Lompat ke isi

Mitra Petani (Jilid 3)/Peralatan Pengangkut Barang

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Peralatan untuk mengangkut barang-barang

Sudah diketahui oleh semua juga bahwa kalau ongkos mengangkut benang-benangnya dan hasil ke pasar atau ke tempat penjualan sangat mahal, itu tentu pemiliknya tidak akan sebesar itu keuntungannya karena terpotong oleh ongkos mengangkut barang itu, bahkan sebagian ada yang tidak kuat ongkosnya, benangnya sendiri kadang tidak bisa terjual dengan harga yang pantas.

Masih ada tempat yang murah harga padinya, benang 5 atau 6 rupiah dalam saci, dan ada yang memiliki padi lebih dari cukup untuk dimakan sendiri tanpa perlu membeli, tetapi sangat susah menjualnya.

Mengapa yang membuat susah? ada juga sebabnya, hanya karena ada juga tempat yang mahal padinya, sampai ke ini 4,5 dari harga di sana, tetapi rusak karena jeleknya jalan tidak ada gunanya benang dibawa dengan roda atau pedati, kalau dengan kuli saja kira-kira mahal ongkos kulinya, ditambah banyak kerugiannya, hanya merosot dalam jadi rugi besar, dibandingkan dengan dijual lebih baik lebih untung padinya dibuang saja.

Karena itu sudah diketahui bahwa yang sesawah yang banyak padinya karena tidak bisa mengangkut padinya dari tempat yang mahal jadi kehilangan banyak keuntungan, sebab kalau sangat mahal oleh pihak lain mungkin banyak sekali untungnya, ia bisa cukup makan dari hasilnya, bahkan bisa juga membeli barang-barang kesukaan atau perhiasan dan selain itu.

Itu yang seperti itu bukan padi saja, meskipun hasil tanah selain itu juga begitu juga seperti kacang, bako, jagung dan selain itu, serta barang-barang yang harus didatangkan dari tempat lain seperti barang-barang untuk pakaian, besi, tembaga, timah, garam dan lainnya, sebab bagi yang menjual barang-barang itu mungkin perhitungannya: seberapa modalnya, seberapa ongkos membawanya, jadi harus seberapa dijualnya barulah ada labanya jadi kalau ongkos membawanya murah, mungkin menjualnya juga bisa lebih murah, sementara kalau ongkos membawanya besar tentu menjualnya harus mahal, dihitung supaya besar keuntungannya.

Dan juga di tempat yang tidak ada jalan atau ada juga tetapi tidak baik, sehingga tidak ada jual beli, maka perkara itu tidak akan bisa maju.

Coba kalau ada jalan yang baik, desa yang dilewati tentu bisa saling jual beli, saling menolong dengan desa lain atau dengan kota, tentu petani akan lebih untung, karena banyak yang membeli hasil panennya, ia terpaksa harus memperluas kebunnya, begitu juga pedagang mungkin bisa menambah penjualan barang hebeul, membeli lagi yang baru, tentu menguntungkan keduanya baik pedagang maupun petani. Jadi bisa diibaratkan kujang dua ketajamannya.

Karena perkara itu perlu sekali ada jalan yang baik, sama saja perlunya dengan mencari akal untuk alat mengangkut barang, supaya tidak semuanya itu hanya digotong atau dipanggul oleh satu orang saja, harus benar-benar mencari alat supaya meringankan bawaan atau supaya tenaga satu orang kalau ditanggul atau dipanggul jadi tenaga empat atau lima orang kalau dengan alat, artinya tenaga satu orang dengan alat kalau ditanggul mungkin jadi tenaga empat atau lima orang, seumpama ada yang bisa atau sekiranya ada hewan beban atau hewan yang dipakai menarik, itu lebih baik apabila memakai hewan yang dipakai menarik, sebab kalau jalannya dibuatnya dengan perhitungan dan akal serta bagus merawatnya tentu hewan yang dipakai menarik beberapa kali lebih besar bawaannya daripada hewan beban.

Bagaimana jalan-jalan kampung yang paling banyak disebut rata dan dengan akal dibuat? jauh sekali dari yang disebut begitu, sulit sekali diakalinya, kalau melewati tanjakan atau turunan yang curam seharusnya dibelokkan supaya tidak terlalu menanjak atau menurun, ini malah tidak begitu, hanya supaya lurus saja dan supaya dekat kalau akan menanjak atau menurun curam tetap dilalui saja.

Rasanya lebih dekat, tetapi kalau ditempuh tetap sama saja, hanya kalau ini dibelokkan atau memutar terasa seperti jauh saja. Banyak sekali tenaga yang terbuang kalau jalan curam, bukan seperti jalan agak rata walaupun agak jauh juga, tetapi kalau dilalui sama saja sampainya ke tujuan, malah sering lebih dulu yang lewat jalan jauh tapi rata itu, karena bisa cepat, begitu juga di jalan yang tidak begitu naik turun bisa membawa barang yang agak berat dan bisa menjalankan roda atau pedati. pada akhirnya diketahui bahwa jalan yang disebut paling jauh justru menjadi jalan paling dekat.

