Mitra Petani (Jilid 3)/Untung Rugi Belanja ke Pasar
“Nyi Piyut, Nyi Asminah, ayo kita ke pasar Cibodas.”
“Ayo! Tapi saya sama sekali tidak punya bahan untuk di jual, percuma saja ke pasar juga.”
“Ih, itu mah gampang, ambil daun pisang atau daun keladi, dijual lumayan, dapat sesen untuk membeli garam dan terasi.”
“Ah, benar juga! kenapa saya lupa.”
Di atas adalah percakapan Piyut dan Asminah yang adalah tukang petik teh di kontrakan Teh Waspada. Jaraknya dari pasar Cibodas kurang lebih 6 pal. Adapun yang mengajak ke pasar itu bernama Ambu Dekot. Pekerjaannya juga sebagai tukang petik teh. Mereka bertiga mendapat keuntungannya sekitar 20 sampai 30 sen sehari dari pekerjaan tersebut. Malah terkadang bisa lebih dari itu. Di dekat pabrik itu juga ada warung kelontong yang sangat lengkap dagangannya. Semua kebutuhan mereka pasti ada, misalnya: terasi, garam, cabai, ikan, telur, serai, gambir, kapur, tembakau, cemilan ringan, oncom dan sebagainya. Namun, mereka bertiga tetap saja ingin ke pasar, karena di pasar bisa mendapat yang lebih murah.
Setelah Piyut dan Asminah mengambil daun pisang dan daun talas, mereka lanjut berdandan rapi, mengganti pakaiannya dengan pakaian yang paling bagus.
Setelah itu mereka berangkat ke pasar itu. Turun gunung, naik gunung, melewati lembah menyusuri pasir, di jalan beristirahat sejenak, sampainya di pasar penuh dengan keringat karena lelah dan kepanasan.
Daun talas dan daun pisang itu memang dijual, tetapi tidak dijual seharga semestinya. Hanya supaya cepat terjual saja, karena sudah capek membawanya.
Dari sana mereka lalu berkeliling di pasar, berdesakan, bercampur dengan orang banyak. Payung Ambu Dekot malah kena soret tersenggol oleh orang yang memikul bambu, karena terlalu ramai dan sama sekali tidak bisa menghindar. Piyut dan Asminah membeli garam, terasi dan tempe kering, Ambu Dekot lalu mengajak mereka beristirahat sebentar, membeli cendol penghilang dahaga. Setelah itu mereka pulang.
Dalam perjalanan pulang mereka singgah lagi di warung, sambil membeli kopi disertai ketan dan gorengan. Setelah istirahat kemudian lanut berjalan lagi, sampai di rumah sudah sore serta sangat lelah.
Keesokan harinya ketiga perempuan itu bertemu dengan yang menulis buku ini di kebun teh, sedang metik. Ditanya kemarin pergi seharian ke mana, tidak ada yang datang memetik. Jawabanya pergi belanja dan jualan ke pasar-pasar, sebagaimana yang sudah diceritakan di atas.
Saya dan ketiga perempuan itu melanjutkan percakapan, menceritakan untung ruginya ke pasar. Oleh saya lalu dihitung kerugian seperti di bawah ini:
| Ruginya | ||
|---|---|---|
| Sehari tidak memetik, sedikitnya dapat 20 sen, jadi bertiga | = | ƒ 0,60 |
| Di pasar membeli cendol | = | ƒ 0,06 |
| Membeli kopi dan gorengan ketika singgah di warung | = | ƒ 0,04 |
| Dua belas pal berjalan kaki dan satu payung patah tersenggol bambu itu,itu mah tidak dihitung
jadi jumlah ruginya |
= | ƒ 0,70 |
| Untungnya | ||
|---|---|---|
| Sebaliknya ada juga untungnya, sebab garam terasi dan
ikan dibeli lebih murah daripada harga di warung dekat pabrik. Terhitung keuntungannya lebih murah hanya |
= | ƒ 0,08 |
| Jadi akhirnya malah terhitung rugi besar, sebab untuk
mendapat keuntungan dikurang ƒ 0,70 di atas. Jadi ruginya |
= | ƒ 0,62 |
Atau kurang lebih 20 sen tiap orangnya.
Sesudah dihitung begitu oleh saya, mereka hanya senyum-senyum saja, merasa bahwa sebenarnya memang lebih murah berbelanja di warung yang dekat saja.
“Benar begitu”, kata Ambu Dekot. “Tapi kenapa tukang warung itu malah menjualnya mahal sekali?”
