Nyali untuk Bertaut/Berlian
Aku tak pernah sehampa ini sebelumnya, seakan kehilangan orang yang sangat berarti bagiku. Sampai pada akhirnya kamu hadir kembali walau kehadiranmu hanya sementara, setidaknya aku mengerti kabarmu saat ini.
Hidup menyendiri itu kadang kayak nonton film drama Korea sendirian di kamar, penuh renungan, penuh tangisan, dan penuh cemilan yang habis tanpa sadar. Teman-teman satu per satu lenyap ditelan waktu, ada yang sibuk kerja, ada yang sibuk pacaran, ada juga yang sibuk pamer anaknya di status WA. Aku? Masih sibuk nge-like postingan kucing lucu.
Lebaran pun datang. Rumah orang lain rame kayak pasar malam, rumahku? Sepi kayak kuburan jam dua pagi. Cuma ada beberapa tetangga yang mampir, itupun lebih ke formalitas, sekadar biar nggak dibilang sombong.
Aku lagi asik curhat ke buku diaryku, tiba-tiba ada tamu yang tak kuduga-duga. Setelah sekian bulan menghilang tanpa kabar, tanpa candaan receh, tanpa gombalan ala-ala sinetron, muncullah dia. Pitaloka.
Doi datang dengan penampilan beda, makin dewasa, makin anggun. Aku yang liat cuma bisa bilang dalam hati, “Wah, ini mah bukan Pitaloka yang dulu, ini kayak versi upgrade, kayak aplikasi yang udah update terbaru.” Aku coba tetap biasa aja, meski dalam hati udah kayak dangdutan. Yang bikin agak getir, aku tahu dia sudah punya suami.
Aku sambut dengan senyum kaku, senyum yang kayak kalau lagi foto KTP, tapi ternyata malah bikin mataku basah. Aku ucapkan selamat atas pernikahannya, dia cuma jawab seperlunya. Nggak panjang, nggak lebar, singkat padat jelas. Aku pun ke dapur, sok-sokan mau bikinin minuman.
Di dapur, aku malah flashback. Ingat masa-masa dulu, dari pertama kenal sampai pernah cinta dalam diam. Rasanya kayak nonton film lama, tapi player-nya error, jadi adegan sedihnya diputer terus. Aku akhirnya duduk di lantai, nangis, sampe suara isakanku lebih keras daripada suara teko mendidih.
Setelah reda, aku cuci muka, siap-siap balik ke ruang tamu. Tapi tiba-tiba aku inget sesuatu yang bikin jantungku hampir copot: diaryku! Itu lho, yang judulnya norak abis, Ikrar dari Pujaan Hati. Diary itu ketinggalan di meja. Dan curigaanku terbukti, Pitaloka lagi asik baca sambil netesin air mata.
Astaga naga, malunya bukan main. Rasanya kayak ketahuan chat ke mantan jam dua pagi, terus nggak sengaja ke-post di status.
Aku keluar dengan muka udah agak berantakan, dan Pitaloka langsung liat aku. Dia nangis, terus kabur gitu aja. Nggak ada “dadah”, nggak ada “bye”, apalagi “sampai jumpa”. Lari secepat kilat, kayak lagi dikejar emak bawa sapu lidi.
Aku bengong, pusing, lalu nangis lagi. Udah kayak keran bocor.
Sejak hari itu, Pitaloka nggak pernah balik lagi. Nggak ada kabar, nggak ada SMS, apalagi mention di Twitter. Aku nggak ngerti salahku apa, tapi aku sadar aku memang nggak berhak ngejar.
Delapan tahun berlalu. Kadang aku lihat dia di luar bareng suami dan anaknya. Mereka tampak bahagia, kayak keluarga di iklan susu. Kadang dia nyenggol pandangan ke arahku sebentar, tapi nggak ada senyum, nggak ada sapa. Seolah-olah kita ini dua orang asing yang nggak pernah kenal.
Aku cuma bisa bersyukur, setidaknya dia bahagia. Sedangkan aku? Umur udah 40 tahun, masih hidup sendiri, masih suka overthinking. Hidup menyendiri tuh bukannya tenang, malah kayak main game level tersulit tanpa cheat.
Pernah aku hampir menyerah, tapi aku mikir, “Kalau menyerah, trus aku mau ngapain? Jadi bahan gosip tetangga?”
Aku coba cari jodoh, tapi nggak ada yang cocok. Temen-temen bilang, “Nikah aja dulu, cinta mah bisa nyusul.” Lah, aku mikir, nikah itu bukan kaya COD barang online. Masa iya salah kirim masih bisa diretur?
“Jodoh itu kayak sinyal wifi, kadang ada kadang hilang, kadang kuat kadang lemah, tapi yang jelas, jangan sampai salah sambung ke tetangga.”
