Motif Bantuan Luar Negeri Inggris Dalam Implementasi Program Mentari di Indonesia

A. Latar Belakang
[sunting]Kolonialisme Inggris di masa lalu memberikan dampak mendalam terhadap kebijakan luar negeri. Negara-negara yang sebelumnya menjadi koloni, termasuk Inggris sendiri, masih aktif terlibat dalam negara-negara yang pernah mereka kolonialisasi. Keterlibatan mereka memainkan peran penting melalui berbagai cara, termasuk partisipasi dalam bantuan luar negeri. Kekuatan kolonial memberikan lebih banyak bantuan bilateral kepada negara-negara bekas jajahannya dibandingkan negara-negara lain.[1]
Sejarah struktur bantuan luar negeri dimulai dengan kolonialisme Eropa yang telah dikaitkan dengan pergeseran kepentingan ekonomi dan politik dengan kekuatan kolonial yang menggunakan bantuan tersebut untuk membangun infrastruktur di wilayah jajahannya. Bahkan setelah koloni memperoleh kemerdekaan, dukungan asing terus terfokus pada pembangunan ekonomi (Phillips, 2013). Sebagian besar bantuan kepada negara-negara bekas jajahan antara lain mendukung kebijakan perlindungan sosial, mendanai kegiatan yang berkaitan dengan kesehatan dan pendidikan. Inggris sebagai penyalur donor lebih bergantung pada lembaga swadaya masyarakat dan organisasi internasional dalam menyalurkan bantuan.[1]
Keterlibatan gereja dalam moralitas dan orientasi kebijakan kolonialisme menjadi landasan bagi hubungan yang erat antara Inggris dan sejumlah negara yang mengalami pengaruh kolonial. Gereja yang mendominasi lembaga bantuan luar negeri menciptakan landasan moral yang memandu kebijakan dan implementasi bantuan. Namun, sekarang pemerintah Inggris, melalui Foreign, Commonwealth, and Development Office (FCDO), secara aktif memanfaatkan bantuan luar negeri untuk melaksanakan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) yang telah disepakati di PBB.
Motif bantuan luar negeri Inggris dalam implementasi Program Mentari di Indonesia Salah satu fokus utama bantuan luar negeri Inggris, melalui FCDO, adalah melibatkan diri dalam implementasi SDG di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dalam konteks ini, Program Mentari merupakan inisiatif yang mencerminkan komitmen Inggris terhadap pengentasan kemiskinan, pertumbuhan inklusif, dan kesetaraan gender melalui pengembangan sektor energi terbarukan. Keberhasilan program ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat, terutama di wilayah timur Indonesia yang menjadi fokus utama.
Infrastruktur energi yang berkualitas tinggi dianggap sebagai kunci penting dalam mengatasi kemiskinan dan mendorong pertumbuhan inklusif. Program Mentari, sebagai bagian dari bantuan luar negeri Inggris, memiliki tujuan utama untuk menciptakan kebijakan lingkungan yang mendukung energi terbarukan, meningkatkan akses terhadap energi di Indonesia bagian timur, mendukung pembangunan ekonomi, serta merancang praktik yang baik dan inovatif.
Indonesia, dengan populasi terbesar keempat di dunia, menghadapi tantangan signifikan dalam hal akses terhadap energi. Meskipun memiliki potensi besar untuk mengembangkan sumber energi terbarukan, kendala kebijakan dan akses terhadap pendanaan menghambat pertumbuhan sektor ini. Dalam konteks ini, Inggris, dengan keahlian dan pengalaman dalam transisi karbon rendah, teknologi inovatif, dan energi terbarukan, dapat memberikan dukungan yang spesifik dan tertarget untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Selama beberapa tahun terakhir Inggris telah melakukan implementasi energi terbarukan yang telah memberikan kontribusi terhadap perekonomian negara. Pada tahun 2018 listrik telah menjadi penyumbang energi utama. Dari total energi pada tahun 2021, listrik telah menyumbang 51%, lebih tinggi daripada gas bumi (UK Energy Brief, 2022). Keterlibatan Inggris dalam energi terbarukan tidak hanya memberikan manfaat bagi negara-negara penerima bantuan, tetapi juga telah membuktikan keberhasilannya dalam kontribusinya terhadap perekonomian Inggris sendiri. Melalui implementasi energi terbarukan, Inggris telah berhasil mengurangi ketergantungan pada sumber energi tradisional dan meningkatkan kontribusi sektor energi terbarukan pada tingkat yang signifikan. Keberhasilan ini menjadi contoh baik yang dapat diterapkan di negara-negara lain, termasuk Indonesia.
