Nyali untuk Bertaut/Bencana Akbar-Matlap
Di sekian lama aku membuka hati, dan tak ada orang yang bertamu, sampai waktu menjawabnya, tamu yang penuh misteri, dalam keadaan penasaran, sampai membuatku gila perihal cinta pertama.
Di SMP Kencana, Wonokromo, Surabaya, aku, Mamat, dan Munir udah terkenal seantero sekolah. Tapi jangan salah, bukan karena pinter atau juara kelas, tapi karena keahlian kami yang unik… yaitu selalu terlambat masuk sekolah karena menonton live score bola yang real time. Iya, spesialis terlambat. Sampai-sampai guru-guru kalau liat muka kami tuh udah kayak, “Oh, ini lagi, ini lagi, pasti kamu habis menonton live score lagi kan? ujarnya”.
Hukuman? Wah, udah hafal luar kepala. Mulai dari hormat di depan tiang bendera kayak patung pancasila hidup, bersihin WC sampe mencium bau karbol kayak parfum, bahkan pernah disuruh masuk ke semua kelas satu-satu, sambil ngomong,
“Jangan telat ya, teman-teman, nanti nasibmu kayak kami….”
Sumpah, itu momen paling bikin malu, apalagi waktu masuk ke kelas gebetan, rasanya pingin amnesia permanen.
Kalau telat cuma beberapa menit sih wajar lah ya. Tapi pernah lho, gara-gara Munir masuk WC. Kita nungguin dia kelamaan, eh ternyata si bangsat malah ketiduran di dalam kamar mandi. Bisa kebayang kan? Lagi khusyuk, eh… “krak” pintu dibuka, dan kita menemukan dia mangap sambil menyender ke tembok. Kalo nggak inget dia temen, udah kita tinggalin itu orang.
Siang itu cuacanya nggak panas-panas amat, nggak juga mendung. Standar lah. Tapi kan Surabaya, bro. Kalau udah panas, tuh rasanya kayak hidup di gurun Sahara, tinggal nunggu unta lewat aja. Untung hari itu agak adem, jadinya vibes kayak padang rumput, meski rumputnya imajiner.
“Tlap! Jadwal hari ini ke mana?” tanya Mamat, pas aku lagi beresin buku yang lebih banyak coretan gambar Naruto dibanding catatan pelajaran.
Aku nyeletuk, “Aku ke seberang dulu, beli cilok. Tunggu di parkiran ya.”
Langsung lari, biar mereka nggak rewel.
Dari belakang, Munir teriak, “Si Matlap cilok mulu! Beliin woy!”
Disusul Mamat, “Aku juga!”
Aku nengok sebentar sambil ngakak, “Tuku’o dewe! (Beli sendiri!)” tanganku kulambaikan kayak orang naik kapal mau berlayar ke negeri seberang.
Sampai di luar, aku ngos-ngosan. Tarik napas panjang, jantung udah kayak drum band. Keringet netes kayak keran bocor. Untung ada angin sepoi-sepoi lewat, berasa AC alami. Aku nunduk, tangan nahan lutut, muka kusut kayak sandal jepit abis keinjek truk.
Dari gerbang, aku melihat cewek dengan rambut lurusnya. Alisnya sedikit mengerut seperti kecemasan. Dia juga hendak menyeberang, berdiri di persimpangan jalan.
Aku mulai mendekatinya. Dari langkahku yang perlahan, sambil mengatur napasku setelah berlari. Dari jarak satu meter ketika aku menjumpainya, dia segera menyeberang. Aku menoleh ke arah kanan, truk dengan kencangnya melaju dengan cepat. Sekitar jarak satu langkah dengan badan truk yang melaju.
tiiiiiiin…tiiiiiiiin…
“Setor nyowo ojo ning kene Blog!!!” Klakson truk berbunyi dengan keras disahut umpatan dari sopir truk.
Aku melompat, meraih tangannya, lalu menarik sekuat tenaga. Jantungku berdegup kencang, mataku dan matanya sama-sama membelalak.
“Auu… sakit tahu!!” teriaknya kencang. Rupanya aku menarik terlalu kuat sampai tangannya memar.
“Kamu sadar nggak barusan hampir mati?!” suaraku meninggi, mataku masih melotot ke arahnya. Tangannya masih kugenggam erat, mungkin terlalu erat.
