Lompat ke isi

Musimpun Berganti

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Tentang Penulis

[sunting]

Penulis Cerpen ini seorang guru bahasa Indonesia bernama, Bu Nita.

Cerpen

[sunting]
Senja Penantian

Mentari yang muncul mengingatkan tentang arti mega merah di desaku. Jatuhnya aku dimasa silam membuatku sulit bernafas lega. Secerah itu dulu, segelap itu sekarang. Bukan cuaca tapi suasana yang merubah senyum menjadi tangis, sayang menjadi murka, rindu menjadi benci, dan perhatian menjadi pelampiasan. Mungkin kemunafikan dan kebohongan menjadi satu tarikan kesimpulan penyebab lemahnya system syarafku saat ini. Dari situ aku lebih siaga.

Tidak dendam tetapi akan selalu ingat. Hingga aku ingin amnesia dengan semua kisah cinta yang membuatku melupakan mana kiri mana kanan. Menjunjung tinggi keegoisan, menganak tirikan sahabat dan kebahagiaan. Dan yang paling penting melupakan apa tujuanku berada di sini, Jember. Sugesti untuk melupakan itu semua sangat kuat, hingga tak ada kata suka,cinta dan sayang kepada mereka kaum lelaki. Mungkin ramadhan hanya ujian dan saatnya aku menata semua dari awal. Aku sadar begitu berarti setiap detik yang ku rasakan yang tak kan terulang pada detik yang sama di tahun depan.

Hingga pada akhirnya aku tak tau sejak kapan ini terjalin. Bulan peralihan tersenyum. Ada apa ini? Bicara lewat nadaku sendiri. Dia menggandeng tanganku, dia simpan origamiku. Apakah ini bukan sekedar penyelamatan? Ini lebih dari perhatian. Berfikirlah bahwa ini hanya ilusi atau imajinasi bahwa ada perhatian lebih dari seorang lelaki kepada wanita pujaanya. Sudahlah ku rasa semua baik-baik saja. Hiruk pikuk masing-masing kepala berjalan melihat ada yang janggal antara aku dengan dia. Aku rasakan sebenarnya. Dia tak mau melepas jemariku dan tatapan itu ? . Tapi pura-pura saja aku tak melihatnya. Mungkin jika iya aku terlalu GR.

Semua berjalan pelan, tak sedikit goresan luka tiba-tiba datang. Sekedar menyapa atau bahkan ingin bertamu. Sesadar itu, aku tuan rumahnya. Bukankah aku berhak mengusirnya jika aku merasa tidak nyaman ? dan benar saja itu aku lakukan. Sedikit demi sedikit mencoba menyerahkan hatiku pada Tuhan. Aku percaya Dia bisa membuatku nyaman. Bukan berharap tapi doa ini selalu aku panjatkan. Surat singkat untuk Tuhan

“ Tuhan, sepenuhnya hatiku engkau yang menjaga. Dari hati Engkau mengajarkan bagaimana caraku menangis dengan ikhlas dan tersenyum dengan syukur. Aku percaya, Tuhan tak ada yang sia-sia meski hanya sedikit. Kau singgahkan hati yang sekejap untukku belajar mengerti. Dan kini Engkau menariknya. Aku tak meminta lebih pada-Mu. Hanya saja dekatkan dia padaku lagi jika memang dia jodohku. Tapi tolong hapus rasa cintaku jika Kau punya jodoh yang lebih baik untukku. Sepenuhnya aku percaya ada keajaiban setelah luka ini. Kirimkan seseorang yang tulus dan membimbingku untuk slalu mengucap syukur karna anugrahmu. Amin… “.

Segila itukah aku setiap malam mencurahkan isi hatiku melalui doa yang terselimuti tetesan air mata. Ku mengakui dosa-dosa yang harus aku tebus sekarang. Maaf yang selalu kulantun. Hingga pada malam itu, aku benar rendah, mencoba merangkak menyentuh cahaya-Mu sedikit saja dalam keringkihanku dan Engkau mengizinkan. Semua memori buruk muncul dalam renungan. Satu-satu film itu terputar, adegan buruk dan baik hingga sebuah perpisahan yang manis mulai ku sesali. Pertanyaanya hanya “ Mengapa ?”. Di situlah aku berada di persimpangan jalan. Mau bangkit ? atau menikmati rasa sakit yang terus menggerogoti batiku ? bisa disimpulkan bahwa semuanya tak kan sia-sia. Layaknya panglima perang yang mengambil keputusan meski salah dia tetap berwibawa dari pada tak sepatah katapun dia ucapkan. Di sinilah akhir dari kematianku.