B. Kerangka Analisis
[sunting]Buku ini menggunakan kerangka analisis Teori Carol Lancaster yang dimuat dalam publikasi Foreign Aid: Diplomacy, Development, and Domestic Politics.
1. Ide
[sunting]Menurut lancaster ide dapat disebut juga sebagai 'pandangan dunia' dimana terdapat nilai-nilai seperti budaya, agama, idologi, mana yang benar dan mana yang tidak. Norma dan prinsip kepercayaan yang terkonstruksi. Prinsip ini sebagai contoh yaitu apa yang dilakukan oleh negara maju yaitu dimana pemikiran negara maju harus memberikan bantuan kepada negara miskin. Lancaster memberikan contoh sistem liberal Amerika serikat dan demokrasi di negara Skandinavia, dimana terdapat cara pandang yang berbeda antara keduanya. Liberal memiliki pandangan dimana pemerintah akan melakukannya dengan baik jika diatur secara minimal. Di sisi lain norma demokrasi Skandinavia bertumpu pada solidaritas sosial yang meningkatkan popularitas bantuan luar negeri pada negara-negara Skandinavia (Lancaster, 2008: 31–32).[2]
2. Institusi
[sunting]Institusi politik menentukan alur pembentukan aturan, siapa saja yang dapat menentukan agenda isu, siapa saja yang dapat menentukan kebijakan dan siapa saja yang dapat melakukan veto kebijakan. Lancaster menggambarkan tiga aspek institusi politik yaitu peraturan pemilu yang mengandung sistem parlementer dan presidensial serta peran badan legislatif serta pemerintah daerah dan entitas semi publik seperti komite penasihat dan LSM yang didukung oleh pemerintah. Sistem parlementer badan eksekutif bergantung pada legislatif. Eksekutif bergantung pada dominasi partai atau badan legislatif untuk tetap berkuasa. Akibatnya legislatif cenderung mendukung kebijakan pemerintah. Legislatif memiliki peran yang sangat penting, dimana mereka dapat menggiring dan menyoroti permasalahan yang dapat menjadi atensi. Selain itu pengaruh dari organisasi seperti, lembaga pemerintah daerah, dewan penasehat dan lembaga yang didukung pemerintah semi independen sangat berpengaruh dalam menyetujui program atau kebijakan bantuan. Partai politik di sisi lain juga bergerak dalam memainkan arah bantuan. Partai sayap kiri cenderung berorientasi pada memberikan bantuan dan tujuan pembangunan dan sisi Lain partai sayap kanan cenderung fokus pada keamanan dan kepentingan komersial (Lancaster, 2008: 33–34).[2]
3. Kepentingan
[sunting]Peran yang dinamis dari kelompok kepentingan politik, khususnya dalam hal penentuan alokasi sumber daya publik, terfokus pada bantuan luar negeri. Ada tiga kategori kepentingan utama yang terkait dengan bantuan ini, yaitu kepentingan yang mendukung tujuan komersial seperti pertanian, manufaktur, dan produsen jasa. Organisasi non pemerintah dan kelompok kepentingan publik yang berupaya melakukan advokasi untuk memberikan bantuan dan pembangunan. Berbagai jenis organisasi, seperti kelompok produsen pertanian, serikat pekerja, gereja, universitas, diaspora etnis, dan lembaga pemikiran, secara aktif terlibat dalam isu-isu terkait bantuan. Masing-masing memiliki preferensi kebijakan dan tingkat pengaruh yang berbeda-beda. Meskipun opini publik pada umumnya bersifat pasif dan bersedia menerima, namun dapat membentuk keseluruhan mengenai bantuan luar negeri dan menetapkan batasan yang luas. Namun, opini publik jarang menentukan tujuan bantuan secara spesifik kecuali dalam kejadian besar, seperti krisis kemanusiaan yang disebutkan dalam media atau skandal yang melibatkan topik dana bantuan. Dalam situasi seperti ini, kemarahan masyarakat dapat mendorong pemerintah untuk mengambil tindakan cepat sehingga mempengaruhi keputusan terkait penambahan, perubahan alokasi, pengurangan, atau reformasi bantuan. Interaksi kompleks antara kelompok kepentingan, berbagai organisasi, dan sentimen publik secara bersama-sama berkontribusi dalam membentuk arah kebijakan terkait bantuan luar negeri (Lancaster, 2008: 35–36).[2]
