Lompat ke isi

Mitra Petani (Jilid 3)/Tentang Kacang Tanah

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Tentang kacang tanah
Keterangan Tuan Keceun di Pekalongan.

Budidaya kacang tanah sudah dilakukan di Pulau Jawa sejak zaman dahulu. Banyak tempat yang digarap untuk dijadikan lahan tanam, serta terbukti menghasilkan keuntungan yang besar bagi para pegawai.

Adapun lamanya masa tanam kacang tanah 8-10 bulan sejak mulai ditanam sampai dipanen, sehingga masuk dalam tanaman tahunan. Namun, tidak bisa dipakai sebagai tanaman sela, sebab lamanya sampai bisa dipanen.

Hasil terbaiknya didapat dari tanah yang tidak terlalu lembek, supaya kacangnya mudah membesar. Di tanah liat yang sangat lengket akan susah tumbuh.[1] Karena itu, biasanya di Jawa tidak ditanam di tanah yang liat, melainkan di pegunungan dan di pasir-pasir seperti di ladang. Ada juga di beberapa petak sawah yang bisa ditanami kacang tanah seperti di Keresidenan Pekalongan. Bahkan ada yang benar-benar hanya menanam kacang tanah saja di sawah, sebagai pengganti padi.

Menurut keterangan petani di Pekalongan, pekerjaan menggarap tanah untuk kacang tanah sebagai berikut:

Pertama, tanah dibajak atau dicangkul 2-3 kali pada September, Oktober atau November ketika sudah ada hujan, lalu ditanamnya disebar. Adapun benihnya dalam sebau diisi sekitar 50-100 kati benih yang bagus, yang sudah dibuang kulitnya. Adapun penyiangannya sekali saja, sehingga perawatannya tidak berat. Tidak perlu dirawat setiap hari. Demikian pula modalnya hanya untuk benih, membajak dan menyiangkan tidaklah besar, tergantung media tanah dan cara membajaknya saja. Biasanya ongkos benih, membajak dan menyiang hanya f 15,- atau f 20,- dalam satu petak.

Adapun waktu panen adalah musim ketiga. Panennya seperti halnya kumeli, yaitu cukup digali saja. Tanahnya dibalik, kacang tanahnya dipetik oleh anak-anak atau perempuan untuk dipisahkan dari tanah. Upah menggali dan memilih 1/7, 1/6 atau 1/5 dari hasil panen, menurut kebiasaan masing-masing tempat.[2]

Hasil dalam satu bau biasanya 15-20 pikul, dihitung dengan cangkangnya. Namun perhitugan ini tidak pasti, karena pada praktiknya para petani tidak menghitungnya dengan timbangan, biasanya dengan takaran saja yaitu carangka yang isinya tidak sama, ada yang 60 sampai 100 kati dalam satu takaran.

Di lain lain seperti di Karawang dan Priangan, menghitungnya dengan gantang, isinya dalam satu gantang 14-15 kati, karena itu tidak bisa dihitung dengan pasti dengan timbangan.

Harganya berbeda-beda tergantung kandungan minyaknya. Berdasarkan lokasi tanamnya, kacang tanah dari daerah pegunungan memiliki kandungan minyak yang lebih sedikit. Sementara yang paling baik adalah yang ditanam di sawah. Di mana saat panen dapat dijual langsung dari kebun dengan harga f 2,50 - f 4,- per pikul. Namun, tidak pernah lama harganya naik. Bahkan jika sedang musim tapi tidak panen harganya bisa turun.

Hasilnya dalam sebau rata-rata seharga f 50,- sampai f 70,-. Itu pun sesudah dipotong upah buruh yang membantu memanen. Juga tanahnya karena saat panen sangat sering dibolak-balik, jadi merepotkan, maka lebih baik ditanami padi lagi.[3]

Adapun yang khusus mengurus jual beli kacang tanah ada ketentuannya, yaitu yang khusus mengumpulkan ada orang Cina, Arab, dan pribumi juga. Biasanya yang mengumpulkan tinggalnya bergerombol di sebuah kampung yang dekat dengan perkebunan kacang tanah. Jual belinya langsung dari kebun, biaya angkut dari kebun ditanggung oleh pembeli.

Pengolahannya kacang tanah biasanya pertama dijemur dahulu, setelah itu ditaruh di atas sampak atau di atas kulit, lalu diinjak-injak oleh manusia atau oleh itik, supaya pecah cangkangnya, terpisah dari bijinya. Setelah itu bijinya ditutup agar menjadi lembut dalam lumpang, lalu dimasukkan ke dalam karung, bagian atasnya diikat lalu diperas, supaya minyaknya menetes, lalu ditampung.