Jawab saya: “Itu mah mungkin hanya mahal sedikit. Sebab coba pikir, kamu tadi sudah rugi 62 sen hanya ingindapat untung 8 sen. Sedangkan si pedagang ya memang begitu juga mencari untungnya. Tapi pedagang mah tidak seperti kamu, habis banyak di ongkosnya. Ini ongkosnya mendatangkan dari pasar terhitung tidak terlalu besar. Sebab belanjaannya banyak jadi ongkosnya saling menutupi. Tetapi lagi pun menjualnya pedagang warung tentu naik dari harga di pasar, sebab ongkos-ongkosnya harus tergantikan lagi dan jika ongkosnya sudah nutup dia harus mendapatkan laba, karena tidak ada lagi kehidupannya selain dari mengumpulkan dan menunggu setiap hari dagangannya di warung. Jadi, oleh sebab itu tidak berlebihan kalau dia mendapat untung sedikit-sedikit untuk panganannya.”
“Betul sekali”, jawab Asminah. “Tapi bagaimana kalau terlalu besar harganya si pedagang warung?”
“Kalau terlalu mahal dan terlalu berat harganya, ya memang benar sekali kamu ke pasar saja, tapi sebaiknya jangan semuanya pergi ke pasar. Lebih baik satu orang saja, yang lainnya cukup menitipkan ke kamu kalau mau beli sesuatu. Sekalian kasihkan juga bekalnya, Itu tentu lebih efisien daripada kalian semua, Ambu Dekot, Asminah, dan Piyut pergi ke pasar, sementara perbekalannya tentu kurang. Yang berdua tidak harus meninggalkan pekerjaannya yang jadi keuntungan kamu.”
Ada seorang nenek yang mendengar percakapan saya. Dia lalu berkata: “Wo.. benar sekali, memang tepat,” Ditimpali lagi oleh seorang perempuan yang agak gemuk: “Berarti saya tidak boleh ke pasar? Padahal saya senang sekali ke pasar.”
Jawab saya: “Boleh sekali kalau mau ke pasar mah, tapi jangan keseringan. Jangan ke pasar kalau maksudnya hanya ingin memperlihatkan pakaian dan perhiasan saja. Yang begitu tentu tidak ada hasilnya, malah akan jadi sia-sia dan rugi saja.”
“Kalau kamu mau membeli pakaian atau barang lain yang memang perlu dibeli oleh, meninggalkan pekerjaan juga tidak akan menimbulkan kerugian untukmu. Itu beda perkaranya. Sangat baik kamu ke pasar, hanya saja jangan seperti yang sudah-sudah, saking jadi keenakan, buktinya tidak ada hari pasar yang terlewat, malah seminggu 2-3 kali main ke pasar. Sambil jualan, harga satu sen dua sen. Keuntungannya hanya beberapa sen, tapi kerugiannya puluhan sen, sebab meninggalkan pekerjaan (utama) di kampung atau di kebun. Yang begitu kalau menurut saya malah murah jadi mahal.”
Itu yang disebut di atas barusan juga untuk kita orang kampung dan para petani.
Hendaknya dipikir bahwa manusia tidak bisa mengerjakan dua tiga pekerjaan sekaligus. Misalnya jadi pedagang sekaligus jadi petani, pandai besi, pengrajin kayu, tukang cat, pembatik, penenun, tukang genteng, itu tidak mungkin hanya dikerjakan oleh satu orang saja.
Yang membuat pekerjaan itu cepat selesai, sebab setiap pekerjaan ada dasarnya. Tidak bisa disemuakan, sebab dikerjakan itu saja tentu lebih baik lebih paham daripada yang setengah-setengah. Kalau semua dikerjakan oleh satu orang tentu satu pun tidak akan ada yang benar.
Pekerjaannya pedagang tidak bisa dicampur dengan bertani. Petani tidak bisa jadi pedagang, sebab bisa kacau kalau tidak tahu aturannya.
Karena itu jangan serakah, orang lain juga harus punya kehidupan dan keuntungan sekadarnya. Kalau keuntungannya kebanyakan tentu banyak yang meniru, jadi banyak musuhnya, harganya barang atau jasa juga mungkin jadi murah, jadi seharga cukup.
Jadi kalau begitu jangan ada pasar? Ih, tidak umum kalau menyimpulkan jangan ada pasar mah. Hanya saja jangan terlalu sering ada hari pasar dalam seminggu. Soalnya hanya akan menjadi godaan bagi orang desa. Nanti malah sering meninggalkan pekerjaan yang lebih besar manfaatnya, karena senang ke pasar, senang jualan sambilan yang tidak tentu, dan karena terbawa malas bekerja pekerjaan yang lebih berat, hanya senang ramai-ramai ke pasar saja.
Semua juga ada waktu dan takarannya. Begitu juga ramai-ramai bepergian. Tiap orang juga dianjurkan supaya menyenangkan hatinya, tapi jangan setiap hari dan harus ada waktu dan jaraknya.
Nah begitu maksud saya. Mungkin bisa dimengerti oleh yang panjang pikirannya.