4. Organisasi
Dalam pemberian bantuan luar negeri sangat penting adanya keterlibatan organisasi pemerintah. Cara pemerintah mengatur diri mereka sendiri dalam menangani bantuan luar negeri berdampak langsung pada suara pemerintah yang berorientasi pada pembangunan dan tingkat kerja sama dengan kelompok eksternal yang mendukung bantuan pembangunan. Istilah "organisasi" dalam konteks ini mengacu pada lokasi di dalam pemerintahan di mana tugas-tugas yang berkaitan dengan fungsi atau program tertentu yang dikelola, seperti kebijakan luar negeri atau program kesejahteraan.
Bagian ini menyoroti dua proposisi utama. Pertama, lembaga-lembaga pemerintah memainkan peran penting sebagai aktor politik yang melakukan advokasi untuk misi dan kepentingan mereka. Kedua, konsolidasi fungsi-fungsi yang berkaitan dengan tujuan publik tertentu dalam satu lembaga, terutama pada tingkat birokrasi yang lebih tinggi dengan meningkatkan pengaruh lembaga tersebut terhadap kebijakan dan program yang berkaitan dengan misinya. Setiap negara memiliki caranya sendiri seperti menyatukan kegiatan-kegiatan terkait bantuan di lembaga-lembaga independen di tingkat kabinet atau mengintegrasikan bantuan ke dalam kementerian-kementerian yang ada (Lancaster, 2008: 37–38).[2]
C. Pembahasan
[sunting]1) Motif Ide Inggris
[sunting]Konsep bantuan luar negeri dari Inggris ke negara-negara bekas jajahannya berakar kuat pada dinamika kompleks warisan kolonial. Eksploitasi sumber daya dan tenaga kerja di koloni-koloni yang dijajah Kerajaan Inggris dalam sejarah menghasilkan akumulasi kekayaan yang signifikan bagi Inggris, namun seringkali membuat koloni-koloni tersebut menjadi miskin. Beberapa pendukung bantuan luar negeri berpendapat bahwa hal ini berfungsi sebagai sarana bagi Inggris untuk mengatasi ketidakadilan dan kesenjangan historis yang diakibatkan oleh kolonialisme, dengan menawarkan bantuan kepada negara-negara bekas jajahannya dalam upaya mencapai pembangunan. Selain itu, kewajiban moral yang berasal dari masa kolonial Inggris juga ditekankan, karena banyak negara bekas jajahan terus bergulat dengan isu-isu seperti lemahnya institusi, infrastruktur yang tidak memadai, dan konflik yang sedang berlangsung. Dalam perspektif ini, bantuan luar negeri dipandang sebagai tanggung jawab untuk memperbaiki dampak ketidakadilan yang terjadi dalam sejarah. Selain itu, kepentingan kepentingan strategis juga ikut berperan, dengan pengakuan bahwa Inggris akan memperoleh manfaat dari upaya menjaga stabilitas dan kemakmuran di negara-negara berkembang. Dengan memberikan bantuan, Inggris dapat berkontribusi dalam pencegahan konflik, mendorong tata pemerintahan yang baik, dan membuka pasar baru bagi barang dan jasa Inggris (Drewry, 2020).[3]