Adapaun alat pemeras dari kayu buatan pribumi. Hanya saja penjepitnya tidak sama. Bagian atasnya lebih longgar daripada bagian bawah, sehingga karungnya harus dibolak-balik sampai tiga kali, dan kacangnya harus ditutup lagi serta diperas lagi, supaya minyaknya keluar semua. Coba kalau bisa hanya menggunakan air saja[4] untuk menjalankan penggilingannya, tentu tidak akan mengeluarkan biaya terlalu mahal.

Hasil minyak menggunakan alat pemeras yang disebutkan di atas kira-kira 20-25% dari kacang tanah yang masih utuh, yaitu dihitung dengan cangkangnya, atau 30% dari bijinya. Beratnya cangkang kacang tanah kering ⅓ sedangkan bijinya ⅔.

Di tempat lain di Jawa sudah ada pengusaha Cina dan Arab yang memiliki pabrik kacang tanah, penggilingan cangkangnya dengan penggiling hanya seperti penggilingan kopi, dan pemerasannya lebih bagus daripada pemerasan yang dilakukan di sini, bahkan di daerah Ciasem dan Pamanukan sudah ada pabrik minyak kacang tanah dengan cara aturan di Eropa.

Ampas hasil perasan kacang tanah disebut bungkil. Itu pun bungkilnya masih menyisa banyak minyak karena alatnya yang kurang efisien, sehingga minyaknya tidak terperas semua.

Kegunaan bungkil pada umumnya dipakai sebagai pupuk di perkebunan tebu, dan harganya tergantung kadar minyaknya. Jika masih banyak minyaknya harganya semakin mahal, ada yang f 2,50 sampai f 5,50 per pikul. Di pesisir utara Pulau Jawa banyak sekali yang berdagang bungkil sebagai usaha tetap.

Selain dipakai pupuk, bungkil sering dijadikan oncom. Cara membuatnya mula-mula direndam dulu sampai semuanya lunak, lalu diperas kemudian ditiriskan hingga berjamur (berwarna kekuningan atau kehijauan). Oncom menjadi keuntungan besar karena sangat berguna, apalagi oncom Sumedang di Priangan sangat terkenal kelezatannya. Banyak yang sengaja membeli untuk dimakan dengan nasi.

Selain diambil buahnya, banyak juga yang menanam kacang tanah hanya untuk diambil daunnya saja, untuk kemudian dijual sebagai pakan ternak. Umumnya banyak dilakukan di dekat Kota Pekalongan. Setiap hari banyak sekali yang lalu-lalang menjual daun kacang tanah. Dipakai sebagai pakan kuda dan sapi sangat baik. Bahkan di daerah sebelah timur, di Basuki, Purbalingga, ada yang memanen kacangnya hanya sedikit, tetapi hanya diambil daunnya saja.

Karena sebagaimana telah diceritakan di atas, maka kacang tanah dapat dikatakan sangat membawa keberuntungan bagi masyarakat Pulau Jawa, apalagi saat ini Holle memiliki bibit kacang tanah baru yang dapat dijual dengan mendatangkannya dari Inggris. Di Priangan ia sudah mencoba menanamnya dengan hasil yang baik. Bahkan ia sudah mengirimkan bibit tersebut ke keresidenan lain untuk dicoba.

Oleh masyarakat Priangan kacang tanah baru itu sangat disukai dan disebutkan lebih baik daripada kacang tanah jadul, alasannya:

  1. Karena dalam 4-5 bulan sudah berbuah dan bisa dipanen.
  2. Karena hasilnya lebih banyak.
  3. Mudah mengambilnya, tidak terlalu dalam seperti kacang tanah jadul.

Terutama sekali karena cepat dipanen sehingga menjadi keuntungan besar, sebab bisa dipakai sebagai tanaman selingan di sawah atau di ladang. Demikian juga tentu semakin banyak yang menanam kacang tanah, sebab dengan kacang tanah jadul butuh 9-10 bulan baru bisa dipanen, jadi tidak banyak yang menanam. Sedangkan para petani di sini lebih suka yang cepat dipanennya, tanaman selingan ini hanya 4 bulan sekali sudah bisa menghasilkan.

Dalam hal menanam dan berdagang kacang tanah sampai sekarang belum ada pedagang Eropa yang terlibat, hanya pedagang pribumi, Cina, dan Arab saja, karena oleh orang Eropa belum diperhatikan.

Demikian juga pengolahannya belum ada yang membesarkan, sekarang masih oleh orang pribumi saja, peralatannya pun benar-benar sederhana, sehingga hasil minyaknya sangat kotor.

