Lompat ke isi

Nyali untuk Bertaut/Keterlambatan

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Haruskah aku mencintai seseorang dengan hati yang berbeda? Sikap yang berbeda? Namun dengan paras yang sama. Entah mengapa aku terlalu yakin dengan hati dari pada mulutnya dan telingaku. Aku masih tidak percaya tentang ucapan dukamu.

Aku melihat wanita itu keluar dengan mata redup, wajah pucat, dan tampak histeris begitu melihatku berdiri di depan kamarnya. Dalam hati aku langsung nyeletuk, “Yesss! Bener dia, target ditemukan. Detektif Conan kalah nih sama aku.”

Begitu matanya melotot, dia langsung lari terbirit-birit kayak habis lihat tagihan listrik, buru-buru masuk ke dalam lift. Refleks aku ngejar, lari gaya anime Naruto sambil teriak,

“Tunggu!!! Aku cuma mau ngomong, bukan mau nagih utang!”

Pas pintu lift hampir nutup, aku berhasil nyelip masuk. Sekarang, cuma aku dan dia. Situasinya kayak sinetron jam tujuh, bedanya aku nggak pakai efek slow motion.

Aku ngelirik dia yang lagi sesenggukan.

“Kamu kenapa nangis?” tanyaku dengan dahi berkerut.

Dalam hati sebenarnya pengen bilang, “Tolong jangan jawab karena nonton drakor ending-nya sedih, plis.”

“Ayo ke lobi, cerita. Aku janji nggak macem-macem. Aku orang baik-baik kok, paling nakal cuma colong sandal tetangga waktu kecil,” kataku meyakinkan.

Dia akhirnya nurut, angguk-angguk pelan. Kami duduk di sofa lobi, aku nunggu dia tenang.

“Kamu kenapa nangis?” ulangku (ini udah kayak kaset rusak).

Dia cuma geleng kepala, wajahnya terus nunduk, kayak mikirin utang KPR.

Terus dia tiba-tiba nyeletuk,

“Tadi katanya mau ngomong, mau ngomong apa?”

Tanpa basa-basi aku nembak,

“Kamu Nana Juminah, kan?”

Dia mendongak, terus bilang,

“Aku Nini, adiknya Mbak Nana…”

Aku langsung bengong. Hah? Plot twist? Aku sampe refleks cek HP, takut salah alamat hotel. Aku kira cuma di sinetron ada saudara kembar misterius, ternyata real life juga ada.

Nini cerita panjang lebar. Wajahnya masih sendu, bikin aku makin kepo kenapa tadi nangis. Aku tanya sampai tiga kali kayak dosen nanyain skripsi, tapi jawaban akhirnya bikin aku kayak disetrum PLN:

“Mbak Nana sudah meninggal…”

Aku langsung lemes, tersandar di sofa. Rasanya kayak abis push rank 5 jam, terus kalah gara-gara sinyal.

Sambil nahan air mata, aku cerita kalau aku ini pacarnya Nana, yang lama banget nggak ada kabar. Aku jelasin semua kenangan, sampai Nini bilang,

“Mbak Nana sering cerita tentang Mas…”

Di situ aku makin nggak kuat. Tangis ku pecah, aku nutup mulut pakai tangan biar nggak keluar suara jelek, soalnya kalau nangis aku biasanya bunyinya kayak ayam jago serak.

Obrolan makin panjang sampai larut malam. Akhirnya aku bilang,

“Kalau boleh, besok kita ketemu lagi. Jalan bareng. Itu pun kalau kamu belum ada cowok…”

Nini sempet diem, lalu jawab,

“Oke, besok siang jemput aku di kamar C-027.”

Aku pulang ke kamar, tapi nggak bisa tidur. Bukan karena kasur hotel keras, tapi karena masih kaget Nana sudah nggak ada. Aku peluk kalung berpasangan yang dulu kupunya sama dia, sambil mikir, “Nini beneran adiknya, atau jangan-jangan ini prank YouTube?”