Selain latar belakang kelam kolonialisme, keyakinan agama juga memainkan peran penting dalam memotivasi sejumlah besar warga Inggris untuk mendukung bantuan kemanusiaan, didorong oleh rasa kasih sayang dan keinginan untuk memberikan bantuan kepada mereka yang kurang beruntung. Banyak yang merasa panggilan moral berdasarkan ajaran agama mereka untuk memberikan pertolongan kepada sesama manusia. Selain itu, terdapat hubungan historis dan keterkaitan yang kuat antara Gereja Inggris dan berbagai organisasi bantuan. Gereja Inggris sering kali menjadi motor penggerak di balik kampanye bantuan dan upaya kemanusiaan, mencerminkan peran penting institusi keagamaan dalam menggerakkan dukungan masyarakat. Dengan keseimbangan antara keyakinan agama dan hubungan historis yang solid, banyak warga Inggris merasa terpanggil untuk berkontribusi pada upaya bantuan demi meningkatkan kesejahteraan global dan membantu mereka yang membutuhkan. pengaruh agama dalam konteks bantuan luar negeri mencerminkan bahwa kebijakan ini juga dapat dipengaruhi oleh iklim keagamaan suatu negara. Keterlibatan agama dalam keputusan terkait bantuan luar negeri menegaskan bahwa nilai-nilai agama dapat memperlemah atau memperkuat komitmen suatu negara terhadap pembangunan dan pemberdayaan di tingkat internasional (Price, 2012).[4]
Terdapat nilai-nilai universal yang juga diterapkan oleh Inggris sehingga menjadi salah satu tujuan pelaksanaan kebijakan bantuan luar negeri Indonesia Regulatory Reform and Renewable Energy programme. Nilai-nilai universal ini yaitu Sustainable Development Goals, Inggris telah berkomitmen terhadap SDGs dengan fokus pada pemberantasan kemiskinan dalam berbagai dimensi seperti mendorong kesetaraan gender, dan meningkatkan penggunaan sumber energi terbarukan. Pengentasan kemiskinan, khususnya di kalangan perempuan, telah menjadi fokus utama, dan hal ini bertentangan dengan landasan gender dalam kesejahteraan di Inggris (Rothwell & McEwen, 2017). Dalam hal energi terbarukan, komitmen Inggris terhadap target energi terbarukan telah menjadi perhatian, dengan penelitian yang menunjukkan bahwa negara tersebut mungkin tidak mencapai target energi terbarukan pada tahun 2020. Namun, sumber daya angin yang melimpah di Inggris, khususnya di wilayah seperti Timur Laut Inggris, memainkan peran penting dalam mendorong penyediaan tenaga angin untuk memenuhi target energi terbarukan (Miao et al., 2020). Selain itu, kontribusi ekonomi dan penciptaan lapangan kerja yang terkait dengan tenaga angin lepas pantai juga disoroti, yang menunjukkan upaya Inggris untuk meningkatkan manfaat ekonomi dari energi terbarukan (Allan et al., 2021).[5] Dengan menjadi contoh yang teladan, Inggris ingin berbagi pengalaman kepada negara-negara target sasaran bantuan luar negeri.
2) Institusi
[sunting]Birokrasi Inggris dalam menangani bantuan luar negeri di Indonesia pada dasarnya dikelola oleh Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO), yang dibentuk setelah penggabungan Department for International Development (DFID) dan Foreign and Commonwealth Office (FCO). FCDO bertanggung jawab untuk mengelola bantuan luar negeri dan mempunyai beberapa peran penting, termasuk menghormati komitmen internasional Inggris untuk menjadikan bantuan Inggris lebih efektif dengan meningkatkan transparansi, menargetkan pada kebijakan pembangunan internasional Inggris mengenai pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan koherensi dan kinerja kebijakan pembangunan internasional Inggris di negara-negara miskin yang terkena dampak konflik.