Di sebelah selatan tanah Eropa sudah banyak yang menanam kacang tanah sesuai aturan, serta mengolahnya dengan peralatan yang lebih baik. Dari negara-negara lain sudah banyak yang membawa kacang tanah ke Eropa untuk dijual di sana, bahkan hingga ke Belanda. Di sana sudah banyak yang membuka usaha jual beli kacang tanah.

Pada umumnya jenis kacang tanah yang dibawa ke Eropa ada 2 macam: kacang tanah India dan kacang tanah Afrika. Perbedaannya dari bentuk daunnya dan buahnya. Kacang tanah India bijinya ada satu atau dua, sementara kacang tanah Afrika bijinya bisa tiga atau empat, serta lebih berat dan lebih besar daripada kacang tanah India. Daun kacang tanah India hijau agak kekuningan, sedangkan kacang tanah Afrika hijau tua.

Kacang tanah Afrika butuh waktu lebih lama sampai berbuah, lebih lama dibanding kacang tanah India. Kacang tanah India jika ditanam pada tahun baru, pada bulan Oktober juga sudah bisa dipanen.

Adapun kacang tanah jadul yang banyak terdapat di Pulau Jawa termasuk ke dalam jenis kacang tanah India.

Kira-kira sudah 100 tahun ada yang membawa kacang tanah ke Spanyol dan Perancis, dan itu sekarang sudah sangat banyak ditanam di sana, dan sudah termasuk tanaman pribumi, tersebar ke mana-mana, tetapi yang terbaik di sana adalah jenis kacang tanah India karena cepat dipanen.

Di selatan Perancis minyak kacang tanah sudah banyak dipakai untuk olah-olah serta seringkali dipakai mencampur minyak yang lebih bagus. Demikian pula oleh para ahli kimia Eropa sudah diteliti bahwa minyak kacang tanah sama dengan minyak almond, sangat baik untuk sabun, parfum dan minyak rambut. Hal tersebut bagi masyarakat di sini tentu mengherankan karena di sini minyaknya kotor dan hitam. Demikian juga jika di pakai untuk parfum baunya sangat menyengat, memang benar begitu. Tetapi di Eropa pengolahannya berbeda dan lebih baik daripada di sini.

Di Jawa, sebelum kacang tanah diperas, direndam dan direbus dahulu, ketika masih panas baru diperas. Sedangkan di Eropa pemerasannya dilakukan saat masih mentah, dari situ baru kemudian direbus, sampai dua kali, setelah itu diperas lagi, maka minyaknya bagus, perasan pertama ketika masih mentah rupanya bening agak kehijauan serta baunya seperti bau kacang tanah mentah.

Hasil perasan kedua sesudah direbus membuat minyaknya berwarna kekuningan dan berbau. Minyak yang terbaik serta yang dapat dipakai untuk sabun dan sabun wangi atau yang sejenisnya adalah minyak hasil perasan pertama yaitu ketika masih mentah.[5]

Setelah Eropa memiliki pabrik kacang tanah dan minyaknya laku di sana, dari pulau-pulau lain umumnya dari Afrika mulai berdatangan membawa barang dagang kacang tanah ke Eropa, serta baru-baru ini jumlahnya bertambah banyak. Pada tahun 1840 jumlah kacang tanah yang masuk ke Eropa hanya 1.210 kg, sedangkan sekarang sudah lebih dari 10.000 ton dalam 1 tahun.

Di Perancis saja sudah ada kacang tanah yang masuk, pada tahun 1868 mencapai 75.411 ton, dihitung 1.000 kg dalam 1 ton.

Di Rotterdam (Belanda) pada tahun 1870 sudah ada kacang tanah yang masuk sebanyak 1.800 ton. Itu pun hanya dari Afrika saja. Pada tahun 1869 jumlah harga kacang tanah yang dijual di Belanda sebesar f 594.523.

Adapun cara pengiriman kacang tanah ke negara lain adalah: di tempat pembeliannya kacang tanah dikupas cangkangnya, lalu dikarungi dengan karung goni atau dengan samak, dalam 1 karung isinya 50 kg, dari situ kemudian dimasukkan ke kapal.

Mengupas cangkangnya menggunakan penggilingan. Peraturannya seperti penggilingan untuk mengolah kopi menurut aturan India Barat, contohnya ada di Ciasem dan Pamanukan.

Nah, begitulah keuntungan kacang tanah di pulau-pulau lain. Bagi para petani di Pulau Jawa sepatutnya mengikuti agar kacang tanahnya semakin baik dan semakin besar keuntungannya, yaitu harus berusaha mencari bibit yang jenisnya lebih bagus, mendatangkan dari negara lain, contohnya bibit kacang tanah baru milik Tuan Holé yang diklaim lebih bagus daripada kacang tanah jadul.

