Nyali untuk Bertaut/Bunga Matahari
Tak peduli waktu, umur, suasana, tempat, fisik, kenangan, masa lalu, cinta tak bisa terkendalikan kecuali hati yang teguh mampu mengendalikannya. Tujuan dengan menatap tajam sang surya kini kembali menemukan paginya, terus menatap hingga senja hari, akan tetap menatap tujuannya walau masa kelam dilalui, namun akan tetap mempunyai keyakinan, akan ada pagi yang menjadi tujuan hidup berikutnya.
Pitaloka tak perlu ada janji untuk ke rumahku, hampir setiap sore dia mampir ke rumah, seperti anak kecil yang tidak bisa jauh dari mainan favoritnya. Bedanya, mainan ini bernapas dan bisa ngopi bareng. Umurku yang sudah 50 tahun rasanya seperti jam pasir yang pasirnya tinggal setengah sendok lagi. Aku sudah tidak muluk-muluk soal hidup, paling banter mikirin “habis ini makan apa” atau “kenapa uban di kumis makin cepat tumbuh.” Tapi entah kenapa, Pitaloka membuat sisa umurku terasa sedikit lebih bergairah, walau tanpa keturunan, walau hati ini sudah keras bagai kerupuk tengik, tetap saja dia bisa bikin aku meleleh.
“Kamu ingat kata-katamu bunga matahari waktu kita remaja? Andai kita adalah bunganya, aku ingin kita setia pada satu tujuan, seperti bunga matahari yang setia menghadap ke matahari. Kita menyatu dalam bunga, sebagaimana aku mahkotanya, dan kamu kuacinya.” ucapku dengan penuh gaya sok puitis.
Pitaloka langsung nyengir, lalu menepuk jidatku, “Ya ampun, kamu kok masih ingat sih? Dulu kan aku asal ngomong, soalnya lagi sok-sokan romantis biar keliatan puitis.”
Aku ngakak, “Hahaha, iya, tapi lihat, omongan recehmu itu sudah kumuseumkan di diaryku. Kalau dibuka sekarang, mungkin sudah penuh rayap, tapi tetap aku simpan, bayangin betapa cintanya aku sama kamu.”
Dia pura-pura jijik, “Diary umur 17 masih kamu simpan? Jangan-jangan isinya bukan cuma kata-kata aku, tapi juga stiker Doraemon dan coretan gambar love-love.”
Aku tambah ngakak, “Hahaha, iya, ada gambarmu juga, tapi mohon maaf, gambarnya lebih mirip pocong pakai pita. Aku dulu nggak jago gambar, yang penting niatnya.”
Kami berdua tertawa, sampai tetangga depan rumah yang lagi nyapu melongok sambil nyinyir, mungkin berpikir “dua orang tua ini kenapa masih kayak ABG baru pacaran.”
“Bunga matahari hanya setia sampai waktu senja, kemudian menghilang, seperti kamu yang tiba-tiba hilang bertahun-tahun, hahaha,” candaku lagi sambil menepuk pahanya sendiri karena saking lucunya menurut versiku.
Pitaloka tersenyum, lalu menatapku agak lama. “Namun bunga matahari akan kembali setia di fajar hari setelah melalui malam kelam.” Kalimatnya dalam, bikin aku sedikit kaget, soalnya kupikir dia bakal jawab dengan jokes receh, ternyata malah masuk mode drama Korea.
Aku langsung terdiam, mencoba tampak serius. “Jadi? Akankah kita masih bisa bersama?” tanyaku sambil berhenti mengupas kulit kuaci.
Dia menatapku serius, “Yakin?”
Aku ingin bilang, “nggak yakin,” biar lucu, tapi matanya bikin aku nggak tega. Jadi aku cuma ngangguk, walau dalam hati masih mikir: “Yakin sih yakin, tapi urusannya biaya nikah ini siapa yang nanggung?”
Akhirnya aku berdiri dengan gaya heroik, mirip pahlawan sinetron. “Besok pagi berpakaian cantik ya, datang ke sini, besok mau aku ajak.”
Pitaloka melongo, “Mau ke mana?”
Aku menepuk dadaku, “Kita urus pernikahan kita.”
Dia kaget, “Serius?!”
Aku tersenyum lebar, “Serius banget. Kalau bisa, besok kita langsung bikin foto prewed di depan tukang bakso. Jadi ada memori, kalau orang lain foto romantis di pantai, kita cukup di mangkok bakso.”
Pitaloka menutup wajahnya dengan tangan, antara malu dan ngakak, “Ya Tuhan, aku nggak nyesel sih ketemu kamu lagi, tapi sumpah, kamu ini nggak ada romantis-romantisnya. Prewed di depan tukang bakso, serius banget?”
Aku nyengir, “Kenapa nggak? Kan aku bisa jadi baksonya, kamu jadi kuahnya, kita bersatu dalam mangkok kehidupan.”
Dia langsung lempar bantal ke arahku, “Dasar kocak, sumpah aku nyesel ketemu kamu lagi, tapi nyesel yang bahagia.”
Kami tertawa bersama, sampai perutku kram. Dan di antara tawa itu, aku sadar, hidup memang nggak perlu rumit. Kadang, kebahagiaan itu sederhana, cukup duduk bersama orang yang kita sayang, sambil ngobrol receh dan makan kuaci sampai habis.
Begitulah akhirnya. Tidak ada janji muluk-muluk, tidak ada drama berlebihan, hanya dua orang tua yang masih bisa jatuh cinta dengan cara paling konyol. Kalau besok benar kami menikah, maka mungkin itu adalah pernikahan paling receh tapi paling bahagia di dunia.