Dalam mengelola dana bantuan luar negeri Departemen Foreign, Commonwealth and Development Office merancang anggaran dana sendiri melalui konsultasi dengan komite di parlemen. Anggaran dari FCDO disampaikan kepada parlemen melalui HM Treasury yang dimasukan pada main estimates memorandum. Anggaran ini harus dibuat dengan mencakup beberapa komponen informasi seperti objectives, budgets, main areas of spending, and drivers for changes in spending, including efficiency initiatives. Anggaran FCDO harus melalui pengawasan dan persetujuan parlemen. Struktur perkiraan FCDO telah disetujui melalui konsultasi dengan komite terpilih di parlemen, dan total pengeluaran yang memerlukan persetujuan Parlemen mencakup Resource Departmental Expenditure Limit (Resource DEL) dan Capital Annually Managed Expenditure (Capital AME).
Sistem bantuan Inggris telah mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Departemen Pembangunan Internasional (DFID) adalah departemen kementerian dari Mei 1997 hingga September 2020, dan bertanggung jawab atas anggaran bantuan Inggris . Pada bulan Juni 2020, DFID digabungkan dengan Foreign and Commonwealth Office (FCO) untuk membentuk Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO). FCDO sekarang bertanggung jawab atas anggaran bantuan Inggris, yang dikenal sebagai UK aid. UK aid didanai oleh FCDO dan dirancang untuk mendukung komitmen Inggris dalam mengurangi kemiskinan dan mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selain itu juga bertugas untuk mengawasi Lembaga Pembiayaan Pembangunan Inggris yang dikenal sebagai British International Investment (BII), sebelumnya CDC. Dengan penggabungan FCO dan DFID, FCDO yang baru dibentuk akan memiliki anggaran yang jauh lebih besar dibandingkan FCO sebelumnya, sehingga memungkinkan Inggris untuk membelanjakan uang bantuan secara strategis, tidak harus di negara-negara termiskin atau di negara-negara miskin. Tujuan ini diperuntukan untuk memajukan kepentingan Inggris di luar negeri (Honeyman, 2020).
| TABLE 1: Dana untuk FCDO 2022/23 - 2024/25 | |
|---|---|
| Tahun | Dana |
| 2022/23 | £6.9 Miliar |
| 2024/25 | £8.3 Miliar |
Sumber: (House of Commons Library) The Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO) annual report and accounts for the financial year 2022 to 2023.[6]
Peleburan antara FCO dan DFID ini menyebabkan beberapa implikasi yang diharapkan dapat menguntungkan bagi performa pemberian bantuan luar negeri, dimana diharapkan dapat memberikan koherensi kepada UK’s International presence dengan UK Trade Commissioners yang berada di bawah wewenang duta besar inggris di luar negeri. Selain itu upaya ini juga digunakan untuk memperkuat dampak dan pengaruh di kancah dunia terutama setelah pandemi coronavirus dan keterlibatanya menjadi ketua G7 dan COP26.
3) Interest
[sunting]Penggunaan bantuan Inggris untuk meningkatkan kesejahteraan bukanlah suatu hal yang baru. Sejak tahun 1960-an, Inggris telah menggunakan bantuan dengan tujuan mencapai manfaat ekonomi dan komersial melalui berbagai kebijakan pemerintah. Contohnya, pada tahun 1977, Bantuan dan Ketentuan Perdagangan mengaitkan bantuan dengan kredit ekspor yang harus digunakan untuk membeli barang dan jasa Inggris. Kejadian Bendungan Pergau di Malaysia pada awal tahun 1990-an, yang menyebabkan bantuan Inggris senilai ratusan juta poundsterling terkait dengan kesepakatan senjata rahasia, menjadi titik rendah dalam reputasi bantuan Inggris. Insiden ini turut berkontribusi pada keputusan pada tahun 2000 untuk melepaskan semua keterkaitan bantuan Inggris dengan pembelian dari Inggris dan menerapkan Undang-undang Pembangunan Internasional (IDA) tahun 2002, yang menetapkan bahwa bantuan Inggris harus seefektif mungkin dalam mengurangi kemiskinan (Perakis, 2012).[7] Strategi bantuan Inggris tahun 2015 mencakup upaya untuk mempromosikan peluang perdagangan dan investasi bagi Inggris. Dalam Tinjauan Kemampuan Keamanan Nasional tahun 2018, dijelaskan bahwa Inggris bertekad untuk mengentaskan kemiskinan dan mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, sambil juga membangun landasan bagi perdagangan dan peluang komersial di pasar global. Meskipun tujuan untuk meraih manfaat ekonomi bagi Inggris melalui program bantuan sudah ada sebelum Undang-Undang Pembangunan Internasional tahun 2002, hal baru dalam beberapa tahun terakhir adalah peningkatan permintaan atau kewajiban untuk secara eksplisit menjelaskan manfaat sekunder yang akan diperoleh Inggris. Dalam beberapa kasus, program bantuan Inggris sekarang harus melaporkan dan mengukur secara terperinci manfaat tersebut.