Apabila mendatangkan bibit dari luar negeri harus dengan cangkangnya, jangan dikupas. Sebab kalau dikupas, kualitasnya bisa jadi tidak sebaik dulu karena lamanya perjalanan. Demikian juga pengolahannya akan lebih baik mengikuti aturan di Eropa. Memang agak mahal dan bungkilnya tentu kurang harganya karena kandungan minyaknya rendah, tetapi itu jika dibandingkan dengan banyaknya minyak yang bisa didapatkan.

Semoga para petani di Jawa semakin giat mengurus pertaniannya.

Lanjutan,
Catatan Holle mengenai kacang tanah waspada

[sunting]

Dahulu saya sudah pernah mendatangkan kacang tanah dari Inggris sebagai bibit di Pulau Jawa, saya kurang tahu asalnya apakah kacang tanah itu dari India atau Afrika. Adapun perbedaannya dengan kacang tanah jadul:

  1. Lebih cepat dipanen. Dalam waktu 4,5 bulan sudah bisa didapat hasilnya, sedangkan kacang tanah sebelumnya baru pada usia 8–9 bulan bisa dipanen.
  2. Hasil berbeda. Kacang tanah sebelumnya berisi 3–4 biji, sedangkan kacang tanah waspada (begitu penyebutannya oleh masyarakat di sini) hanya berisi 2 biji.
  3. Sangat mudah mengambil buahnya. Tidak sedalam kacang tanah sebelumnya. Saat memanen biasanya harus mengupah sebanyak ¼ dari hasil panennya, sedangkan kacang waspada hanya ⅕ atau ⅙ dari penghasilannya.
  4. Hasil panen lebih banyak, bisa mencapai lebih dari 50% dibandingkan sebelumnya.
  5. Kandungan minyak lebih tinggi.

Di sini bahkan ada yang bisa menghasilkan lebih dari 30% minyaknya. Bahkan baru-baru ini ada seorang petani berkata kepada saya bahwa ada tukang penggiling sudah menawar kepadanya f 4,– untuk setiap 1 gantang kacang waspada yang masih basah, sedangkan kacang lama hanya ada yang menawar f 3,– per gantang. Satu gantang dihitung 100 pon.

Petani itu sekaligus juga jadi tukang pengolah. Ia menambahkan tentang biaya untuk 1 bau (± 500 tombak persegi) seperti di bawah ini:

Kacang tanah jadul
Ongkosna ngarap jeung miara ..........
Hasilnya 35 gantang kacang tanah basah, laku f 3,– per gantang, jadi ..........
Ongkosna memanen
Jumlah ongkos ..........
Jumlah hasil ..........
Jadi keuntungannya kira-kira ...........


Kalau dibuat minyak, dari 1 gantang bisa jadi 8 botol, harga satu botol laku 40 sen, sehingga:
Ongkos mengolah per 1 gantang, jadi jumlah
Satu gantang bungkilnya 25 gebleg, harga 3 sen per gebleg:
Jumlah ongkos hasilnya ..........
Jadi sisa keuntungannya ...........

Tentu ada yang bertanya: “Mengapa petani tidak mengolah sendiri saja, jangan dijual kacangnya kepada orang lain, nanti saja kalau sudah jadi minyak? Kalau begitu, besar keuntungannya.”

Memang benar begitu, saya pun berpikir demikian, lalu saya tanyakan kepada seorang petani, apa sebabnya tidak mengolah sendiri? Jawabnya: “Masalah mengolah itu sangat sulit, tidak semua masyarakat bisa, meskipun sudah belajar sekalipun.”

Kalau tidak mampu mengolahnya, keuntungannya hanya f 58,– per 1 bau. Seringkali berakhir menjadi kerugian, sebab para petani tidak ada yang lanjut mengolahnya, hanya dijual kacangnya saja.

Para pemiliki perkebunan tebu perlu mengusahakan untuk lebih banyak menanam kacang tanah, karena banyak sekali manfaatnya, seperti ampasnya dipakai pupuk, daunnya dipakai pakan ternak. Jadi bukan untuk keuntungan para pekerja saja, melainkan para pemilik kebun juga ikut diuntungkan.

Selain itu, perlu menanam kacang tanah yang cepat panennya, supaya bisa dipakai sebagai tanaman selingan di sawah, sehingga lebih menguntungkan. Jika ada yang membutuhkna bibit kacang tanah waspada, saya bisa membantu asalkan biayanya diganti.

