Lompat ke isi

Nina Thunnini

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Salma hendak meninggalkan Nina sendirian

Premis

[sunting]

Sang ibu meminta Nina untuk tidak pergi keluar dan bermain terpisah dari kawanannya. Namun  Salma si ikan Salmon membujuk Tuna kecil itu untuk ikut bermain bersamanya dan bersenang-senang di lautan dangkal sehingga Nina mengalami hal yang tidak terduga.

Lakon

[sunting]
  1. Nina Thunnini (Si ikan Tuna)
  2. Nenna Thunnini (Ibu Nina)
  3. Salma (Si ikan Salmon)
  4. Nunu Thunnini (Paman Nina)

Lokasi

[sunting]

Perairan Wakatobi

Cerita Pendek

[sunting]

Membangkang

[sunting]

Dia adalah Nina Thunnini, teman-temannya biasa memanggilnya Nina. Dia adalah seekor Ikan Tuna yang keras kepala dan penuh rasa penasaran. Nina hidup bergerombol bersama Sang Ibu dan saudara-saudaranya di daerah perairan sedang dan cenderung menyukai suhu dingin. Jika pagi hari, mereka berenang bersama dan senang bermain-main. Tak jarang mereka melakukan balapan renang untuk menunjukkan bahwa mereka adalah perenang yang cepat dan tangguh. Nina memiliki Kawan baik bernama Salma, si ikan Salmon yang cantik dan cerdas akan tetapi dia licik.

Pagi itu, Nina mencoba meninggalkan Sang Ibu dan kawanan saudaranya untuk berkeliling sendiri. Namun ketika sedang asik berenang sendiri, tiba-tiba saja ia melihat ada sesuatu yang besar datang dari arah atas, benda itu runcing dan tajam.

“Benda apa itu?’’ Pikirnya.

Tak lama berselang benda besar lainyapun turun menghujam ke dasar laut yang tak terlalu dalam itu. Dua buah benda besar yang tajam kini bersarang dipasir-pasir laut yang seketika mengubah air laut menjadi keruh sehingga Nina kesulitan untuk melihat sekitar. Sesaat kemudian Nina mendengar sayup-sayup suara sang ibu dari kejauhan memanggil namanya,

“Nina… Nina…” teriak sang ibu dengan penuh rasa panik dan khawatir akan keselamatan puterinya itu. Sesaat dia menyadari bahwa ada sesuatu yang buruk akan terjadi. Tiba-tiba, sesuatu yang kencang menabrak Nina dari belakang.

“Boooommmm!!”

“Aaaaaa….” Jerit Nina ketakutan

“Aaaaaa….” Sahut jeritan lainnya dari arah belakang.

“Sal… Sal… Salma” Sebut Nina dengan perasaan lega.

“Nina... ternyata itu kau!!” Jawab Salma dengan riang.

“Wah, aku kaget sekali, aku pikir kau…..” Ucap Salma yang tak sempat menyelesaikan ucapannya karena tiba-tiba saja,

“Nina, di sini kamu rupanya, ayo pulang Nina, kenapa tadi kau pergi sendirian nak? Ibu kan sudah bilang, jangan memisahkan diri!! Ibu sangat mengkhawatirkanmu!!” Ucap Sang Ibu dengan penuh rasa khawatir terhadap Sang Buah Hati.

“Kalian tidak boleh bermain di sini, di sini sangat berbahaya!! Ayo semuanya pulang!!” Lanjut Sang Ibu seraya menarik sirip Nina dan Salma.

Setelah keadaan mulai membaik sang ibu dengan hangat dan penuh rasa sayang membelai Nina Sang Buah Hati.

“Berjanjilah kepada Ibu nak, jangan pernah kamu ulangi lagi hal seperti itu, Ibu sangat mencemaskanmu! Ibu tak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu, karena ibu sangat menyayangimu! Ingat itu nak!” Ucap Sang Ibu seraya memberikan nasehatnya.

“Iya bu, Nina minta maaf!” Jawab Tuna Kecil itu.

Melihat suasana seperti itu, timbullah rasa iri di dalam hati Salma yang merupakan seekor Salmon yang hanya hidup sebatang kara. Salma merasa mengapa hidup ini begitu tidak adil, tidak ada siapapun yang menyayangi dan mengkhawatirkan dia saat ini. Sehingga diam-diam timbullah niat jahat Salma terhadap sahabat baiknya Nina.

Sedih dan Menyesal

[sunting]

Kehangatan yang terjadi antara Nina dan Sang Ibu membuat Salma iri dan berinisiatif untuk mencelakakan sahabat karibnya itu di tengah kerasnya kehidupan laut di Lautan Wakatobi. Dengan kecerdasan yang Salma miliki, dia segera menyusun siasat agar Nina bisa tertangkap oleh nelayan dan tidak akan pernah bisa kembali lagi ke sini. Karena di perairan ini, banyak sekali nelayan yang memburu ikan Tuna seperti Nina.

Di suatu pagi yang cerah, Sang Ibu yang hendak mencari makanan berpamitan kepada Nina dan berpesan untuk tidak nakal dan jangan kemana-mana sampai ia kembali. Tetapi setelah sang ibu pergi, tak lama Salmapun datang dan mulai mengajak Nina untuk bermain dan menjauh dari kawanan saudara-saudaranya.

