya, membuat akun media sosial, lalu mempromosikan warungnya secara daring. Perlahan tapi pasti, Warung Arin kian dikenal, pesanan datang dari berbagai arah, melampaui batas kampung kecilnya. Dari papan sederhana itu lahir mindset anak muda yang berani: tak sekadar berdagang, tapi membuktikan bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari tempat paling sederhana.

Ibunya yang awalnya skeptis akhirnya menutup warung lamanya dan memilih bergabung dengan usaha sang anak. Kini mereka bukan lagi sekadar ibu dan anak, tapi kolega bisnis yang saling menopang. Warung kecil di tepi pantai itu menjadi simbol harapan baru bahwa dari bara ikan bakar, dari keringat nelayan dan tangan sederhana seorang ibu, Arin bisa menyalakan mimpi yang lebih besar: mimpi menembus dunia luar negeri.

Mimpi yang Menyala Kembali

[sunting]

Dua tahun berlalu, Arin benar-benar mengubah perekonomian keluarganya lewat warung kecil inovatif yang ia rintis. Dari hasil jerih payahnya, ia bisa membantu kebutuhan rumah tangga sekaligus tetap fokus menyelesaikan tugas akhir sebagai mahasiswa semester tujuh. Namun di balik kesibukan itu, ada satu mimpi besar yang tak pernah padam: lulus tepat waktu dan segera mengejar beasiswa kuliah ke luar negeri.

Suatu sore di warungnya, ketika baru saja membuka dagangan, hadir tamu istimewa. Bu Sri, guru Bahasa Inggrisnya di SMA, menghampirinya dengan senyum bangga. “Arin, usaha kamu luar biasa, Nak. Ibu kagum sekali. Masih ingat cita-cita kuliah ke luar negeri? Kebetulan, anak Ibu baru saja pulang dari sana dengan beasiswa LPDP. Kamu juga bisa mencoba,” ucap Bu Sri lembut namun penuh keyakinan.

Hati Arin bergetar hebat, seolah bintang jatuh menyalakan kembali cahaya mimpinya. “Wah, beneran Bu? Saya mau sekali! Tapi harus mulai dari mana?” tanyanya tak sabar. “Persiapkan tes dari sekarang, TOEFL atau IELTS. Kalau mau, hubungi Ibu. Ibu siap bantu bimbing kamu,” jawab Bu Sri sambil menepuk bahunya dengan penuh dukungan.

Sejak saat itu, semangat Arin kembali berkobar. Ia belajar lebih giat, menyelesaikan kuliahnya tepat waktu, dan memberanikan diri mendaftar ke universitas ternama yang bekerja sama dengan LPDP. Ia mengikuti tes demi tes dengan doa yang tak pernah putus. Dan akhirnya, kabar yang dinanti datang: Arin resmi diterima kuliah di Australia dengan beasiswa penuh.

Tiba di negeri Kanguru, Tuhan membuka jalan lain. Ia mendapat pekerjaan paruh waktu disebuah restoran dekat kampus. Sepulang kuliah, ia bekerja untuk mencukupi hidup sekaligus menata masa depan. Dari situlah Arin belajar hidup mandiri, menaklukkan rindu, dan membuktikan bahwa ketekunan berbuah manis.

Doa dan ikhtiar yang ia jaga sejak dulu benar-benar terjawab di waktu yang paling tepat. Arin bukan hanya berhasil meraih cita-citanya, tetapi juga mengangkat derajat keluarganya. Adik-adiknya bisa sekolah dengan layak, ekonomi keluarga membaik, dan orang tuanya hidup lebih sejahtera berkat kiriman dari negeri seberang.

Sampai akhirnya, di suatu malam penuh haru melalui sambungan telepon, ayahnya berkata dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca,“Bapak bangga sekali padamu, Nak. Kamu bukan hanya anak perempuan pertama kami, tapi juga pejuang yang berani mengambil risiko besar demi keluarga ini. Maafkan Bapak dan Ibu yang dulu sempat meragukan cita-citamu. Ternyata, kamu jauh lebih kuat dan berani dari yang pernah kami bayangkan”. Kata-kata itu membuat dada Arin bergetar. Ia sadar, segala hinaan dan keraguan yang dulu diarahkan padanya hanyalah batu loncatan. Kini, dengan keberanian, doa, dan tekad yang tak pernah padam, ia membuktikan: mimpi besar bukan sekadar angan ia bisa menjelma menjadi kenyataan.

Pada akhirnya, Arin meyakini bahwa pendidikan tinggi bukan hanya jalan untuk meraih pekerjaan yang layak, melainkan kunci untuk mengubah cara pandang, memperluas wawasan, dan menanamkan keyakinan bahwa setiap anak bangsa berhak bermimpi besar dan mewujudkannya.