Dalam surat kabar sudah dijelaskan harga minyak tanah yang dijual di Belanda pada tahun 1873, 1874, dan 1875 seperti berikut:

Banyaknya kacang tanah yang masuk ke Belanda:

Pada tahun 1872 ada 1870 Ton kacang tanah sudah dikupas
1873 1284
1874 2830
30 kacang tanah belum dikupas
1875 950 kacang tanah sudah dikupas

Alasan sedikitnya kacang tanah yang masuk pada tahun 1875 karena pada tahun itu harga minyak dan pupuk di Eropa sedang turun. Kedua, di tempat asalnya komoditas tersebut, yaitu Afrika, terkena paceklik dan banjir.

Paling banyak datang dari Kongho, tetapi sudah dua tahun ini banyak juga yang membawa dari Afrika pesisir timur sampai Eropa. Hal tersebut menjadi tanda bahwa mencari untung kacang tanah ke Eropa besar untungnya, buktinya sejauh itu dari Afrika ke Eropa berapa ongkos transportasinya, kalau tidak ada untungnya tentu tidak akan ada yang mau.

Disebutkan di dalam surat kabar harga kacang tanah yang sudah dikupas:

Pada tahun 1873 harganya ƒ 20,– atau ƒ 21 per 100 kg
" 1874 " ƒ 17,– " ƒ 21 ⅛ " 100 "
" 1875 " ƒ 16 ¾ " ƒ 18 ⅝ " 100 "

Adapun pada tahun 1875 kacang tanah yang belum dikupas laku f 12,– atau f 12 ¼ per 100 kg.


Harga minyaknya:

Pada tahun 1873 harganya ƒ 39,– atau ƒ 46,– per 100 kg
" 1874 " ƒ 40,– " ƒ 42,– " 100 "
" 1875 " ƒ 41,– " ƒ 44,– " 100 "

Tergantung kualitas minyaknya.


Semua minyak tersebut dimurnikan di Belanda, ada juga yang dimurnikan di Afrika, tetapi harganya hanya ƒ 32,– untuk sepikulnya, kemungkinan karena jelek hasil pemurniannya, tidak seperti di Belanda.

Untuk dapat membandingkan harga minyak kacang tanah di Belanda dibandingkan dengan minyak lainnya, dibawah ini saya mengutip sebuah surat kabar tahun 1875:

Minyak wijen ƒ 28,50 per 100 kg
Minyak biji lobak ƒ 32,– " 100 "
Minyak cangkang buah palem ƒ 38,50 " 100 "
Minyak biji palem ƒ 41,– " 100 "
Minyak kacang tanah ƒ 42,– " 100 "
Minyak kelapa dar Sélong ƒ 47,– " 100 "
Minyak kelapa Kohin ƒ 51,– " 100 "

Sudah sangat jelas bahwa selain minyak kelapa, tidak ada yang melebihi minyak kacang tanah yang mahal di Eropa, sedangkan di Jawa malah sering disebut minyak kotor dan jelek, bukan karena apa-apa, hanya karena kurang baik manajemen pengolahannya, tidak seperti di Eropa.

Direktur pemerintah negara sudah mengimbau kepada residen di Jawa dan Madura supaya sama-sama mencoba menanam kacang tanah waspada, karena sudah dirasakan manfaatnya. Di bawah ini adalah catatan laporan masing-masing residen kepada Tuan Direktur mengenai kacang tanah waspada.

Dari Residen di Batavia

[sunting]

Di kota Batavia sendiri di tempat keresidenannya mencoba menanam kacang tanah waspada dalam jumlah sedikit. benih-benihnya dipilihkan untuk bibit yang diharapkan.

Di Tangerang hanya sebagian yang tumbuh. Lamanya dari mulai ditanam sampai dipanen 150 hari. Hasilnya 300 biji, terhitung 35 kali lipat dari bibitnya.

Di Méstér juga mencoba menanam lamanya 120-150 hari. Hasilnya 50-80 kali dari bibitnya, serta bijinya sangat besar.

Adapun Ciomas, Bogor belum dipanen, jumlah yang ditanam 30 biji. Bentuknya, daunnya, semuanya tidak jauh dari kacang tanah jadul, hampir mirip saja. Di Ciluar tidak tumbuh dengan baik.

Dari Residen di Karawang

[sunting]

Di Sindang Kasih yang dicoba ditanam 540 biji. Tumbuh 316 pohon, hasilnya 22 ½ kati dengan cangkangnya. Mulai ditanam pada tanggal 22 Desember 1875. Dipanennya tanggal 1 dan 20 Mei 1876. Jadi lamanya ditanam 130 atau 150 hari. Adapun hasilnya disisihkan khusus untuk bibit.