“Sakitnya tanganmu nggak ada apa-apanya dibanding nyawamu yang hampir melayang!” tambahku lagi, agak kasar. Dia menunduk, wajahnya meringis menahan sakit. Aku baru sadar genggamanku terlalu kuat, lalu perlahan kulepaskan.
Aku mengajaknya duduk di kursi depan sekolah, tepat di bawah pohon besar yang membuat suasana teduh. Setelah itu aku benar-benar melepas tangannya.
“Maaf… aku sampai bikin kamu sakit,” ucapku, duduk di sampingnya, menjaga jarak sekitar tiga jengkal. Dia tak menjawab, hanya menunduk dan memijat pelan tangannya. Aku membuka tas, mengeluarkan botol minum yang masih penuh.
“Nih, minum dulu biar agak tenang.” Botol itu kuulurkan padanya. Dia hanya menggeleng pelan, menolak.
“Keadaanmu kayak gini masih bisa nolak? Udah, ambil aja!!” suaraku meninggi lagi.
Akhirnya ia menerima dengan satu tangan. Tangannya bergetar menahan sakit. Aku membantu menegakkan botol agar dia bisa minum lebih mudah. Ia meneguk banyak sekali, sampai tampak kelelahan. Botol itu lalu kutaruh di tanah, di antara aku dan dia.
“Terima kasih, Mas…” suaranya lirih sekali.
Aku refleks ingin meraih tangannya, berniat membantu memijat. Tapi dia malah menjerit kecil. “Ahh… loro, Mas! Eh, maaf Mas…” katanya cepat-cepat. Aku hanya bisa pasang wajah datar lalu terkekeh, cengengesan malu sendiri.
Beberapa menit berlalu tanpa kata. Tiba-tiba aku baru ingat, Mamat dan Munir masih menungguku di parkiran.
“Ya ampun, aku lupa!” Aku menepuk dahiku, berdiri, lalu buru-buru lari meninggalkannya.
Di parkiran, Mamat sudah manyun di motor. “Dari mana aja sih, Tlap? Lama banget, sampai berlumut nungguin!” gerutunya.
Aku hanya mengalihkan perhatian. “Udah, ayo cabut!!” sahutku cepat-cepat sambil menyalakan motor. Dalam hati sebenarnya aku terburu-buru bukan buat jalan-jalan, tapi karena botol minumku ketinggalan.
Sepeda motorku melaju kencang keluar sekolah. Bodohnya aku, meninggalkannya begitu saja tanpa tahu namanya. Sampai di depan gerbang sekolah, aku sempat berhenti, menoleh ke kanan dan kiri. Dia sudah tak ada.
Cemas rasanya. Aku berharap bisa ketemu lagi. Bukan karena aku langsung jatuh hati… tapi karena botol itu milik ibuku. Kalau hilang, bisa-bisa aku dimarahi habis-habisan.
***
Awan kayaknya kompak banget sama matahari, mereka sengaja bikin aku jadi sate berjalan. Panasnya udah bukan main, rasanya kayak lagi audisi jadi ayam panggang di Mali atau Afrika sana. Surabaya? Jangan ditanya, macetnya udah kayak lomba siapa yang paling sabar. Aku ngayuh sepeda sambil ngebatin, "Ya Allah, kalau boleh request, kasih aku AC portable yang bisa digantung di kepala."
Sambil nggowes, pikiranku bukannya adem malah keinget botol ibuku. Itu botol udah kayak pusaka. Bayangin aja, saking panasnya, aku sampe ngebayangin minum dari botol itu dengan brutal, kayak orang lomba minum es teh di pasar malam. Airnya tumpah ke wajah, ke baju, ke jalan, bodo amat, yang penting masuk dulu tenggorokan.
Sampai di Taman Bungkul, mulutku mendadak mode silent. Biasanya cerewet kayak komentator bola, kali ini cuma bisa manyun.
“Tlap, tumben diam? Eh, mana ciloknya?!” tanya Mamat, wajahnya penuh harap kayak nunggu THR.
“Aku kan udah bilang, beli sendiri! Mintanya ribet lagi, cilok tanpa kacang, kuah dua sendok, sausnya jangan belepotan… lah aku bukan chef restoran bintang lima!” jawabku ketus, sambil nahan emosi karena panas.
Munir buru-buru potong, “Udahlah bro, ayo makan aja. Nanti ciloknya kita doain biar halal.”