Dari tahun-tahun yang kulalui dengan melihat Pitaloka tanpa sengaja, aku selalu melihat dia bersama suami dan anaknya. Tapi belakangan ini, ada yang aneh. Suaminya nggak pernah kelihatan lagi. Entah ke mana, entah lagi main petak umpet yang nggak selesai-selesai, yang jelas sekarang aku lebih sering melihat Pitaloka hanya jalan berdua sama anaknya.
Setiap minggu pagi, aku hampir selalu nongkrong di alun-alun kota. Alasannya? Ya, biar sehat sih... tapi jujur aja, lebih banyak duduk sambil ngemil cilok daripada olahraga. Di situlah aku sering lihat Pitaloka dan anaknya. Mereka berlari kecil, kadang main bola, kadang cuma jalan santai, sementara aku pura-pura stretching padahal sebenarnya lagi mantengin jualan es dawet.
Lucunya, aku merasa Pitaloka juga suka nyuri-nyuri pandang. Sumpah, kayak sinetron. Aku pura-pura nggak lihat, padahal jelas-jelas aku tahu dia ngelirik. Ya, walau bisa jadi sebenarnya dia ngelirik bukan ke aku, tapi ke tukang tahu bulat yang lewat.
Nah, suatu minggu pagi, aku lagi ngantri batagor. Antreannya panjang banget, rasanya kayak mau daftar CPNS. Lagi bete nunggu, aku nggak sengaja lihat Pitaloka dan anaknya dari kejauhan. Anaknya heboh nunjuk ke arah penjual batagor. Pitaloka kelihatan serba salah, karena begitu matanya ketemu mataku, ekspresinya kayak ketahuan nyontek pas ujian.
Akhirnya, dia ikut antre tepat di belakangku. Bayangin, aku sama dia antre batagor barengan, situasinya udah kayak adegan FTV tapi versi low budget. Dia nunduk terus, nggak ngomong apa-apa. Aku jadi bingung harus mulai dengan kalimat apa. Mau bilang “hai” rasanya kaku, mau bilang “kamu sehat?” terlalu formal, akhirnya aku cuma bilang, “panas ya?”... padahal kita berdiri di bawah pohon rindang.
Sampai tiba giliranku, aku dengan sok gentle mempersilakan Pitaloka dilayani duluan. “Mbak, ini yang belakang saya dulu aja ya, sekalian saya bayarin,” kataku sok kalem. Dalam hati? Deg-degan kayak lagi mau melamar kerja.
Setelah itu, dia sempat menghampiri dan bilang terima kasih. Lalu, dengan wajah agak kaku, dia minta maaf atas kejadian dulu waktu pernah ke rumahku. Aku cuma bisa senyum-senyum konyol, sambil mikir, “wah, ini kesempatan ngobrol setelah sekian lama.”
Kami pun duduk bareng di bangku taman sambil makan batagor. Aku sok-sokan nanya kabar, sampai akhirnya dia cerita bahwa dia sudah bercerai. Kaget? Jelas. Aku sampai salah gigit cabe rawit. Jadi selama ini kebersamaan yang sering kulihat dulu, ternyata nggak bertahan lama.
Obrolan kami ngalir, walau topiknya receh banget. Dari ngomongin harga cabai, sampai debat kecil soal kuaci lebih enak rasa original atau rasa jagung manis. Aku, dengan niat bercanda, akhirnya bilang, “nggak ada rencana main ke rumahku? Makan kuaci bareng gitu.”
Eh ternyata dia malah ketawa, dan… nerima tawaran itu! Aku kaget campur senang. Jadi kami pun pulang bareng ke rumahku. Rasanya absurd. Setelah bertahun-tahun nggak ngobrol, tiba-tiba kami bisa duduk lagi di ruang tamu, ngobrol ngalor-ngidul kayak jaman muda dulu. Bedanya, sekarang umur udah 48 tahun, jadi kalau ketawa kebanyakan bisa langsung pegel pinggang.
Hari-hari setelah itu, kami sering jalan bareng. Kadang ke pasar malam, kadang sekadar duduk di warung kopi sambil nyemil pisang goreng. Banyak orang ngira kami pasangan suami istri, padahal aslinya cuma sahabat lama yang lagi reunian. Ya sudahlah, biar aja mereka kira begitu, toh yang penting kami senang.
Kami juga sempat liburan bareng, meski liburannya nggak mewah. Naik odong-odong keliling alun-alun aja udah bikin ngakak setengah mati. Aku bahagia, karena ternyata hari tua nggak sesuram yang kubayangkan. Ada Pitaloka yang datang lagi, walau dengan sikap lebih dewasa, tapi tetap bisa bikin aku merasa muda lagi.
Hidupku yang tadinya terasa sepi, sekarang malah sering penuh tawa receh. Dan jujur aja, aku nggak nyangka, ternyata di umur hampir setengah abad, aku masih bisa ngerasain vibe kayak anak SMA yang baru PDKT.