Di Wanayasa ditanam tanggal 18 Desember 1875. Dipanen tanggal 17 Mei 1876. Jadi jumlahnya 150 hari lamanya. Bibitnya 120 biji, yang tumbuh 64 biji, jadi sekitar 25 kali lipat.

Dari Residen di Priangan

[sunting]

Di Bandung Kulon ditanam pada 27 Desember 1875, dipanen pada 23 April 1876, jadi kurang lebih 130 hari lamanya ditanam. Hasilnya 35 kati yang sudah dikupas.

Di sini tumbuh sangat baik, bijinya besar-besar, dipanennya tidak dipetik dari tanaman hanya dicabut saja, terbawa dengan batang dan buah-buahnya, tidak ada yang tertinggal. Tanahnya tidak dipupuk hanya digarap seperti biasa. Penduduk di sini sudah sangat mengenal akan tanaman ini. Bahkan sering disebut kacang tanah hola (sebagian menyebutnya kolah) yang bibitnya diperoleh dari Garut.

Di distrik Cilokotot sudah ada 154 bau tanaman kacang tanah waspada. Penduduk di sana sangat menyukai tanaman tersebut.

Dari Residen di Cirebon

[sunting]

Di Kuningan dan Majalengka sudah pernah dicoba. Hasilnya menguntungkan. Tidak seperti kacang tanah jadul. Residen meminta lagi dikirimkan bibit untuk menambah percobaannya.

Dari Residen di Tegal

[sunting]

Di Tegal distrik Pangka tumbuh 11 pohon, buahnya 1500 biji, jadi sekitar 140 kali lipat dari bibitnya. Di Brebes tumbuh 16 pohon, buahnya 400 biji, jadi sekitar 25 kali lipat dari bibitnya.

Adapun buahnya lebih banyak dibanding kacang tanah jadul. Isinya 2 biji, ada juga yang 1, tapi kandungan minyaknya lebih banyak dibanding kacang tanah jadul. Residen meminta kembali untuk dikirimkan bibit.

Dari Residen di Pekalongan

[sunting]

Di Pekalongan menanamnya tanggal 23 Desember 1875, panennya tanggal 29 Juni 1876. Jadi lamanya 184 hari. Awal ditanam 5 biji, yang berhasil 4, menghasilkan 229 buah, jadi 55 kali lipat.

Di Distrik Bandar mulai menamam tanggal 22 Desember 1875. Saat itu belum sempat dipanen.

Di Batang dan Kebumen lamanya masa tanam 150 hari hingga bisa dipanen. Di Batang hasilnya sangat bagus. Umbinya tidak seberapa dalam dari tanah, tidak seperti kacang tanah jadul, dan kandungan minyaknya lebih banya. Sama halnya dengan di Kebumen. Isinya tidak pernah lebih dari 2 biji dan kandungan minyaknya lebih banyak, bijinya lebih kecil, panennya lebih cepat 5-4 bulan dibanding kacang tanah jadul. Para pekerja mengatakan kalau untungnya ini lebih besar, karena bisa dijadikan tanaman yang ditanam ketika masa silang di sawah.

Dari Residen di Semarang

[sunting]

Karena baru mau mulai dan adanya bencana alam, percobaan di keresidenan ini tidak ada yang berhasil.

Dari Residen di Jepara

[sunting]

Tumbuhnya tidak bagus dan ukurannya kecil. Masa tanamnya ada yang hanya 4-5 bulan hingga masa panen. Bisa digunakan menjadi tanaman sela di sawah atau di kebun. Residen meminta lagi bibitnya agar dicoba kembali.

Dari Residen di Rembang

[sunting]

Di Blora masa tanamnya 150-180 hari, yang tumbuh menjadi 8 pohon menghasilnya 2 kati biji, umbinya menempel ke akar dari samping yang kalau kacang tanah jadul tidak seperti itu. Gampang dipanennya, bahkan di tanah yang pera bisa langsung dipetik saja. Di tanah pasir yang merah, bijinya lebih bagus dibanding yang di tanah liat. Residen meminta lagi bibitnya.

Dari Residen di Kedu

[sunting]

Di daerah ini tidak tumbuh.

Dari Residen di Bagelen

[sunting]

Di Karanganyar yang ditanam sebanyak 500 biji, hasilnya menjadi 30 kati.

Di Distrik Karang Bolong dan Cangkreb yang ditanam 144 biji, hasilnya menjadi sekitar 2 kati.

Karena hasilnya lebih bagus dibandingkan kacang tanah jadul, masyarakat di sini pasti lebih suka. Bibitnya akan dibagikan kepada para pegawai, agar mereka mencobanya. Ditanam di Kebumen, di Ledok dan di Kutaarja hasilnya gagal.