Ditambah lagi sering banyak jalan kampung atau desa yang rusak parah kalau waktu hujan, sampai hampir tidak bisa dilewati, padahal begitu banyak kampung atau desa yang tidak memperhatikan keuntungan pribadi dan banyak yang merugikan dirinya sendiri, karena menyebabkan enggan keluar biaya atau ongkos untuk membuat jalan baik atau memperbaiki jalan jelek karena takut rugi, tapi sebenarnya karena takut rugi justru jadi rugi besar, sebab dari hasil panennya tidak bisa dijual ke tempat lain, kerugiannya beberapa kali lipat, bahkan ada yang sampai seratus kali dari rugi ongkos membuat jalan yang baik.

Biasanya sama saja, banyak desa takut rugi membuat jalan baik atau memperbaiki jalan jelek karena kurang semangat atau karena pemerintah desa terlalu mementingkan keuntungan bersama, begitu juga orang-orang yang sangat kurang akalnya mencari alat untuk membawa yang ringan seperti dorongan, gerobak kecil dan yang sejenis itu. sebenarnya roda itu harus bagus dan harus mahal, sebab di mana-mana tidak ada atu tidak punya hewan untuk menariknya membuat saja roda kecil yang bisa ditarik oleh satu orang saja, atau membuat kikiping dan injakan saja, itu tentu akan menghilangkan banyak kesusahan dan kerugian, misalnya mengangkut padi, kopi, bambu, dan lain-lain dengan alat seperti itu dibandingkan hanya ditimbang dan dipanggul oleh satu orang saja.

Di afdeling Limbangan saja dahulu kalau mengangkut kayu bakar dan bambu caranya dimana-mana, terdengar oleh orang dari distrik-distrik ke pasar kota, maka berapa tenaga satu orang, ya bawaannya sangat sedikit sekali.

Setelah itu kami mempunyai ingatan membuat pedati dan roda kecil, bukan bagus-bagus rupanya malah besar sekali tetapi sangat besar manfaatnya. Sekarang bawaannya hanya dua orang sama dengan bawaan sepuluh orang.

Begitu juga kopi sekarang mah perjalanan di afdeling Limbangan diangkut ke gudang dengan roda atau dengan pedati kecil, malah sekali waktu memakai keramaian saja di jalan seperti yang dirayakan saja beriring-iringan, karena senang, memakai tatabuhan dan umbul-umbul, ramai sekali. itu juga harapannya tentu tambah saja, sebab sekarang jalan-jalan kampung sudah sangat baik serta sudah dikeraskan, perlahan-lahan mungkin ada roda yang ditarik oleh kuda lewat ke jero kampung, tentu akan tambah ringan saja.

Kita di sini sangat baik kalau menirukan gerobak di negeri Belanda, di Belanda mah siapa saja yang tidak punya hewan untuk menarik roda, membuat saja gerobak kecil ditarik atau digeser oleh orang, ringan sekali, bawaan satu orang besar sekali, kemana-mana itu dengan gerobak saja.

Ini di bawah gambar contohnya itu gerobak:

Ini di bawah ada juga empat contoh gerobak:

Itu gerobak mudah ditirunya, mungkin kalau halus buatannya seperti buatan pemerintah, tapi sebenarnya tidak perlu bagus supaya hasil saja, malah upamanya sulit membuat roda dengan memakai anak-anak, dengan papan pun tetap menjadi sesuatu, walaupun jelek rupanya sudah tentu sangat besar manfaatnya.

Coba perhatikan kalau kami para pekerja negara sedang bekerja membuat jalan, menggali lubangan atau membuat tanggul di situ, ternyata ada begitu repotnya mengangkut batu atau membawa tanah, seorang manusia itu bawana hanya tanah segenggam atau batu sebiji atau padi dipanggul dalam tangkai kacilik, coba kalau memakai roda, gerobak atau pedati kecil betapa ringannya pekerjaan mereka, begitu juga bila mengeraskan jalan berapa kali bolak-balik atau berapa jalan yang bisa diselesaikan kalau memakai roda atau gerobak? itu banyak sekali meringankannya dan menghilangkan biaya serta pekerjaan.

Selanjutnya sekarang sedang membicarakan hal menghilangkan biaya dan kesusahan sekaligus kita membicarakan juga hal membuat jalan, apabila ada tempat yang keras karena tanah cadas atau tanah banyak batunya memakai linggis dan cangkul linggis, betapa ringannya serta mudahnya pekerjaan. Contoh pekerjaan

Ini contohnya:

Banyak sekali saya melihat jalan yang jelek dibuat karena tanahnya keras atau tanah cadas, dicangkul kita disana tidak berbekas hanya sedikit sekali, besarnya seperti batang kayu saja, begitu juga yang punya cangkul itu harus hati-hati sekali supaya cangkulnya jangan pecah atau patah.

Hal ini juga sangat patut diingat serta dipikirkan supaya tambah ringan, menurut saya jika para kepala meminta pertolongan insinyur-insinyur Eropa untuk membuat atau mendatangkan apa yang perlu dan apa yang kurang alat yang bisa meringankan pekerjaan, tentu tidak akan luput ditulungi, sebab kalau baik alatnya tentu semakin banyak hasil pekerjaan, dan tidak akan ada kerja yang terhalang atau pekerjaan terbengkalai sampai selesai.

Adapun membuat alat yang baik itu seperti mengerjakan pekerjaan separuhnya.