Pada pertemuan tingkat tinggi DAC bulan Februari 2016, tercapai kesepakatan mengenai prinsip-prinsip baru terkait dengan penggunaan instrumen sektor swasta, termasuk investasi ekuitas, jaminan, dan lain-lain. Tujuan dari perubahan ini, menurut DAC, adalah untuk menghilangkan hambatan dalam menggunakan instrumen-instrumen ini dan menetapkan sistem yang seimbang dan kohesif untuk mendorong dukungan jangka panjang terhadap sektor swasta. Setelah perubahan ini disepakati, dimana donor didorong untuk bekerja lebih erat dengan sektor swasta dengan tujuan meningkatkan pengembangan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja di beberapa negara termiskin di dunia. ICAI mencatat bahwa sejak tahun 2015, terjadi pergeseran ke arah penggunaan bantuan untuk kepentingan nasional Inggris" terutama sejak partai Konservatif mulai memerintah sendiri. Tinjauan tersebut juga menunjukkan bahwa ada dorongan yang lebih kuat untuk "pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan di negara-negara berkembang. Namun, trend ini semakin meningkat setelah Inggris keluar dari Uni Eropa pada tahun 2019, menurut analisis tersebut. Fokus baru ditempatkan pada kerja sama, terutama dengan perusahaan-perusahaan mapan di pasar yang lebih maju, dibandingkan dengan intervensi yang memberikan manfaat kepada masyarakat miskin (Merrick, 2023).[8]
Kehadiran bantuan luar negeri Inggris di Indonesia dalam Indonesia Regulatory Reform and Renewable Energy programme khususnya dalam pengimplementasian program Mentari, Inggris memiliki tujuan utama dari inisiatif ini yaitu mempercepat pertumbuhan sektor energi terbarukan dan meningkatkan akses kepada energi di wilayah timur Indonesia. Mendukung sektor energi terbarukan di Indonesia juga akan membuka peluang bagi bisnis internasional, termasuk Inggris, khususnya dalam bidang di mana Inggris memiliki keahlian yang beragam. Inggris dikenal sebagai pemimpin global di sektor energi terbarukan, dan posisinya yang unggul memungkinkan mereka memanfaatkan peluang bisnis yang muncul dari bantuan teknis yang diberikan oleh program ini di pasar energi terbarukan Indonesia. Reformasi kebijakan diantisipasi akan membuka pintu investasi sektor swasta yang lebih besar di Indonesia. Melalui kolaborasi ini, Inggris berharap bahwa potensi komersial yang luas di Indonesia akan meningkat, sekaligus memperdalam pemahaman mengenai kekuatan dan keahlian Inggris dalam sektor energi terbarukan. Program ini dibiayai oleh Official Development Assistance (ODA) dan sepenuhnya mematuhi regulasi ODA internasional serta undang-undang domestik Inggris.
| Tabel 2: Investasi Energi Terbarukan Inggris Ke Indonesia | |
|---|---|
| Tahun | Dana |
| 2016 | £15,15 miliar |
| 2023 | £6.5 juta |
Inggris menegaskan tekadnya untuk lebih mengintensifkan dukungannya dalam mencapai target Nol Emisi Bersih (NEB) di Indonesia. Meskipun awalnya program MENTARI dijadwalkan akan berakhir pada tahun 2024, kini keputusan telah diambil untuk memperpanjangnya hingga tahun 2027. Sebagai langkah tambahan, Inggris juga akan mengalokasikan tambahan dana sebesar 6,5 juta poundsterling atau sekitar Rp135 miliar untuk memperkuat dan meningkatkan efektivitas inisiatif dalam program tersebut.