Dari Residen di Banyumas

[sunting]

Di Banyumas ditanam tanggal 20 Desember 1975 dipanen tanggal 1 Juni 1976 jadi kurang lebih 157 hari masa tanamnya. Ditanami sekitar 120 biji, yang tumbuh 67 pohon, hasilnya 11 kati. Lahannya dicangkul sebanyak tiga kali per kedalaman satu kati. Kalau jarak menanamnya sekitar 2 kati.

Di Banjarnegara menanamnya tanggal 7 Desember 1975, sampai bisa dipanen lamanya 150 hari. Bibitnya 122, yang tumbuh 83 pohon, menghasilkan 6 ½ pon Amsterdam, jarak menanamnya 3 kati. Pengakuan dari para petani bahwa cangkang kacang waspada teksturnya lebih lembut dibandingkan kacang tanah jadul, serta sudah diprediksi kacang kacang tersebut akan banyak yang suka karena banyaknya keuntungannya.

Di Purwakarta percobaannya tidak berhasil karenakan bibitnya terlalu lama disimpan.

Dari Residen di Surakarta

[sunting]

Percobaan di daerah ini sudah tumbuh walau kecil, namun akhirnya mati.

Dari Residen di Yogyakarta

[sunting]

Ada yang tumbuh bagus, ada juga yang gagal karena hama dan masa kekeringan. Saat ini sedang dilakukan lagi percobaannya.

Dari Residen di Kediri

[sunting]

Di Kediri pertama kali ditanam pada 10 Desember 1976, dipanen tanggal 14 Mei 1975. Terhitung 155 hari masa tanamnya.

Dari 17 biji semuanya tumbuh menjadi 17 pohon. Hasil buahnya 1.228, yang menjadi nikel 88 dari bibitnya.

Ditanamnya di tanah lilin, metodenya sama seperti menanam kacang tanah jadul.

Ada juga yang ditanam di media tanah pasir, ditanam pada 15 Desember 1975, dipanen pada 18 Mei 1976. Jadi kurang lebih 154 hari lamanya. Bibitnya dari 14 biji menjadi 14 pohon, hasil buahnya 1.492, jadi 106 kali lipat dari bibitnya.

Di Blitar menanamnya tanggal 5 Desember 1975, panennya tanggal 30 Mei 1976, jadi kurang lebih 108 hari. Ditanam sebanyak 71 biji, hasilnya menjadi 47 kali lipat dari bibitnya.

Tanah yang digunakan untuk percobaan yaitu tanah jenis lilin berwarna hitam dicampur dengan sedikit pasir.

Menanamnya bersamaan dengan kacang tanah jadul. Ketika kacang tanah waspada panen, kacang tanah jadul masih muda, masih lama untuk bisa dipanen. Kira-kira 228 hari lamanya.

Itu sudah sangat jelas keuntungannya, hingga banyak petani yang datang meminta bibit lagi. Oleh karena itu residen meminta lagi bibit satu pikul untuk para pegawai yang akan menanamnya lagi.

Di Brebek pertama kali ditanam tanggal 8 Desember 1975, dipanennya tanggal 11 Mei, jadi lamanya 153 hari. Hasil buahnya 2.060, setelah itu dibagikan lagi ke para pekerja untuk ditanam kembali.

Di Tulungagung masa tanamnya 180 hari, ditanam di tanah berpasir. Kalau kacang tanah jadul lamanya sekitar 8-9 bulan meski di media yang sama. Hal yang dilakukan yaitu menambah bibit kacang waspada lebih banyak, bijinya kurang tapi besar-besar dibandingkan kacang tanah jadul, begitu pula kandungan minyaknya lebih banyak di kacang tanah waspada, buah dari kacang waspada isinya sama seperti kacang tanah jadul.

Di Distrik Trenggalek lebih cepat kacang tanah jadul yang dipanen. Masih di Trenggalek, yang masa panennya bersamaan, hasil panen di sana kurang, tapi kedalaman buahnya tidak terlalu dalam.

Dari Residen di Madiun

[sunting]

Di Afdeling Pacitan gagal tumbuh, di Afdeling Madiun, Magetan, Ponorogo sangat bagus pertumbuhannya. Residen meminta lagi bibitnya.

Dari Residen di Surabaya

[sunting]

Berdasarkan laporan dari keresidenan, hasi percobaan di sana kebetulan bagus pertumbuhannya. Masa tanamnya hingga dipanen 4-5 bulan. Daunnya lebih besar dan warnanya lebih bagus, buahnya sama banyaknya dengan kacang tanah jadul, tapi tekstur cangkangnya lembut serta bijinya besar-besar.