Akhirnya aku buka diary, nulis dengan gaya ala-ala penyair galau:

Surabaya semua sudah berubah
[sunting]
Dua puluh tahun meninggalkan Juminah
[sunting]
Kucium dulu kucintai
[sunting]
Kau di mana aku kembali
[sunting]
Wonokromo sudah tak punya tetangga
[sunting]
Stasiun semut sudah hancur badan ini
[sunting]
Di Tunjungan macet tak terhingga
[sunting]
Stasiun Gubeng sehari sudah pusing
[sunting]
Di Ondomohen ingat jaman dahulu
[sunting]
Tuju Pahlawan aku rebahan
[sunting]
Perak Bubutan mengeluhkanmu
[sunting]
Jalan ke Ampel kehilangan hatimu
[sunting]
Di Kalimas seperti orang kasihan
[sunting]
Masuk di Kebun Binatang menyamakan wajah
[sunting]
Di Jemursari sudah kudatangi
[sunting]
Di Taman Bungkul sehari semalam
[sunting]
Semua karenamu kaki ini melangkah
[sunting]

“Kayaknya aku harus nginep semalam lagi, ada sesuatu yang belum kelar,” kataku sambil garuk-garuk kepala yang sebenarnya nggak gatel.

“Waduh, jadi anak kos-kosan dadakan kamu Tlap. Tapi santai, aku siap nemenin. Sampai detik ini aku masih sabar lho ya sama kelakuanmu,” jawab Munir dengan gaya sok heroik, padahal kaosnya ada bolong kecil di ketiak.

Aku langsung cerita semua, dari awal sampe akhir, kayak orang lagi setor laporan ke bos. Munir dengerin dengan wajah serius, sampai aku mikir, “Ini orang serius dengerin aku, apa lagi mikirin utang warung kemarin?”

“Hmm… tenang Tlap, aku punya ide,” kata Munir sambil berdiri dan meraih tanganku dramatis, persis kayak adegan drama Korea.

Aku sempat mikir, “Jangan-jangan ini cowok mau ngajak aku lari ke pelaminan?”

Ternyata nggak. Dia nyeret aku dari kasur tanpa ampun. “Ayo ikut aku!”

Kami langsung ganti baju. Aku sih santai, tapi Munir? Buset, bajunya ganti dua kali cuma buat milih mana yang “lebih keren”. Padahal mau ke resepsionis doang.

Aku ngikutin Munir turun ke bawah, ke meja resepsionis. Aku mulai curiga.

“Waduh, jangan-jangan nih orang mau ngajak aku ke kebun binatang lagi buat cari hiburan. Kemarin aja aku udah dipaksa foto bareng monyet.”

Sampai di meja, Munir langsung nanya dengan wajah tegas bak detektif film India,

“Mbak, saya mau tahu nama penghuni kamar C-027.”

Petugas hotel ngetik bentar, lalu nyeletuk dengan suara datar,

“NANA JUMINAH.”

Aku langsung lemes, rasanya lututku berubah jadi agar-agar kelapa muda.

Aku melotot ke arah Munir, sementara dia malah senyum-senyum kayak orang abis beli es teh gratis.

“Kamu sekarang ngerti kan, harus ngapain?” katanya sambil senyum nyebelin.

“NGGAK TAHU, BEGO!” jawabku, saking paniknya.

Munir cuma ketawa kecil sambil garuk jidat. “Yah, kupikir kamu udah bisa baca kode alam.”

“Kode apaan, Nir, ini bukan film horor. Aku cuma nemu nama cewek, bukan pintu ke dunia lain!”

Akhirnya kami balik ke kamar. Munir kasih aku wejangan ala-ala guru spiritual. Katanya aku harus siap-siap jadi aktor sinetron, pura-pura cool tapi sebenarnya dalemnya panik.

Besoknya Munir harus balik kerja di Bubutan. Sebelum cabut, dia sempet kasih pesan dengan gaya kayak guru silat.

“Ingat pesanku, Tlap!”

Aku berdiri tegak sambil hormat, “Siap, bosku!”

Munir langsung cabut naik motor bututnya yang knalpotnya berisik kayak toa masjid subuhan.

Aku pun mandi, dandan, dan ngaca sambil latihan dialog. Hari ini aku harus jadi aktor sinetron, siap ketemu Nini, yang ternyata Nana, cewek pujaan hatiku sejak 20 tahun lalu.

Kalau gagal? Yah… paling banter aku balik jadi figuran kehidupan orang lain lagi.