4) Organisasi
[sunting]Dalam perjalanannya FCDO mengalami berbagai perubahan dengan menyesuaikan dari kepemimpinan perdana menteri Inggris. Asal usul departemen ini dapat ditarik pada tahun 1960-an ketika didirikan sebagai "Kementerian Pembangunan Luar Negeri" (ODM) pada masa pemerintahan Partai Buruh tahun 1964–1970. Inisiatif ini menggabungkan fungsi-fungsi dari berbagai kantor pemerintah, termasuk Departemen Kerjasama Teknis dan fungsi kebijakan bantuan luar negeri. Namun, pergeseran politik membawa perubahan pada struktur departemen. Dengan terpilihnya pemerintahan Konservatif pada tahun 1970, Kementerian Pembangunan Luar Negeri mengalami transformasi, dimana berganti nama menjadi "Administrasi Pembangunan Luar Negeri" (ODA) dan diintegrasikan ke dalam Kementerian Luar Negeri. Kembalinya pemerintahan Partai Buruh pada tahun 1974 menyebabkan dibentuknya kembali "Kementerian Pembangunan Luar Negeri" yang terpisah, dengan kekuasaan menteri pembangunan luar negeri dialihkan ke Menteri Luar Negeri.
Sepanjang tahun 1970-an, terjadi perubahan kebijakan yang penting, seperti diperkenalkannya Ketentuan Bantuan dan Perdagangan pada tahun 1977, yang menghubungkan bantuan dengan kredit ekspor untuk menguntungkan bisnis di Inggris. Terpilihnya pemerintahan Konservatif pada tahun 1979 menyebabkan departemen tersebut kembali ke Kementerian Luar Negeri, sekali lagi bernama Administrasi Pembangunan Luar Negeri. Pada tahun 1980-an dan 1997, badan tersebut mengalami relokasi dan pemisahan. Sebagian dari operasinya dipindahkan ke East Kilbride di Skotlandia, dan pada tahun 1997, pemerintahan Partai Buruh memisahkan departemen tersebut dari Kementerian Luar Negeri.
| Tabel 3: Status Operasi LSM Inggris Terhadap BLN | ||
|---|---|---|
| LSM Inggris | Spesialisasi | Status |
| UK Med | Medikal | Aktif |
| Oxfam | Kebutuhan pokok | |
| Hope UK | Edukasi/ Pelatihan | |
| Christian Aid | Kemanusiaan | |
| Tearfund | ||
| All We Can | Pengembangan | |
| Catholic international aid | Kemanusiaan | |
FCDO tidak berjalan sendiri dalam pemberian bantuan luar negeri. Peran signifikan turut dimainkan oleh sejumlah besar organisasi non-pemerintah (NGO) di Inggris dalam memberikan bantuan kepada negara-negara yang membutuhkan, terutama di wilayah Afrika dan Asia. Mayoritas NGO Inggris fokus pada aspek kemanusiaan dan pembangunan, dengan mencakup berbagai bidang seperti pencegahan, kesetaraan gender, dan program-program pengembangan. Fenomena ini sejalan dengan agenda Indonesia Regulatory Reform and Renewable Energy Programme, khususnya dalam program Mentari, yang bertujuan untuk meningkatkan pemerataan distribusi energi dengan harapan dapat memberikan kontribusi pada peningkatan kesetaraan gender dan partisipasi perempuan. Penelitian ini juga menggambarkan bahwa Inggris, sebagai salah satu pendukung bantuan luar negeri terbesar, memiliki beragam NGO yang aktif di kancah internasional. Tidak hanya itu, gereja dan umat Kristen di Inggris memegang peran sentral dalam mengadvokasi bantuan internasional dan mendukung pembangunan di luar negeri. Selama beberapa dekade, mereka telah secara konsisten menyerukan Inggris untuk memenuhi tanggung jawab internasionalnya dan memberikan dukungan terhadap program bantuan luar negeri. “Cuts have consequences. Cutting the UK aid budget will have consequences for the world’s poorest. This is not just about the compassion of our country, it is about justice. It will result in people not accessing vital health care during a global pandemic. People going hungry. In fewer children being educated and their already limited choices being further diminished.’ — Cardinal Vincent Nichols, Archbishop of Westminster.
