Lompat ke isi

November di Bosporus

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Prolog

[sunting]
Selat Bosporus ketika pagi hari

Sebelum membaca fiksi berikut, kamu bisa sambil mendengarkan lagu Turki berjudul Fırtınadayım oleh Mabel Matiz. Jika belum paham artinya, tidak apa-apa. Kamu boleh sambil mendengarkan instrumennya saja. Tulisan ini ditulis dengan sederhana namun pengharapan tentang cinta dan kedamaian akan selalu luar biasa.

November di Bosporus

[sunting]

Permulaan dari sebuah pertemuan tidak pernah luput dari bagaimana cara kerja otak untuk mengingatnya. Terlebih dalam kamus kehidupan yang sering aku baca, rasa cinta kerap tumbuh di pertemuan pertama meski beberapa hanya menganggapnya sebuah gejolak biasa.

Aku masih menunggunya, bukan di pertemuan pertama seperti paragraf sebelumnya. Pertemuan kami terhitung yang ke lima di tahun ini. Sebuah trotoar yang tidak pernah sepi dari pejalan kaki, lengkap dengan ombak yang senang menciuminya, aku menunggu sosok itu. Tidak lain dan tidak bukan, itu sebab cinta. Lembaran demi lembaran karya sastra milik Jalaluddin Rumi rasanya belum cukup untuk menggambarkan betapa dalamnya palung rasa yang cukup gegabah kuberi nama "cinta" ini. Padahal jika dipikir-pikir lagi, hubungan kami justru lebih gampang untuk kusut lalu menjadi asing. Ya, secara logika hanya 50% untuk bisa bersatu dalam ikatan suci sementara kekuatan kami tidak juga mampu melengkapi sisanya.

Sebagaimana aku menikmati rumah keduaku di sini, negeri yang aku sebut sebagai surga hanya lantaran cahayanya terpantulkan oleh pria yang membersamaiku. Mungkin terlalu berlebihan tapi disinilah letak rasa syukurku pada Tuhan atas pertemuan dan kesempatannya.

Sebuah selat yang diberi nama Bosporus, tercipta sebagai selat sempit yang menjadi penghubung antara Laut Hitam dan Laut Marmara, begitu juga dengan benua Asia dan Eropa. Penguasaan dominasi politik dan ekonomi pun terjadi pada Kesultanan Utsmaniyah dalam penaklukan Konstantinopel (1453). Ini adalah sejarah Bosporus di pusat kota Istanbul, sementara aku dan dia terus berupaya merangkai kepingan puzzle demi memperkuat cinta, meski dimanapun kami berada, Tuhan selalu dekat dan memperhatikan.

"Jangan berhenti untuk mendoakan cinta kita," ucapnya saat senja menguning dan kami duduk di bangku panjang, masih di tepi Bosporus di pertemuan yang ketiga. Tatapannya tajam mengarah pada laut lepas, seperti hendak meminta keajaiban tangan Tuhan untuk memperjelas arah selanjutnya.

"Aku tidak pernah lupa." Tentu saja aku mengatakannya dengan jujur. Bagaimana tidak? Selepas sholat, sebelum berangkat kuliah, sebelum memasak roti untuk sarapan pagi, hatiku melirihkan banyak kalimat. Di dalamnya tidak lepas dari kata 'tunjukkanlah', 'mudahkanlah', 'lindungilah', yang terus bermuara pada satu nama. Aku memanggilnya, Ozman Halil. Pria asal Istanbul, seorang dosen yang diangkat tidak kurang dari setahun di kampusku. Pertemuan kami bisa dibilang unik, sebab itu dimulai dari kesalahanku mengambil buku Evrim Kuramı ve Bağnazlık (Teori Evolusi dan Fanatisme/Dogmatisme) karya Turhan Yörükhan di perpustakaan. Dia tidak tertawa, tapi membantuku lalu mengatakan, "baca dengan jeli seperti kamu membaca kehidupan."

Sejak saat itu, aku membaca kehidupan jauh lebih peka. Setiap gerakan tubuhnya, suaranya bahkan tatapan matanya yang tidak bisa aku terjemah secara sederhana seolah terus bermuara pada kata, "Sebelum Bosporus surut, aku harus bisa bersamamu."