Kami bertiga akhirnya masuk warung, dan jujur perutku udah bunyi kayak speaker rusak. Pas makanan datang, aku mangap kayak naga kelaparan. Tapi sebelum sesuap nasi masuk, aku nyeletuk lirih, “Bro… aku kena musibah besar.”
Seketika dua pasang mata langsung menatapku kayak sinetron jam tujuh. “Apaan lagi?”
“Botol ibuku hilang…” jawabku dramatis.
“APAAAA?!” Mamat sampe hampir keselek kuah baksonya. “Ini darurat, bro! Evakuasi segera!”
Munir juga ikut panik, padahal mulutnya masih penuh nasi. “Botol apa dulu nih? Jangan-jangan botol kecap?”
“Botol ibuku lah! Botol pusaka! Dulu pernah hilang dua bulan lalu, aku sampai nggak boleh pulang tiga hari! Tiga hari bro, kayak gelandangan tapi versi sekolah!”
Teman-temanku mendadak serius, ekspresi mereka kayak pasukan khusus siap operasi militer. Padahal yang dicari cuma botol. Tapi aku paham, ini bukan botol sembarangan. Kalau ketahuan lagi ilang, ibuku bisa lebih galak daripada Thanos habis kehabisan batu infinity.
Aku cerita detail tragedi botol dua bulan lalu: gimana botol itu ditemukan di lemari kelas, gimana guruku buka lemari lalu botol nyelip manis di sana kayak habis liburan. Sampai sekarang pelakunya misterius. Kalau ketahuan, sumpah, aku nggak segan hajar lehernya… pakai botol cadangan.
Kami nongkrong sampai sore, padahal hati kecilku udah pengen pulang, tapi jujur… aku takut. Takut ketemu ibuku yang bisa lebih serem dari guru killer pas ulangan mendadak. Jam dua siang aku berdiri, badan kugerak-gerakin kayak orang senam lantai biar aliran darah nggak mampet. Taman Bungkul mulai rame, maklum malam minggu. Anak-anak nongkrong makin banyak, suasana makin hidup. Sayangnya, traumaku ke ibu tetap nggak hidup-hidup, tetep aja bikin ciut mental.
Semakin sore, jalan raya makin padat. Aku melangkah cepat, kayak dikejar setan padahal cuma dikejar bayangan botol ibuku yang hilang. Seragamku udah basah kuyup, lengket, baunya mungkin udah setara adonan tahu busuk. Aku pengen banget cepat sampai rumah, mandi, terus pura-pura tidur biar nggak kena interogasi. Rumahku di Wonokromo, jadi nggak jauh-jauh amat, tapi tetep aja perjalanan terasa kayak jalan kaki dari Surabaya ke Banyuwangi.
Aku baru umur 13 tahun, masih bocah, tinggal bareng bapak sama ibuku. Kakek nenek udah nggak ada, rumah di Surabaya ini peninggalan keluarga ibu. Ibu asli Surabaya, sedangkan bapak orang Banyuwangi. Tapi ya jelas, ibu nggak mau diajak pindah ke Banyuwangi. Katanya, “Aku lebih milih macet Surabaya daripada sepi di Banyuwangi.” Intinya, rumah Surabaya harus ada yang nempatin, alias bapak cuma bisa pasrah ikut ibu.
Begitu sampai depan rumah, mentalku langsung down kayak baterai HP tinggal 1%. Aku tarik napas panjang, siap-siap masuk rumah kayak gladi resik mau ujian praktek. Aku masuk pelan, ngintip, ternyata ibu lagi fokus nonton bola. Untungnya hari itu Persebaya main, jadi ibu berubah jadi komentator dadakan. Sumpah, suaranya kayak live di stadion Gelora Bung Tomo.
“Woi… woi… oper! GOOOLLL!!!” teriaknya, sambil nepok-nepok paha kayak wasit yang lagi kasih kartu merah.
Aku cuma bisa ngangguk pelan, lalu jalan merunduk kayak maling masuk rumah sendiri. Ini kesempatanku kabur langsung ke kamar. Karena sekali ibu sadar aku nongol tanpa botol keramatnya… tamatlah riwayatku.
“Botol aman Tlap?” Aku kira ibuku akan tetap fokus menonton bola, langkahku terdiam dan dengan terbata-bata kukatakan “a-aman bu”. Ibuku masih belum curiga, Senin harus kucari cewek itu, sampai ketemu! Niat nolongin orang, eh malah kena musibah…