Dari Residen di Pasuruan

[sunting]

Di Malang dan di Tengger gagal tumbuh. Tunasnya muncul tapi bijinya tidak mau tumbuh ke dalam tanah, jadi dianggap tidak berbuah.

Dari Residen di Besuki

[sunting]

Di Afdeling Basuki Distrik Mlandingan, yang tumbuh sebanyak tujuh pohon, dipanennya satu kali.

Di Distrik Bungahan ada yang jadi 15 pohon, umbinya banyak. Di tempat lain percobaan tanamnya kurang begitu memuaskan.

Di Situbondo lamanya masa tanam hingga bisa dipanen yaitu 135 hari, hasilnya menjadi 8 kati, memanennya lebih gampang dibandingkan kacang tanah jadul. Bijinya cenderung kecil dan daunnya juga kecil, yang juga menjadi masalah, karena di sini orang yang menanam kacang tanah hanya fokus pada daunnya.

Di Bondowoso bibitnya 32 biji, tumbuh menjadi 32 pohon, masa tanamnya 120 hari. Buahnya sangat bagus dan dijadikan bibit kembali.

Dari Residen di Probolinggo

[sunting]

Di sini gagal, kemungkinan penyebabnya musimnya jelek yaitu musim kemarau.

Dari Residen di Banyuwangi

[sunting]

Di Distrik Banyuwangi pertama kali menanam pada 3 Januari 1976, dipanennya pada 12 Juni 1976, masa tanam 159 har, di tanah merah liket buahnya banyak, kalau di tanah yang hitam yang banyak minyaknya buahnya jadi jelek.

Di Distrik Rogojampi ditanam pada 28 November 1975, dipanen pada 9 April, masa tanamnya 131 hari, hasilnya tidak terlalu bagus.

Dicoba oleh tuan Residen lebih bagus hasilnya, masa tanam hingga panen 6 bulan 20 hari, hasilnya 278 pon, jadi dalam sebau bisa menghasilkan 16 pikul tanpa cangkang, yang sudah dikupas.


Begitu hasil laporan dari para residen di Pulau Jawa dalam percobaan menanam kacang tanah. Tidak semuanya sama, dan tidak semua cocok, karena ada beberapa yang menyimpan bibitnya terlalu lama, atau tidak memilih tanah yang bagus untuk menanam, atau menanamnya kruang rapat seperti di Banyumas, ada juga yang gagal karena musing kemarau.

Walaupun banyak yang gagalnya tapi sudah sangat jelas bahwa kacang tanah waspada lebih cepat dibandingkan kacang tanah jadul dari segi waktu panennya, cara memanennya, bahkan ada yang hanya dicabut dan buahnya terambil banyak. Oleh karena kemungkinan di berbagai daerah banyak yang suka, seperti digunakan untuk menyelang tanaman padi di sawah-sawah, kalau yang ditanam kacang tanah jadul, lamanya sekitar 8-9 bulan, tidak ada panduannya.

Ada juga yang lebih dari 4-5 bulan masa tanamnya, kemungkinan itu karena musing kemarau.

Jika bibitnya belum mencukupi, jangan terlalu banyak dibagikan, aturannya membuat percobaan yang harus banyak, agar terlihat baik buruknya.

Begitu juga dengan cara penanamannya dibariskan daripada kacang tanah jadul karena kacang tanah waspada tidak terlalu banyak tunasnya, oleh karena itu kerkesan boros bibit, tapi akan terbayarkan oleh buahnya yang banyak, malah berkali lipat hasilnya.

Di Afdeling Bandung Barat dan Bandung Utara perihal kacang waspada tidak harus menunggu pemerintah negara, jalan sendiri dulu saja, para pekerja sudah bosan dengan kacang tanah jadul, karena terasa pada keuntungannya.

Mau di manapun mungkin juga akan sama saja, asal para pekerja sudah merasakan keuntungannya, tentu akan tergerak dengan sendirinya.


  1. tetapi di tanah liat pun bisa juga tumbuh baik.
  2. Di tanah yang datar di Kedu dan Jawa Timur, banyak juga yang menanam padi di sawah.
  3. Bukan bagus karena ditanami kacang tanah, tetapi karena tanah yang ditambahkan dari bawah bercampur dengan permukaan tanah.
  4. atau panukuan air
  5. Di Garut sudah pernah dicoba diperas mentah. Adapun hasilnya yaitu minyak bening, tidak ada sama sekali bau tengik seperti minyak kacang tanah biasa. Apalagi kalau direndam dengan lumut dahulu sebelum diperas, minyaknya bahkan kalah oleh minyak saladah (minyak zaitun) serta bungkilnya sangat bersih sekali.