Di sini Salma yang begitu pandai merayu terus membujuk Nina agar mau ikut dengannya. Perlahan demi perlahan Ninapun mulai luluh dan tak lagi menghiraukan nasehat dari ibunya. Apalagi ia mendengar Salma bercerita sangat antusias akan keindahan tempat yang ingin ia kunjungi untuk bermain bersama, dan akhirnya semakin membara pula semangatnya untuk pergi.

Setelah mereka berdua pergi, di tengah perjalanan Nina berpapasan dengan pamannya dan beberapa saudaranya dan kemudian sang paman menyapa mereka,

‘’Kalian mau ke mana?’’ Tanya Sang Paman.

‘’Kami ingin berjalan-jalan sebentar.” Jawabnya singkat.

Salmapun bergumam dalam hatinya, akhirnya rencananya berhasil untuk membuat Nina tertarik dan pergi ke perairan yang lebih dangkal bersamanya. Ternyata sang paman yang merasa khawatir akan keselamatan mereka, diam-diam mengikuti mereka dari belakang.

Tak lama kemudian, akhirnya Nina dan Salma sampai di tempat tujuan,

“Lihatlah itu Nina, indah bukan?” Ucap Salma sesaat setelah mereka sampai di tempat yang Salma inginkan.

‘’Wah, kau benar Salma… Di sini begitu hangat dan indah’’ Sahut Nina.

“Aku tidak pernah menyadari bahwa air yang hangat itu sangat menyenangkan. Terima kasih ya Salma!” ucap Nina.

“Baiklah! Kalau begitu, bisakah kamu menunggu di sini sebentar? Aku ingin membawakan sesuatu yang istimewa untukmu!” Ucap Salma yang mulai melakukan aksinya dan hendak pergi meninggalkan Nina sendirian.

“Wah, benarkah? Apa itu Salma?” Tanya Nina.

“Ah sudah tunggu saja di sini, aku akan segera kembali!! Dadah!!” Ucap Salma seraya berlalu meninggalkan Nina sendirian.

Salmapun pergi dan bersembunyi untuk menyaksikan pemandangan sahabatnya Nina yang akan tertangkap nelayan yang sedang menjaring ikan-ikan di lautan.

Saat sedang bersantai dan melihat-lihat pemandangan sekitar, tiba-tiba Nina melihat segerobolan ikan berenang cepat kearahanya seraya berteriak

“Tolong… Tolong… Ayo kabur!!!”

Nina yang masih kaget dan terpaku belum menyadari bahaya besar sedang mengintainya. Sedangkan Salma yang mengintip di balik karang, tersenyum jahat melihat sahabatnya itu akan celaka.

Setelah beberapa saat, Nina merasakan arus laut semakin kencang. Dia sampai tidak bisa lagi menggerakan ekornya, dan tubuhnya seolah tertarik ke arah depan seperti tersedot. Ia akhirnya terombang-ambing oleh arus laut. Ia berusaha untuk mencari sesuatu yang bisa iya pegang agar bisa bertahan tetapi tidak berhasil. Dia pun tertubruk gerombolan ikan yang panik melarikan diri. Ditambah lagi badan ikan-ikan tersebut cukup besar dan Ninapun tidak mampu untuk bertahan. Dan akhirnya ia menyadari ternyata sebuah jarring besar sudah menganga di depannya dan hendak menariknya ke permukaan laut. Jaring mulai terangkat dan semua ikan merasakan sesak napas termasuk Nina. Ia semakin takut setelah melihat cahaya matahari yang begitu terik. Beruntung jaring ikan ini memiliki rongga yang cukup besar hingga ada sesuatu yang dapat menarik tubuh Nina yang tidak terlalu besar dan sudah hampir tak sadarkan diri untuk kembali ke laut. Nina pun berhasil ditarik kebawah namun akhirnya ia pingsan.

Tak lama Nina membuka matanya dan merasa ketakutan

“Di mana? Di mana aku?” Ucapnya..

“Nina… akhirnya kau sadar Nak, untunglah kau selamat keponakanku!” Ucap penyelamat tersebut yang merasa senang keponakanya dapat selamat. Ternyata dia adalah Nunu. Nunu adalah paman Nina.

“Paman.. Terima kasih Paman, kau sudah menyelamatkanku!” Ucap Nina dengan perasaan menyesal.

“Tidak apa-apa sayang, kalau begitu mari kita pulang karena di sini sangat berbahaya, keponakanku!” Ajak Sang Paman

“Ta… Tapi… Salma di mana paman?” Tanya Nina yang mengkhawatirkan sahabatnya itu.

“Dia.. Dia.. Tersangkut di jaring dan terbawa ke atas nak!” Jawab sang paman dengan rasa sedih.

“Benarkah?” Tanya Nina yang masih tidak percaya.

“Iya… Nak, sudahlah mari kita pulang sekarang, ibumu pasti mencemaskanmu!” Ucap Sang Paman seranya menarik sirip Nina

“Baiklah!” Jawab Nina dengan penuh kesedihan dan tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Nina pun merasa bersalah dan menyesal karena tak menuruti perintah dan nasehat Sang Ibu.

Ternyata pada saat itu Sang Paman yang akhirnya mengetahui rencana jahat dan licik Salma, diam-diam mendatangi Salma yang sedang bersembunyi dari arah belakang. Hal itu membuat Salma kaget dan tidak menyadari dia berenang naik ke atas dan akhirnya siripnya tersangkut di jaring dan tertarik ke permukaan laut. Sejak saat itu Salma tidak pernah kembali lagi kelautan.

TAMAT