Mata masih belum menunjukan tanda-tanda untuk terpejam. Entah mengapa udara dingin ini menyuruhku untuk tetap terjaga. Ku buka instagram yang lama tak ku sentuh. Niatku untuk membersihkan debu-debu yang menyelimutinya. Mataku tertuju pada satu nama lelaki yang mengatas namakan Pratama. Bukan nama yang asing karna aku ingat dia yang menggandeng tanganku malam itu di jantung kota Jember.

Hari-hari mulai berlalu, rasa sakit yang menggores hatiku, lambat laut tersamarkan karna kesibukan. Apa yang bisa aku lakukan selain mengambil semua kegiatan agar aku melupakan hal perih itu. Mungkin rasa rindu juga andil dalam emosiku kali ini. Rindu akan hangatnya mentari yang bersanding dengan sejuknya kabut pagi hari. Ah .. sruputan kopi buatan Emak akan selalu menjadi hal yang paling sopan ditenggorokan. Agar aku merasa dekat dengan tanah kelahiranku. Aku Bersama teman-teman mencoba membuat  sendratari Reog Ponorogo. Menurutku itu akan membuat batinku sangat tenang. Lagi pula tidak ada salahnya memperkenalkan tarian khas daerahku ke daerah lain. Jember pasti akan menerimanya karena dia sangat baik. Banyak adat, budaya, dan kesenian dari daerah lain yang bertanggar di sini. Maka dari itu dia mendapat nama Istimewa, Pandalungan.

Hari berganti hari bulan berganti bulan. Tiba saatnya latihan yang kami jajaki setiap minggu diuji. Yups, hari pementasan tiba. Aku berdiri melihat beberapa penari dan pengrawit sibuk menyiapkan diri. Rasa haru atas kerja keras selama ini akan membuahkan hasil. Dan yang paling aku syukuri, aku sudah berdamai dengan hatiku. Tidak ada rasa dendam yang menyelimuti pikiranku, serta tidak ada sesak yang menekan dadaku.

Tiba-tiba seorang laki-laki memotretku. Sontak aku terkejut, wajahnya tidak asing bagiku. Dia Pratama, laki-laki yang pernah menggandengku.

“Kenapa, Kau ini? Main potret tidak permisi.” , ujarku sedikit menggerutu.

“Maafkan aku, lensaku menemukan apa yang dia cari.Jadi, apa salahnya ?”, jawabnya seolah dia tidak ada rasa bersalah.

Entah terbuat dari apa hatinya. Sangat sulit memaklumi apa yang keluar dari mulutnya. Dia membuat suasana hatiku berantakan.Tapi, ya sudahlah. Hanya sekedar foto.

Tak terasa sejak saat itu, kami semakin sering bertukar cerita. Berawal dari Dm lalu berlanjut ke Wa. Ternyata kami sama-sama pendatang, Aku dari Ponorogo, sedangkan dia dari Lumajang. Aku sangat tertarik dengan kotanya. Ternyata, dibalik pasir yang mendominasi daerahnya, ada Jaran Kencak yang bahkan aku tidak pernah dengar sedikitpun. Ada Gunung yang berdiri gagah, menjadi benteng yang siap melindungi orang bernaung di bawahnya, Semeru. Kami mulai menemukan ritme yang cocok untuk pembicaraan kita. Mungkin nasib kita hampir sama, bisa jadi itu alasnnya.

Beberapa kali kita dipertemukan dalam berbagai acara. Drama, Tari-tarian, karawitan menjadi saksi kedekatan kami. Diskusi demi diskusi menjadi penghangat suasana yang dingin. Pandalungan juga tidak luput dari pembahasan kami. Dia laki-laki yang cerdas dengan banyak wawasan. Sepertinya rasa penasarannya membuat dirinya penuh dengan dunia.

Baiklah, mungkin aku mulai menyukainya. Kata orang jawa witing tresno jalaran soko kulino. Ku biarkan hatiku terpaut perlahan, mengalir dengan berbagai bumbu-bumbu cinta. Terbiasa karena kebiasaan kami bersama. Menikmati balutan seni disetiap percapakan. Entahlah, jika memang ini takdir, ku harap luka tidak akan pernah hadir. Jika ini jawaban dari setiap doa yang ku panjatkan, ku harap akan menjadi ketulusan yang tidak akan ada kebohongan di dalamnya.