Lompat ke isi

Nyali untuk Bertaut/Bayangan Darimu

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Matlap

[sunting]

Di akhir perjumpaanku dengan Nana, tentu membuatku bahagia. Apa lagi saat aku memberanikan untuk mendekatkan mulutku di telinganya. “Kamu cantik,” cetus keberanianku dengan berbisik lembut padanya. Sontak dia hanya diam melongo dan melamun. Pandangannya langsung tertuju tajam di bola mataku. Dia langsung menundukkan kepada sambil tersenyum malu, dia mencoba menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Namun sia-sia, senyumnya begitu lebar dan manis, tetap saja aku mengetahui senyumannya. “Ya sudah aku tinggal ya.” Tutupku sambil membalikkan badan secara perlahan. Aku berjalan meninggalkannya, sekitar lima langkah aku mencoba menoleh ke belakang, tampak dia melanjutkan langkahnya untuk pulang.

Kelakuanku seakan memanjakan perasaan hatiku. Namun laki-laki selalu tak pernah puas, ada saja tingkah untuk memenuhi kepuasannya, bahkan sebenarnya tak akan penuh sepenuh-penuhnya.

Aku semakin gila, karenanya. Semakin dekat dengannya, aku memutar terus ingatannya. Bagaimana bila benar dia menyukaiku? Atau bahkan bagaimana bila besok dia tidak datang? Tapi menurutku itu urusan besok pagi.

Malam ini tak terlalu panas untuk meminum kopi. Mungkin secangkir kopi dapat menenangkan pikiranku yang telah gila dibuatnya.

Aku pergi ke sebuah tempat di mana langkahku berjalan mengikuti isi hati. Namun malam minggu ini sangat ramai. Bahkan tempat duduknya pun sudah penuh. Menyebalkan! Aku rasa tak terlalu buruk setelah aku mendapatkan namanya. Mungkin tak masalah bila aku pulang lebih sore. Toh di sini dia juga tidak ada. Mungkin saja dia sekarang lagi menceritakan pada temannya tentang aku. Ah terlalu mengkhayal.

Tempat parkir yang penuh membuatku berhenti sejenak sekadar berpikir bagaimana mengeluarkan sepeda motorku. Memang tak terpikirkan terlalu jauh. Untuk memaksakan aku mengambilnya mungkin risikonya terlalu tinggi. Toh aku juga tak terlalu terburu-buru. Mungkin aku bisa menunggu tempat parkir lebih sepi sambil memesan kopi dan kunikmati di pinggir jalan.

Kakiku melangkah menuju warung yang tak terlalu ramai. Mungkin kopi susu cukup untuk menghangatkan, aku juga tak punya keinginan untuk begadang, karena besok pagi aku harus menemui sang bidadari yang telah membuatku semakin tergila-gila akan cinta pertama.

Aku duduk di perbatasan tempat parkir. Sambil meniup kopi yang masih panas, kutiup perlahan tampak menari-nari asapnya. Aku mulai menumpahkan kopiku di ujung bibir, belum saja meminumnya seseorang datang padaku. “Mas, mau mengambil sepeda,” ucap salah satu cewek dengan pakaian minim, gerakanku terhenti dengan tetap melihatnya. Ujung gelas kopiku masih saja aku angkat di depan dadaku. Dia memegang selembar uang dua ribu.

“Maaf Mbak, saya bukan tukang parkir,” cetusku sambil menundukkan dada, aku tersenyum sambil menahan tawaku. Aku memalingkan pandanganku ke samping sambil terus menahan tawaku. Aku melihat di belakangnya ada tukang penjaga parkir. “Itu Mbak yang penjaga parkirnya,” ucapku sambil terus melihat si tukang parkir, dengan menunjuk menggunakan daguku.

Wanita itu pun akhirnya menemui tukang parkir tersebut. Dan mataku tetap saja melihatnya. Dan ternyata sepeda motornya berada lebih dalam dari pada punyaku. Aku memperhatikan setiap derak-deriknya. Wajahnya tampak kesal. Dia dan temannya menghampiriku dengan wajah yang kesal.

“Permisi Mas, numpang duduk,” ucapnya sambil menaruh bokongnya sekitar satu meter dari tempat aku duduk.

“Nasib yang sama Mbak,” aku tersenyum menjawabnya, sambil meneruskan meminum kopi. Sambil menunggu sepi, minum kopi dulu Mbak,” lanjutku. Dia hanya membalas dengan melihatku sejenak sambil tersenyum. Wanita itu tak terlalu memerhatikanku.