E. Kesimpulan
[sunting]Sejarah dan Motif Ide Inggris membentuk landasan kuat bagi keterlibatan Inggris dalam bantuan luar negeri, dengan warisan kolonial dan kewajiban moral sebagai pendorong utama untuk mengatasi dampak negatif historis tersebut. Keterlibatan gereja dan nilai-nilai agama juga memainkan peran kunci dalam membentuk komitmen Inggris terhadap bantuan luar negeri, menciptakan landasan moral dan dorongan kemanusiaan. Dalam aspek birokrasi dan struktur pendanaan, perubahan signifikan terjadi melalui penggabungan DFID dan FCO menjadi FCDO. Perubahan ini menekankan efektivitas, transparansi, dan keberlanjutan sebagai fokus utama dalam manajemen dan implementasi bantuan luar negeri. Peningkatan anggaran FCDO dari tahun ke tahun mencerminkan komitmen jangka panjang Inggris terhadap bantuan luar negeri. Bantuan luar negeri Inggris, khususnya melalui Program Mentari, menunjukkan fokus utama pada sektor energi terbarukan di Indonesia. Dengan tujuan meningkatkan akses energi dan mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif, program ini diharapkan memberikan dampak positif pada masyarakat, terutama di wilayah timur Indonesia yang menjadi fokus utama. Dampak positif bantuan luar negeri Inggris tidak hanya dirasakan oleh negara penerima, tetapi juga telah terbukti meningkatkan kontribusi sektor energi terbarukan pada tingkat yang signifikan di Inggris sendiri. Keahlian Inggris dalam transisi ke energi terbarukan, teknologi inovatif, dan pengelolaan sumber daya alam memberikan dampak positif pada implementasi program bantuan luar negeri, khususnya di Indonesia.
Referensi
[sunting]- ↑ 1,0 1,1 Allan, G., Connolly, K., McGregor, P., & Ross, A. G. (2021). A new method to estimate the economic activity supported by offshore wind: a hypothetical extraction study for the united kingdom. Wind Energy, 24(8), 887-900. https://doi.org/10.1002/we.2607
- ↑ 2,0 2,1 2,2 2,3 Lancaster, Carol, Foreign Aid: Diplomacy, Development, Domestic Politics (Chicago, IL, 2006; online edn, Chicago Scholarship Online, 21 Mar. 2013), https://doi.org/10.7208/chicago/9780226470627.001.0001, accessed 15 Aug. 2025.
- ↑ Miao, C., Teng, K., Wang, Y., & Jiang, L. (2020). Technoeconomic analysis onDrewry a hybrid power system for the uk household using renewable energy: a case study. Energies, 13(12), 3231. https://doi.org/10.3390/en13123231
- ↑ Price, R. (2012). God’s Empire: Religion and Colonialism in the British World. Victorian Studies, 54(3), 580. https://doi.org/10.2979/victorianstudies.54.3.580
- ↑ Allan, G., Connolly, K., McGregor, P., & Ross, A. G. (2021). A new method to estimate the economic activity supported by offshore wind: a hypothetical extraction study for the united kingdom. Wind Energy, 24(8), 887-900. https://doi.org/10.1002/we.2607
- ↑ Loft, P., & Brien, P. (2023). UK aid: Spending reductions since 2020 and outlook from 2023. In House of Commons Library.
- ↑ Perakis, R. (2012, November 21). Getting the Facts Straight: Pergau Dam and British Foreign Aid. Center for Global Development. https://www.cgdev.org/blog/getting+facts-straight-pergau-dam-and-british-foreign-aid
- ↑ Merrick, R. (2023, June 6). UK aid under fire for focus on self-interest over tackling poverty. Devex. https://www.devex.com/news/uk-aid-under-fire-for-focus-on-self-+interest-over-tackling-poverty-105668