Tak lama sekitar lima menit dia duduk, dia mulai mengobrol dengan temannya. Dan obrolannya pun juga dapat aku dengar, kudengar dia telah menggibah seseorang. Aku hanya menunduk sambil mendengarkan, senyumku sedikit aku pasang, dan memang kebiasaan wanita yang gemar menggibah.

Aku mulai curiga, apa mungkin si Nana pujaan hatiku juga menggibah?  Apa mungkin akulah yang menjadi korbannya?

***

Hari semakin malam, kopiku sudah habis, namun tempat parkirnya pun masih saja ramai walau tak sepenuh sebelumnya. Aku mulai berdiri bangkit dari tempat dudukku. Tanpa memerhatikan di wanita tadi, aku langsung mencoba mengeluarkan sedikit demi sedikit sepedaku.

“Pulang Mas?” wanita itu mencoba berbicara padaku. Aku yang sambil mengeluarkan sepeda motor, aku tersenyum membalasnya.

“Iya, cepat pulang, jangan menggibah terus,” jawabku dengan senyum yang masih menancap.

Lagi-lagi aku terlalu cepat meninggalkan wanita, tanpa sempat bertanya namanya. Namun itu juga tak terlalu penting bagiku selain mengetahui namanya Nana.

Di perjalanan pulang otakku seakan berebut pikiran, antara memikirkan Nana dan cewek tadi. Cewek tadi memang lebih cantik dari Nana, tapi aku juga tak terlalu mengenal cewek itu. Untuk bertemu dengannya kembali juga sangat sulit. Mungkin lebih baik aku fokus mengejar si Nana. Mungkin inilah sebuah ujian. Ketika mencari seseorang untuk kusukai, tak ada satu pun yang datang. Giliran datang satu, ada lagi yang lain. Tapi mungkin itu hanya mata keranjangku saja. Mereka berdua juga belum tentu suka padaku, atau mungkin hanya sekedar menghormati keramahanku.

Menjadi orang yang terlalu PD kadang menyiksa, suka berbicara sendiri, mengkhayal, mengandai, padahal semua itu juga tidak pasti, seakan meramal dalam mimpi dan angan-angan semata.

***

Jalan masih ramai, mungkin di wilayah perkampungan sudah mulai sepi. Aku melihat beberapa keramaian di pinggir jalan. Terlihat begitu banyak macam-macam accessories, kalung, cincin, gantolan kunci dan lain-lain terlihat pernak-perniknya di pajang pada sebuah cantolan.

Aku mulai tertarik, dan uangku mungkin masih cukup untuk membeli beberapa oleh-oleh. Mungkin kalo kembali besok, sudah tidak ada. Untung kalo barangnya masih lengkap.

Aku berhenti untuk melihat-lihat accessories tersebut. Begitu banyak yang menggoda diri untuk membelinya. Aku melihat sebuah kalung yang sederhana, terlihat kuat, dan sederhana. Mungkin harganya tak terlalu mahal. Terlebih ada yang sejenis, aku berpikir bisa membelikannya untuk Nana, tak peduli dia mau apa tidak.

“Cak, kalungnya berapa Cak?” panggilku pada penjual kalung tersebut.

“Beli satu harganya lima belas ribu, beli dua harganya dua puluh lima ribu,” jelasnya.

Aku mulai berpikir dan melihat dengan jeli, mungkin ada kecacatan pada barangnya. Setelah aku yakin, aku mencoba mengambil satu dan mencobanya. Aku tatap kaca yang telah disediakan. Tampak pantas sekali denganku, dan aku berharap Nana mau memakainya.

Aku membeli kedua kalung yang telah aku pilih dan segera kubayar. Sebelum beranjak pergi, aku mengenakan kedua kalung tersebut. Sedikit menoleh ke kaca, tanpa kusadari ada ibu-ibu di depanku yang lagi duduk menahan tawa karenaku yang lagi berkaca di spion sepeda motor.

Betapa malunya aku, sontak aku menghidupkan mesin sepeda motor dan meninggalkan tempat itu. Aku sedikit menahan tawa karena tingkahku hari ini. Di jalan aku ketawa-ketiwi bercermin pada sikapku hari ini. Entah jarah aku merasakan bahagia yang sederhana seperti hari ini.

Dalam keramaian kota aku mengeja namamu, sesekali aku ucapkan rasaku dalam diamku, memang aku masih belum berani menamparmu dengan perasaanku, karena kutahu ini terlalu cepat, dan bisa sangat mudah aku kehilangan dirimu. Kamu yang aku dambakan, kurasakan rasa cinta ini secara berkala. Teringat gelak tawamu yang mengalahkan jingga di sore hati. Terbenam meninggalkan siang, berganti malam, hadir sang rembulan yang tetap kalah dibanding cantiknya parasmu.